detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Menyikapi Istri yang Tidak Mau Dekat dengan Keluarga

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 16/05/2017 16:18 WIB
Menyikapi Istri yang Tidak Mau Dekat dengan KeluargaFoto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Saya menikah sudah satu tahun dan punya anak satu. Di dalam hubungan pernikahan, seringkali saya merasa sedih dan terkadang sampai menangis. Ini disebabkan karena sampai sekarang istri saya tidak mau dekat dengan keluarga dari pihak saya.

Sekadar informasi, kami tinggal tidak jauh dari rumah orang tua dan mertua. Setiap kali saya ajak berkunjung ke rumah orang tua saya, selalu jadi perdebatan bahkan pertengkaran. Kalau saya komunikasi dengan orang tua atau saudara saya pun istri saya langsung curiga tak menentu. Padahal kalau ke tempat mertua tidak pernah ada penolakan dari saya.

Pertanyaan saya ialah:
1. Bagaimana mengatasi sifat istri saya tersebut?
2. Bagaimana caranya agar istri mau dekat dengan keluarga, terutama kepada ibu saya?
3. Bagaimana caranya agar tiap kali berdebat masalah ini saya bisa meredam emosi saya? Terimakasih sebelumnya.

J (Laki-laki, 30 tahun)

Jawaban

Dear Bapak J,

Saya tidak memiliki cukup informasi untuk bisa memberikan masukan terhadap pertanyaan-pertanyaan Anda secara spesifik. Secara umum, permasalahan antara menantu dan mertua merupakan masalah klasik yang terjadi di dalam pernikahan. Permasalahan ini tidak jarang mendatangkan ketegangan di dalam hubungan perkawinan ketika masing-masing pasangan mengalami kesulitan untuk memahami hal yang terjadi di balik hubungan yang tidak harmonis dengan mertua.

Kemarahan biasanya terjadi karena ada peristiwa yang membuat seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Pada kasus Anda, bisa saja ini terjadi karena Anda bisa menjalin hubungan dengan mertua, namun tidak sebaliknya. Pasangan Anda, bisa saja merasakan 'ketidakadilan' dengan persepsi yang berbeda. Berdasarkan informasi Anda, yang muncul dari pasangan Anda adalah kecurigaan jika Anda bertemu dengan keluarga Anda. Rasa curiga biasanya muncul karena adanya kekhawatiran akan kehilangan sesuatu. Sesuatu tersebut bisa berbagai macam bentuknya, seperti kehilangan kasih sayang, kehilangan kenyamanan, kehilangan kontrol, dsb. Sejauh yang Anda pahami, apa yang melatarbelakangi kecurigaan istri?

Cara yang paling sederhana agar tidak terpancing emosi sebenarnya adalah dengan memahami diri sendiri terlebih dahulu. Apa yang membuat hubungan baik dengan keluarga Anda menjadi suatu keharusan? Apa yang akan Anda dapatkan? Apa yang hilang jika hal tersebut tidak terwujud? Biasanya perdebatan terjadi ketika masing-masing pihak sama-sama memaksakan sudut pandangan kepada pasangan lain. Istilah umumnya, 'pokoknya yang terjadi / dilakukan harus sesuai dengan keinginan saya'. Situasi tersebut tentu saja membuat pertengkaran akan semakin meruncing ketika kedua belah pihak memaksakan keinginannya terhadap orang lain.

Idealnya, pemahaman terhadap diri sendiri dilakukan bersamaan oleh kedua belah pihak. Kabar baiknya, satu orang yang mau melakukan biasanya sudah dapat memunculkan perubahan ke arah yang lebih baik. Jika sudah dapat memahami diri sendiri, langkah selanjutnya adalah belajar untuk memahami pasangan terkait masalah tersebut. Hindari untuk berbicara dari versi diri sendiri tentang apa yang terjadi, karena biasanya yang keluar adalah ego. Gunakan teknik bertanya untuk memahami pasangan lebih lanjut.

Perdebatan dan pertengkaran tentang mertua dalam hubungan perkawinan biasanya tidak serta merta muncul begitu saja. Kapan masalah seperti ini mulai muncul? Sejak sebelum menikah? Setelah menikah? Setelah memiliki anak? Setiap tahapan dalam hubungan perkawinan Anda bisa menjadi latar belakang ketegangan yang yang terjadi antara pasangan dengan mertua. Anda dapat memulai mencari tahu sudut pandang pasangan dengan memahami awal mula ketegangan yang terjadi dari sini.

Tidak semua orang bisa bercerita atau mengemukakan apa yang ia rasakan. Terkadang bukan ia tidak mau, tetapi karena ia juga tidak mengerti. Siapkan diri Anda untuk jawaban-jawaban dari pasangan yang bisa jadi tidak masuk akal untuk Anda. Jika Anda berdua tidak juga menemui titik temu, tidak ada salahnya Anda berdua mencari pihak ketiga yang dapat menjembatani Anda berdua.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit