detikhealth

Saran Dokter Agar Tak Jadi Korban Perawatan Gigi Abal-abal

Erika Kurnia - detikHealth
Kamis, 07/09/2017 07:38 WIB
Saran Dokter Agar Tak Jadi Korban Perawatan Gigi Abal-abalPerawatan gigi yang abal-abal bisa berdampak buruk bagi kesehatan di masa mendatang. Foto: thinkstock
Jakarta, Untuk membuat senyum semakin cantik, banyak orang mencoba melakukan perawatan gigi untuk merapikan atau memutihkan gigi. Namun, tak banyak masyarakat yang paham di mana dan bagaimana mereka bisa mendapatkan hal tersebut.

Tren pemasangan behel atau pemutihan gigi dengan prosedur veneer atau bleaching, misalnya, kini banyak dipraktikkan oleh tukang gigi ilegal. Bahkan ada juga dokter gigi yang mencoba peruntungan dengan menyediakan jasa di luar kompetensinya. Padahal dampak dari perawatan gigi yang abal-abal tidak main-main.

Hal ini seperti banyak kasus dokter gigi yang ditunjukkan oleh akun Instagram @korbantukanggigi. Kepada detikHealth, drg Rifqie Al Haris yang merupakan salah satu admin akun dagelan dan edukasi tersebut membagikan tips bagaimana caranya menghindari perawatan gigi abal-abal.

1. Hindari termakan promosi di internet
Di zaman serba internet seperti saat ini, terlebih dengan mudahnya menyebar informasi di media sosial, promosi jasa perawatan gigi yang abal-abal mudah dipasarkan oleh orang yang bertanggung jawab.

"Cari dan pilahlah informasi sebenar-benarnya. Kedua jangan andlkan mesin pencari Google atau media sosial. Yang paling benar adalah datang langsung ke dokter gigi," pesan Rifqie.

Menurutnya, media sosial saat ini sering dijadikan "lapak" bagi para tukang gigi ilegal untuk mempromosikan jasa mereka. "Bahkan tanpa perlu memiliki tempat praktik, mereka bisa mendatangi langsung pasien mereka," katanya.

Baca juga: Pasang Gigi Palsu di Tukang Gigi Seperti Memasang Ranjau dalam Mulut

Ditambahkan Rifqie, profesi seperti dokter gigi juga tidak boleh memposting kasus yang mereka tangani dengan tujuan membandingkan atau mempromosikan hasil kerja mereka dengan yang lain. "Secara etis, nggak boleh itu. Dalam aturan permenkes juga ada aturan mengenai batas promosi. Masyarakat juga jangan mudah termakan karena setiap orang kasusnya bisa berbeda-beda."

2. Memastikan dokter gigi memiliki izin praktik
"Sekarang ini banyak tukang gigi abal-abal yang menawarkan harga sama atau lebih tinggi untuk perawatan gigi, bahkan punya semacam klinik dan pakai baju dokter. Kalau benar itu hanya untuk mengelabuhi, jelas itu menyalahi hukum. Untuk memastikannya kita bisa lihat gelar atau izin praktiknya di portal Konsil Kedokteran Indonesia," sarannya.

3. Hanya pasang behel di dokter spesialis ortodonti
Banyak orang menghindari memasang behel di spesialis karena dianggap lebih mahal. Tapi, menurut Rifqie, pemasangan behel yang benar secara medis hanya bisa dilakukan oleh dokter gigi spesialis ortodonti.

"Dokter gigi umum memang belajar ortodontik, tapi hanya terbatas dan alat-alatnya beda. Mungkin dokter umum mampu memasang behel dan mereka kursus untuk mendapat keahlian tersebut, tapi itu biasanya untuk kasus yang sederhana saja. Bagaimana pun yang terbaik tetap ke spesialis ortodonti," ujarnya.

4. Jangan termakan diskon atau harga murah
"Perawatan gigi untuk kepentingan estetis itu memang mahal. Jadi kalau kita bicara tentang gaya, baiknya jangan yang murahan. Kalau ada yang mempromosikan jasa pemasangan behel, veneer, atau bleaching dengan harga murah, dipikir-pikir dulu saja. Kalau memang gigi dan mulut kita baik-baik saja, sebaiknya jangan dimodif," pungkasnya.

Baca juga: Ini yang Harus Dipersiapkan Sebelum Pasang Gigi Palsu(ajg/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit