detikhealth

Doctor's Life

dr Ludhang Pradipta, Dokter dan Peneliti yang Doyan Berita Politik

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 23/07/2017 11:10 WIB
dr Ludhang Pradipta, Dokter dan Peneliti yang Doyan Berita PolitikSebagai ahli mikrobiologi dr Lulung sering terlibat dalam riset bakteri dan virus. (Foto: Istimewa)
Jakarta, Usianya masih sangat muda, namun sepak terjangnya di bidang mikrobiologi klinis tak bisa diremehkan. Bahkan tak hanya sibuk di rumah sakit, ia pun aktif mempublikasikan sejumlah hasil penelitian yang dilakukannya.

Tetapi sebenarnya apa itu mikrobiologi klinis? Pertanyaan ini langsung terlontar begitu bertemu dengan sosok dr Ludhang Pradipta, seorang ahli mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

dr Ludhang mengakui bidangnya ini masih belum dikenal publik secara luas, dan juga belum banyak diminati. Ini terlihat dari sedikitnya jumlah dokter dengan spesialisasi mikrobiologi klinik di Indonesia.

"Contohnya aja, se-Papua itu belum ada, NTT belum ada, NTB baru satu, Kalimantan baru dua, semua berpusat di Jawa dan Sumatera," ungkapnya.

"Selain itu mikrobiologi klinis itu kerjanya di balik layar. Seringkali pemeriksaan CMV (Cytomegalovirus) misalkan, saya nggak ketemu pasiennya tapi sampel itu dikirim oleh seorang ahli kandungan atau spesialis anak. Jadi jarang berinteraksi langsung," tambahnya.

Padahal, lanjut bapak dua anak ini, kompetensi dan peranannya di dunia kesehatan tak dapat diremehkan.

"Indonesia ini negara tropis sehingga penyakit infeksi akan senantiasa tinggi kasusnya. Sedangkan mikrobiologi memang fokusnya mempelajari mikroorganisme yang umumnya menjadi penyebab penyakit infeksi," katanya kepada detikHealth saat ditemui beberapa waktu lalu.

Alasan ini pulalah yang mendorong pria kelahiran Yogyakarta ini untuk mengambil spesialisasi mikrobiologi klinis setelah mengantongi gelar dokter muda.

"Kompetensinya juga tidak hanya meliputi penyakit infeksi atau membicarakan virus, jamur, bakteri, tetapi sampai ke pencegahan. Yang ditangani itu banyak, mulai dari SARS, HIV, hepatitis, TBC, leptospirosis, lepra, hampir semuanya," lanjutnya.

Ia lantas menjelaskan perbedaan antara dirinya dengan dokter lain, semisal dokter spesialis bedah. Bilamana dokter bedah ini akan melakukan tindakan operasi, maka ia akan berkonsultasi dengan dokter mikrobiologi klinis untuk menentukan antibiotik apa yang boleh dipergunakan, baik sebelum maupun sesudah operasi.

"Bahkan kalau operasinya besar dengan risiko tinggi seperti memisahkan bayi dempet atau transplantasi organ hepar, itu ruang operasinya harus bersih, pisaunya harus steril itu dokter spesialis mikrobiologi klinis yang punya care kesitu," urainya.

Baca juga: Prof Tjandra Yoga Tak Butuh Vitamin Meski Super Sibuk

Namun di sisi lain, sulung dari empat bersaudara ini mengakui ada tantangan yang dihadapi dunia kesehatan di saat melibatkan spesialis mikrobiologi klinis. Utamanya pada perangkat yang dibutuhkan spesialisasi ini rata-rata tidak murah.

Salah satu isu yang ingin disorotinya saat ini adalah rasionalitas penggunaan resep antibiotik di masyarakat. Menurut hematnya, bila seorang pasien sudah mendapatkan diagnosis tegak sejak awal terkait penyakitnya, apakah itu infeksi atau non-infeksi, maka pemberian antibiotiknya juga takkan berlebihan.

Hal ini juga akan berpengaruh pada pengaturan anggaran belanja dari BPJS. Jika antibiotiknya diberikan dengan tepat, berdasarkan fakta, yaitu lewat kultur atau pemeriksaan mikrobiologi klinis, maka belanja antibiotiknya lebih rasional dan tidak menghabiskan banyak biaya.

"Sebenarnya rumah sakit diuntungkan dengan adanya mikrobiologi klinis karena sejak masuk pasien sudah ditentukan apa mikroorganisme yang ada dalam tubuhnya. Kalau tidak ada ya sudah tidak dikasih," jelasnya.

Sisanya bisa dipergunakan untuk keperluan lain, semisal untuk menangani pasien yang lebih kronis atau menambah tempat tidur pasien, fasilitas di rumah sakit seperti AC.

"Kebijakan seperti ini juga mencegah infeksi nosokomial akibat pasien berlama-lama dirawat di RS. Dirawatnya jadi lebih singkat. Kalau dirawatnya tambah lama kan merepotkan karena pasien yang lain juga butuh tempat tidurnya," tambahnya.

Baca juga: dr Rudy Kurniawan dan Antusiasme Meneliti Penyakit Tropis

Namun di sela-sela kesibukannya sebagai dokter sekaligus peneliti, nyatanya dr Ludhang memiliki hobi unik. Pria yang juga mengajar di Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tersebut hobi membaca dan mengikuti berita politik.

Menurutnya, berita politik lebih menarik daripada berita kesehatan karena politik bersifat dinamis, sedangkan apa yang digelutinya bersifat pasti.

"Ganti suasana, biar nggak jenuh juga," tuturnya sembari tertawa.

Baginya, dokter yang mengerti perpolitikan juga penting, apalagi jika suatu saat nanti diminta untuk menduduki jabatan tertentu dalam pemerintahan mengingat makin banyak dokter yang terpilih sebagai walikota, bupati ataupun gubernur.

"Bargainingnya jadi tinggi karena ada care lebih di indeks pembangunan manusianya. Harapannya saat nanti dia diberi amanah, dia bisa menganggarkan anggaran daerahnya itu untuk kebutuhan kesehatan di samping ekonomi atau pendidikan," pungkasnya.
Sebagai ahli mikrobiologi, dr Lulung uniknya menyukai dunia politik.Sebagai ahli mikrobiologi, dr Lulung uniknya menyukai dunia politik. Foto: Rahma Lillahi Sativa


BIODATA

Nama lengkap: dr Raden Ludhang Pradipta Rizki, M.Biotech, SpMK

Tempat tanggal lahir: Yogyakarta, 24 Agustus

Pendidikan:
- Program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (2001-2007)
- Program studi Bioteknologi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (2008-2010)
- Progam studi Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (2010-2013)

Praktik:
- RSUP Dr Sardjito Yogyakarta
- RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten
(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit