detikhealth

Begini Asal Mula Terjadinya Resistensi Antibiotik

Riris Septi Arimbi - detikHealth
Senin, 08/05/2017 14:33 WIB
Begini Asal Mula Terjadinya Resistensi AntibiotikFoto: thinkstock
Surabaya, Siapa yang tak mengenal manfaat antibiotik? Bahkan saking populernya, antibiotik dipercaya untuk mengobati segala macam penyakit dan dikonsumsi tanpa memperhatikan aturan yang benar.

Inilah yang kemudian memicu resistensi antibiotik. dr Hari Paraton, MD, SpOG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) menjelaskan, secara sederhana, dulunya orang bisa sembuh dari penyakit karena mengonsumsi antibiotik. Tetapi begitu ada resistensi, penyakit tersebut menjadi sulit atau bahkan tidak bisa disembuhkan.

"Bakterinya membandel. Dosisnya dinaikkan, bakterinya memang mati tetapi orangnya juga bisa mati kalau dosisnya dinaikkan terus karena efek samping obat," tegasnya dalam Pfizer Press Circle (PPC) tentang Resistensi Antibiotik di Hotel Wyndham Surabaya beberapa waktu lalu.

Lantas bagaimana asal-muasal terjadinya resistensi antibiotik? Dijelaskan dr Hari, ketika seseorang meminum antibiotik, maka yang mati bukan saja bakteri jahat, tetapi juga bakteri baik, komposisi flora normal dalam tubuh. Meski demikian, yang bersangkutan kemudian sembuh dari sakitnya.

Namun beberapa waktu berikutnya, ia jatuh sakit lagi dan meminum obat yang sama. Hanya saja kali ini ada bakteri yang tetap hidup walau digempur antibiotik, meski jumlahnya tak banyak.

"Bakteri yang resisten ini kalau kita besarkan 100.000 kali, ternyata di dalamnya ada plasmid, di mana antibiotik masuk ke tubuhnya. Molekul di dalamnya saja yang hancur, tetapi bakterinya bertahan, nggak mempan," ujarnya.

Selain itu, bakteri memiliki 'hukum alam' yang memudahkannya berkembang biak dengan pesat. "Kalau sudah penuh (memenuhi suatu area dalam tubuh, red), dia nggak beranak pinak, tapi begitu mati semua, nggak ada yang menghambat dia beranak pinak," terangnya.

Persoalannya, bakteri ini bisa berkembang biak tiap 20 menit sekali, dan semakin kecil ukuran bakterinya, maka mereka akan makin cepat berkembang biak. Ini juga berlaku untuk bakteri resisten.

Akibatnya dalam kurun waktu 2-3 hari saja, tubuh sudah bisa dipenuhi oleh bakteri yang resisten. "Yang belum resisten pun dikawini sehingga materi resistennya berpindah," imbuh dr Hari.

Baca juga: Sembarangan Pakai Antibiotik, Seperti Ini Bahayanya

Menariknya, dr Hari mengatakan, resistensi antibiotik ini sudah diramalkan oleh Alexander Flemming, ilmuwan terkemuka yang berjasa menemukan penisilin di tahun 1928, sebagai cikal bakal antibiotik.

"Waktu beliau dapat penghargaan, pidatonya itu ngenes. Dia bilang suatu saat nanti akan ada bakteri resisten ketika antibiotik mudah didapat di mana-mana. Beliau sudah meramalkannya, dan sekarang ternyata terjadi," urainya.

Kapan tepatnya resistensi antibiotik mulai menjadi perhatian? Ia mengungkapkan, setidaknya tahun 2005 dianggap menjadi tahun kritis bagi keberadaan antibiotik dunia, sebab tak ada antibiotik baru lagi yang ditemukan. Di sisi lain, resistensi terhadap antibiotik tersebut terjadi begitu cepat.

Ambil contoh Ampicillin yang diproduksi di tahun 1961, namun di tahun 1974 telah menghadapi resistensi; atau Vancomycin yang diproduksi di tahun 1955, tapi di tahun 1980-an sudah resisten.

"Jadi kejar-kejaran, maka itu pabrik obat nggak mau lagi bikin. Belum lagi biaya yang dihabiskan untuk memproduksi satu antibiotik yang bisa mencapai Rp 18 triliun. Bahkan ada yang sudah resisten setelah 6 bulan, belum balik modal," paparnya.

Baca juga: Peringkat Baru Bakteri Kebal Obat Paling Berbahaya di Dunia(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit