detikhealth

Begini Rasanya Diterapi dengan Setrum Listrik 220 Volt

Firdaus Anwar - detikHealth
Jumat, 05/05/2017 11:41 WIB
Begini Rasanya Diterapi dengan Setrum Listrik 220 VoltFoto: Terapi setrum listrik/Firdaus Anwar
Jakarta, Di Malang, Jawa Timur, heboh kabar seorang kepala sekolah yang menyetrum muridnya dengan alasan terapi. Atas perbuatannya tersebut sang kepala sekolah mendapat kritikan keras dan dicopot dari jabatannya.

Praktik terapi menggunakan aliran listrik ini sudah lama digunakan. Menurut salah satu terapis setrum listrik di Jakarta, Idat, cara kerjanya sederhana yaitu hanya dengan saklar yang dipasangi dua kabel listrik berujung pada dua batang logam sebagai terminalnya. Biasanya terbuat dari timah atau alumunium. Rangkaian ini terhubung dengan listrik rumahan yang memiliki tegangan 220 volt.

Kedua batang logam ditaruh di atas lantai yang dialasi karpet atau bahan yang tidak menghantarkan listrik, lalu ditutup dengan kain basah. Pasien diminta menginjak salah satu kain dan terapis nantinya akan menginjak kain yang lainnya, untuk mengalirkan arus listrik ke tubuh pasien.

Terapis biasanya menggunakan testpen untuk memastikan logam mana yang harus diinjak pasien, dan logam mana yang harus diinjak terapis. Logam yang diinjak oleh terapis adalah logam yang ada arus listriknya, ditandai dengan nyala lampu pada testpen ketika diperiksa.

Baca juga: Sehatkah 'Terapi Listrik' dengan Berbaring di Rel Kereta Api?

Untuk mengatur besarnya arus listrik yang dialirkan ke pasien, terapis akan menyesuaikan permukaan kain yang ia injak. Makin besar arus lsitrik yang mengalir, makin terasa getaran-getaran yang menjalar di tubuh pasien.

"Ya kerasa juga ke saya. Justru karena kerasa saya jadi tahu gedenya (tegangan listrik -red). Kalau enggak kan bahaya," kata Idat ketika ditemui detikHealth di tempat praktiknya di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kamis (4/5/2017).

Menurut Idat pasien yang menjalani terapi setrum biasanya adalah mereka dengan keluhan saraf sebagai contoh pasien stroke ringan. Listrik yang mengalir diklaim akan merangsang simpul saraf yang lumpuh untuk pelan-pelan bisa merespons kembali.

Selain itu diklaim juga bahwa terapi ini bisa bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah di tubuh.

"Biasanya yang stroke ringan tuh bisa kebantu. Tiap orang beda-beda. Kalau stroke yang berat udah bertahun-tahun itu agak susah butuh proses," ungkap Idat.

Ketika detikHealth mencoba terapi ini, mulanya diminta untuk di kursi plastik berhadap-hadapan dengan terapis. Selanjutnya terapis memegang lengan reporter detikHealth sembari perlahan menginjak kain basah yang di bawahnya sudah ditaruh kabel.

Saat duduk, kaki kanan 'pasien' juga diminta untuk menginjak kain basah yang di bawahnya juga terdapat kabel listrik. Reporter detikHealth merasakan sensasi geli di tangan, menjalar di kaki bagian kanan. Terapis memegang tangan, lengan, jari, pundak, daun telinga dan dahi.

Ketika si terapis memegang dahi lalu turun ke pipi dan rahang, pandangan reporter detikHealth seperti berkilat-kilat seperti berkedip berkali-kali dengan cepat. Terapi dilakukan sekitar 20-30 menit. Setelah terapi selesai dilakukan, beberapa bagian tubuh terasa sedikit kebas. 10 Menit kemudian rasa kebas itu hilang sama sekali.

Namun perlu dipahami bahwa ada risiko yang bisa muncul seperti luka bakar apabila terjadi hubungan arus pendek. Karena itu jangan sembarangan juga menggunakan alat ini jika tidak punya pengetahuan yang memadai. Terlebih, efektivitas terapi semacam ini sama sekali belum terbukti secara ilmiah. Belum ada bukti medis yang mendukungnya.

Kalaupun ada yang merasa lebih segar setelah melakukannya, bukan tidak mungkin itu hanya sugesti dari terapisnya.

Bagaimana dengan Anda, pernahkah menjajal terapi setrum seperti ini?

Baca juga: Kasus-kasus Tragis Saat Seseorang Kesetrum (fds/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit