Ditambah lagi tahun ini gadis yang menginjak usia 24 tahun itu disibukkan dengan kegiatan co-ass di sebuah rumah sakit di Jawa Tengah.
Namun saat itulah ia merasakan nyeri kepalanya makin memburuk, terutama saat ia sedang belajar. "Awalnya sefalgi (nyeri kepala, red) sampai muntah dan keluar cairan LCS (liquid cerebrospinal atau cairan otak)," kisahnya saat ditemui detikHealth baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Matanya itu ada penurunan lensa dari minus 3 ke 2,75," timpal sang ayah.
DA justru tidak mengetahui hasil CT scannya. Yang tahu adalah dosen pembimbingnya yang juga seorang dokter spesialis saraf. Dokter ini pulalah yang memberikan rekomendasi kepada dr Irwan.
DA mulai bisa duduk pasca operasi tumor otak. (Foto: Rahma Lillahi Sativa/detikHealth) |
Baca juga: Begini Tantangan Tim Dokter Surabaya Saat 'Utak-Atik' Pasien Tumor Otak
DA akhirnya diminta berangkat ke Surabaya pada hari Minggu (9/7). Ia kemudian diajak berkonsultasi dengan dokter anestesi dan diperkenalkan dengan seluruh tim yang akan membedahnya pada Selasa (11/7).
Sesampainya di rumah sakit, DA juga diminta melakukan scan MRI lagi untuk memastikan kontras antara otak dan tumornya.
Ditemui dalam kesempatan terpisah, dr Irwan Barlian, SpBS (K) mengaku hanya berkonsultasi dengan DA sebanyak 2 kali sebelum akhirnya sepakat untuk mengangkat tumor di otaknya.
"Dia sudah aware, kan mahasiswa kedokteran jadi saya jelasinnya gak susah. Ketika ditawari, dia juga pasrah. Untungnya tegar anaknya jadi dia juga gak stres," imbuh dr Irwan.
Terkait tumornya, DA sebenarnya sudah menaruh curiga pada nyeri kepala yang dialaminya. Ia juga menduga tumor ini berkembang sejak lama, namun baru terasa ketika kemudian mulai menggeser otaknya, apalagi ia jadi gampang lupa yang membuka kemungkinan bila tumor itu telah mengenai bagian frontal otaknya.
Ditambahkan dr Irwan, sakit kepala karena tumor biasanya tidak spesifik. Namun kekhasannya terletak pada sifatnya yang kronik progresif, artinya nyeri kepalanya makin lama makin berat atau nyeri kepala disertai gejala lain seperti mata kabur, pendengaran menurun, dan kelumpuhan.
Baca juga: Di Surabaya, Otak Mahasiswi Ini 'Diutak-atik' dalam Keadaan Sadar (lll/up)












































DA mulai bisa duduk pasca operasi tumor otak. (Foto: Rahma Lillahi Sativa/detikHealth)