detikhealth

Doctor's Life

dr Irwan, Pilih Jadi Ahli Angkat Tumor Otak karena Tantangan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 30/07/2017 09:35 WIB
dr Irwan, Pilih Jadi Ahli Angkat Tumor Otak karena TantanganSejak awal mengambil bedah saraf, yang dicari dokter muda ini adalah kasus-kasus yang menantang. (Foto: Lila/detikHealth)
Jakarta, Menjadi seorang dokter ahli bedah saraf adalah pekerjaan menantang bagi dr Irwan Barlian. Tetapi justru itulah yang ia cari.

Keinginannya untuk mengambil spesialis bedah saraf dimulai saat dirinya menjalani program co-ass di sebuah rumah sakit di Purwokerto.

"Saya lihat kasus bedah saraf itu banyaknya emergency, kasus-kasus gawat kayak kecelakaan, perdarahan otak, stroke, justru tantangannya disitu," kisahnya kepada detikHealth saat ditemui baru-baru ini.

Namun sebagai seorang dokter bedah saraf, ayah 3 anak ini mau tak mau dihadapkan pada persoalan kurang tidur. Ia mengaku dalam sehari hanya bisa tidur 3-5 jam saja.

"Makanya kalau ada waktu luang ya saya tidur. Karena dokter bedah saraf itu kan operasinya panjang-panjang, apalagi saya konsultannya di tumor. Sekali operasi bisa 8, 10, kadang 12 jam sampai 24 jam," paparnya.

Di sisi lain, dr Irwan mengatakan ia sengaja mengambil spesialisasi tumor otak karena masih minimnya ahli pengangkatan tumor otak di Indonesia.

"Di Indonesia mungkin nggak sampai 10-20 orang. Kedua, kasusnya banyak dan belum tertangani dengan maksimal," tandasnya.

Menariknya, dr Irwan mengatakan, meski kurang tidur, ia tidak khawatir jika ini akan mempengaruhi performanya saat melakukan tindakan bedah. "Selama operasi itu malah nggak mungkin ngantuk karena liat darah dan adrenalinnya pasti keluar," tegasnya.

Dalam sehari, anak ke-4 dari 5 bersaudara ini biasa melakukan 1-2 kali operasi, apalagi ia berpraktik di rumah sakit rujukan sehingga hampir setiap hari ada tindakan operasi yang digelar.

"Cuman di Indonesia itu bedah sarafnya baru 300 orang. Tapi di sisi lain, fasilitas di daerah belum memenuhi bahkan banyak yang ndak ada fasilitasnya. Belum lagi alat-alatnya mahal jadi masih banyak dilema," ungkapnya.

Baca juga: dr Ludhang Pradipta, Dokter dan Peneliti yang Doyan Berita Politik

Kendala lain yang dihadapi dr Irwan adalah kebanyakan kasus tumor yang ditangani merupakan tumor berukuran besar, artinya sudah dalam stadium lanjut.

"Waktu saya belajar di luar negeri, pasiennya tumornya kecil-kecil jadi stadium-stadium dini mereka sudah terdeteksi. Ini bisa dioperasi lebih cepat, otomatis outcome-nya bisa lebih bagus," ungkapnya.

Diakui dr Irwan, ini kembali ke tingkat kesadaran masyarakat Indonesia yang memang belum setinggi di luar negeri. Ia mengambil contoh bila orang Indonesia mengeluhkan sakit kepala. Sekali nyeri, orang Indonesia lebih memilih ke apotek dan mengobati sendiri sakitnya.

"Di luar negeri nggak, kalau mereka nyeri kepala, seminggu diobati nggak sembuh langsung scan. Padahal di sini orangnya minum obat sendiri, terus saja, padahal selama itu pula tumornya akan tumbuh kan. Akhirnya datang kesini tumornya besar-besar, bahkan kadang pasien datang itu kondisi sudah buta, sudah ndak sadar baru mau operasi," urainya.

Padahal bila sudah terlanjur terjadi komplikasi seperti kebutaan atau kelumpuhan, lanjut dr Irwan, tumor memang masih bisa terangkat, akan tetapi kebutaan dan kelumpuhannya sudah tidak bisa tertangani lagi.

"Di kita itu juga banyak informasi-informasi yang nggak betul seperti pasien tumor itu jangan dioperasi nanti lumpuh, jangan dioperasi nanti mati, itu kan belum tentu sehingga pasien ndak mau operasi karena ditakut-takuti," tambahnya.

Meski demikian, dr Irwan memastikan walaupun banyak kendala yang dihadapi, kemampuan dokter bedah saraf di Indonesia tidak berbeda dengan dokter bedah saraf di negara yang lebih maju.

"Walaupun kesejahteraannya belum tentu, pasiennya banyak dan lebih sulit, tetapi teknik (operasinya, red) sama. Kemampuannya sama. Justru di sini lebih menarik sebetulnya," tuturnya.

Baca juga: dr Alex dan Cita-citanya Bergabung di Doctors Without Borders

BIODATA

Nama lengkap: dr Irwan Barlian Immadoel Haq, SpBS (K)

Tempat tanggal lahir: Sukabumi, 10 November 1981

Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (1999-2006)
- Pendidikan Spesialis Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (2008-2013)
- Skull Base Fellowship Program, Osaka City University, Osaka Jepang (2014)
- Glioma Fellowship Program, Tokyo Women's Medical University, Tokyo Jepang (2016)
- Gamma Knife Fellowship Program, Tokyo Women's Medical University, Tokyo Jepang (2016)

Praktik:
- RSUD Dr Soetomo/Universitas Airlangga
- RSI Jemursari(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit