detikhealth

Kecil-kecil Berani Bullying, Ini Pendorongnya Menurut Pakar

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 20/07/2017 17:37 WIB
Kecil-kecil Berani Bullying, Ini Pendorongnya Menurut PakarMasih SD tetapi sudah berani melakukan bullying. Menurut pakar, ini ada pendorongnya. (Foto: Capture dari video bully di Thamrin City yang viral)
Jakarta, Miris rasanya melihat anak-anak SD di Jakarta sudah bisa melakukan bullying atau perundungan pada temannya sendiri. Menurut psikolog, ada beberapa faktor yang bisa mendorong anak untuk melakukannya.

Dikatakan Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi., Psi, pada dasarnya, di usia sekolah dasar, anak mulai mencari identitas. Salah satunya dengan berteman atau kumpul-kumpul bersama kelompok tertentu.

"Biasanya di usia segitu mereka memang sudah sukanya kumpul dengan kelompok tertentu yang dianggap sama dengan mereka," terangnya saat berbincang dengan detikHealth, Kamis (20/7/2017).

Hanya saja, untuk bisa masuk ke dalam kelompok tersebut, terkadang seluruh anggota menetapkan persyaratan tertentu. Tak jarang persyaratan ini terdengar aneh, semisal harus memakai baju yang sama atau identitas lainnya. "Kalau tidak sama, tidak dianggap di dalam kelompok," lanjutnya.

Baca juga: Dari Film Hingga Suasana Politik Indonesia Disebut Bisa Picu Bullying

Persoalan diperkeruh dengan pola asuh yang tidak mengarahkan anak untuk melakukan pertemanan secara positif. "Kalau diarahkan, anak tahu kalau beda-beda itu enggak apa-apa. Tapi kalau tidak diarahkan, anak berpikir yang tidak sesuai dengan kriteria dianggap beda dan ini seakan-akan 'menyerang' kelompok mereka," paparnya.

Psikolog yang akrab disapa Nina itu menambahkan orang tua sendiri kerap memberikan contoh sikap yang buruk, bahkan meski hanya berupa celetukan atau komentar iseng.

"Kadang kan omongan orang tua sering kasar ya, atau lingkungan pergaulan dan tetangga-tetangga sering menyampaikan kayak gitu. Orang tua juga kalau ada yang salah, langsung menghukum, kemudian menghukumnya juga berlebihan. Itu kan juga terekam oleh anak," jelas psikolog yang berpraktik di Klinik Terpadu Universitas Indonesia dan TigaGenerasi tersebut.

Baca juga: Marak Kasus Bullying, Dokter Jiwa: Harus Jadi Perhatian Serius

Nina menambahkan, ini pun terlihat pada pembicaraan anak, bahkan hingga ke guyonan yang dilontarkannya di tengah teman-temannya. "Becandaan anak sekarang juga tidak terkontrol, seperti menggunakan kata-kata bunuh itu biasa. Di luar itu, media seperti TV itu juga berperan dengan menyiarkan hal-hal yang tidak terlalu positif, misalnya lewat sinetron," imbuhnya.

Setelah terekam di otak mereka, Nina menyebut hal-hal semacam ini kemudian menjadi referensi perilaku bagi anak.

"Jadi karena referensinya kayak gitu, kalau tidak diimbangi dengan diskusi dan pengarahan, itu yang sebenarnya bisa bikin anak menjadi terpikir untuk melakukan bullying terhadap orang lain," pungkasnya.

Baca juga: Mungkinkah Seorang Pelaku Bullying Menyesal?(lll/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit