Kata Pakar Soal Dampak Psikologis Pernikahan Kilat Ala Seleb

Kata Pakar Soal Dampak Psikologis Pernikahan Kilat Ala Seleb

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 06 Jul 2017 20:15 WIB
Kata Pakar Soal Dampak Psikologis Pernikahan Kilat Ala Seleb
Membangun sebuah pernikahan idaman memang tak semudah apa yang dibayangkan. Tak cocok sedikit langsung cerai. Bagaimana tanggapan psikolog? Foto: Ismail (detikhot)
Jakarta - Membangun sebuah pernikahan idaman memang tak semudah apa yang dibayangkan. Meski selalu terlihat bahagia dan mesra, namun tak semua pasangan mampu bertahan.

Seperti Lucky Hakim, dikutip dari detikHot, ia menggugat cerai istrinya, Tiara Dewi yang baru ia nikahi 7 bulan lalu. Kabarnya cara pintas ini dilakukan lantaran mereka sudah merasa tidak ada kecocokan lagi.

Sebelumnya, ada juga beberapa pasangan selebritis yang menikah namun memilih mengakhiri hubungan rumah tangganya, di antaranya Muzdhalifah dengan Khairil Anwar, serta Aming dan Evelin. Mengapa ya ada orang yang mudah memutuskan untuk bercerai?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut psikolog dari Tiga Generasi, Sri Juwita Kusumawardhani MPsi atau yang akrab disapa Wita, ada beberapa hal yang mendasari hal ini, yaitu alasan menikah yang salah yang dilatarbelakangi rasa kesepian, tuntutan dari orang tua atau pasangan, lari dari masa lalu, ingin dibantu secara finansial, atau bisa juga mindset dalam memandang pernikahan.

Baca juga: Pernah Cerai atau Belum Menikah Tingkatkan Risiko Kematian Pasca Stroke

"Ada orang-orang yang memiliki prinsip bahwa pernikahan hanya satu kali seumur hidup dan bercerai bukanlah suatu pilihan," kata Wita kepada detikHealth.

Lebih lanjut Wita katakan, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa perceraian adalah jalan karena sudah tak ingin lagi menjalani pernikahan yang tidak sehat seperti adanya kekerasan atau perselingkuhan.

Ada pula orang-orang yang menganggap pernikahan memang bukanlah sesuatu yang sakral sehingga merasa tidak cocok sedikit langsung ingin berpisah. Padahal bagi Wita, tidak ada yang namanya kecocokan 100 persen, justru di situlah seninya menikah, bagaimana bertahan dalam ketidakcocokan.

"Carilah hal yang positif dari pasangan dan pernikahan agar dapat merasa bersyukur, bukan terfokus pada perbedaan dan kekurangan pasangan," tutur Wita.

Baca juga: Ortu Cerai Tidak Baik-baik, Anak Lebih Rentan Alami Gangguan Kesehatan (hrn/up)

Berita Terkait