detikhealth

Menkes: Obat PCC Sebabkan Gangguan Kepribadian dan Disorientasi

Erika Kurnia - detikHealth
Kamis, 14/09/2017 19:36 WIB
Menkes: Obat PCC Sebabkan Gangguan Kepribadian dan DisorientasiMenteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, SpM(K) mengomentari kejadian penyalahgunaan obat PCC di Kendari, baru-baru ini. Foto: Siti Harlina/detikcdom
Jakarta, Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, SpM(K) mengomentari kejadian penyalahgunaan obat PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol) di Kendari, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini. Dikatakan Menkes, obat PCC dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan.

Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara mengatakan saat ini sudah teradapat 60 korban penyalahgunaan obat PCC yang dirawat di tiga RS. Kadinkes Sulawesi Tenggara, dr Asrum Tombili, mengatakan bahwa korban dirawat di RSJ Kendari (46 orang), RS Kota Kendari (9 orang), dan RS Provinsi Bahteramas (5 orang).

Sebanyak 32 korban mendapat perawatan rawat jalan, dengan 25 korban rawat inap dan 3 orang lainnya dirujuk ke RS Jiwa Kendari.

Baca juga: Dokter Saraf: Obat PCC Dipakai untuk Pelemasan Otot dan Sakit Pinggang

Salah seorang siswa kelas 6 Sekolah Dasar dilaporkan meninggal usai mengalami halusinasi. Dikabarkan pula Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kendari paling banyak menangani korban.

"Pasien yang dirawat berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi, sebagian datang dalam kondisi delirium setelah menggunakan obat berbentuk tablet berwarna putih bertulisan PCC dengan kandungan obat belum diketahui," terang Menkes dalam siaran pers yang diterima detikHealth, Kamis (14/9/2017).

Menkes berharap agar Badan Narkotika Nasional (BNN) segera mengidentifikasi kandungan obat tersebut. Ia juga berharap agar BNN menetapkan status zat yang terkandung dalam kelompok adiktif.

"Obat-obatan terlarang dan zat adiktif sangat membahayakan dan merugikan remaja sebagai asset masa depan bangsa. Maka, jika ini terbukti zat psikotropika, Kemenkes mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap NAPZA yang mengganggu kesehatan. Kami juga berharap agar BNN menginvestigasi secepatnya," tegas Menkes.

Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi. Regulasi yang mengatur antara lain Undang-Undang No. 35/2009 tentang Narkotika, Undang-Undang No. 44/2009 tentang Rumah Sakit, Undang-Undang No. 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa, dan Permenkes No. 41 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

Baca juga: Ini Bahayanya Asal-asalan Campur Obat PCC untuk 'Nge-fly'(mrs/mrs)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit