detikhealth

Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi

Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/

Menghadapi Suami yang Sangat Pengatur dan Sering Berkata Kasar

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 18/08/2017 17:03 WIB
Menghadapi Suami yang Sangat Pengatur dan Sering Berkata KasarIlustrasi wanita menghadapi suami yang suka ngatur dan berkata kasar/Foto: thinkstock
Jakarta, Mbak Wulan, saya sudah menikah selama tiga tahun dan sudah memiliki bayi. Sejak pacaran, suami saya memang sangat mengatur saya dan kadang berkata yang menyakitkan hati.

Saya berharap ketika menikah perilaku ini berubah, namun nyatanya tidak. Malah, suami semakin controlling dan lebih sering berkata kasar. Yang membingungkan, suami saya akan bersikap normal lagi tidak lama setelah memaki saya. Saya sudah berkonsultasi dengan keluarga suami dan mereka sudah pernah memberi nasihat kepada suami saya, tapi perilaku kasar tersebut masih terjadi. Hingga ibu saya menyaksikan sendiri dan sekarang memberi ultimatum kepada saya bahwa jika suami tidak berubah, maka lebih baik saya meninggalkan dia.

Suami saya sudah dua tahun terakhir menjadi pengangguran dan mungkin perilaku tersebut didorong oleh kondisi ini. Saya sudah mencoba memotivasi dia untuk mencari peluang usaha, namun, sampai saat ini belum ada pergerakan dari suami saya, sampai saat ini baru sebatas rencana tanpa eksekusi. Selama ini, saya jadi tulang punggung keluarga tapi juga dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga. Jujur saya menjadi tertekan dan lelah sekali menjalaninya. Mohon bantuannya untuk memberikan saya masukan apa yang harus saya lakukan.

D (Perempuan, 28 tahun)

Jawaban

Dear Ibu D,

Menjalani peran tulang punggung keluarga dan mengurus rumah tangga memang bukan pekerjaan mudah. Wajar kok, kalau Anda merasa lelah. Hal yang perlu diwaspadai justru ketika Anda terus menerus merasa baik-baik saja padahal sebenarnya ada rasa tertekan dan kelelahan yang tidak dirasakan.

Hal yang Anda lakukan untuk memahami apa yang membuat suami berperilaku kasar sudah menjadi langkah yang tepat. Kondisi pengangguran memang bisa membuat seseorang frustrasi dan menampilkan sikap yang berbeda. Hanya saja, jika perilaku ini sudah muncul sejak masa pacaran, berarti kondisi pengangguran bukanlah pemicunya, melainkan hanya faktor yang memperkuat apa yang sudah ada sebelumnya. Cari tahu awal mula perilaku seperti ini muncul, bisa saja suami memiliki trauma di masa lalu yang membuat ia merasa tidak memiliki kontrol untuk mengelola emosinya.

Memahami dan menerima perlakuan pasangan tentu saja merupakan dua hal yang berbeda. Bagaimanapun kondisi suami, Anda tetap pasangannya yang juga berhak untuk dihargai dan dihormati. Saya belum mendapatkan gambaran bagaimana Anda merespons terhadap pasangan saat ia mengontrol dan berkata kasar pada Anda. Terkadang perlu ada sikap tegas juga dengan mengkomunikasikan perilaku seperti apa yang bisa membuat Anda merasa dihargai oleh pasangan.

Perilaku mengontrol dan berkata kasar sebenarnya sudah dapat dikategorikan sebagai perilaku kekerasan dalam sebuah hubungan. Biasanya ada siklus kekerasan yang berulang. Fase pertama, membangun ketegangan. Pasangan merasa punya kontrol, mudah marah, mengkritik, dan sebagainya. Kemudian, pelaku akan mulai melakukan tindakan kekerasan yang bisa dalam bentuk kekerasan psikis (biasanya dalam bentuk verbal), kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun finansial. Fase yang terakhir adalah fase bulan madu dalam artian pasangan akan meminta maaf atau berjanji tidak akan mengulang perbuatan kekerasan. Pada kasus yang tidak terlalu ekstrim, fase bulan madu ini bisa juga terjadi ketika pasangan bersikap biasa saja seakan tidak ada kejadian yang terjadi.

Waspadai jika pola ini terus berulang, jika tidak ditangani sampai tuntas, ada potensi kekerasan ini bertambah intensitasnya menjadi kekerasan yang lebih besar. Barangkali ini juga yang menjadi kekhawatiran orang tua Anda. Apakah pasangan bisa berubah? Kalau ia mau berubah, dan mendapatkan bantuan dari lingkungannya, bisa saja ia berubah. Perceraian tidak selalu menjadi satu-satunya solusi, namun memang bisa menjadi alternatif jika kekerasan yang terjadi semakin intens dan tidak ada keinginan dari pasangan untuk berubah.

Tiap kali Anda mendengar kata-kata suami berkata kasar, selalu ingatkan diri Anda bahwa tidak semua yang suami katakan itu benar dan menggambarkan diri Anda. Lakukan teknik relaksasi seperti menarik dan menghembuskan napas panjang dan tenang berulang kali sampai terasa nyaman kembali. Minta bantuan orang terdekat ketika Anda merasa tertekan dan tidak berdaya. Jika ini semua belum membuat Anda bisa keluar dari siklus kekerasan, berkonsultasi tatap muka kepada psikolog klinis dewasa dapat menjadi alternatif yang dapat dilakukan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/(hrn/fds)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit