detikhealth

dr Letty Ditembak Suami, Ini yang Harus Diketahui Tentang KDRT

Widiya Wiyanti - detikHealth
Jumat, 10/11/2017 10:08 WIB
dr Letty Ditembak Suami, Ini yang Harus Diketahui Tentang KDRTAda beberapa hal yang harus diketahui tentang KDRT. Foto: dok detikcom
Jakarta, Mirisnya kematian dr Letty, seorang dokter di sebuah klinik di Jakarta Timur, yang ditembak oleh suaminya sendiri, dr Ryan Helmi. Tidak tanggung-tanggung, enam peluru sekaligus yang ditembakkan pelaku ke istrinya.

Menurut kesaksian, penembakan ini diawali dengan sebuah percekcokan yang dikarenakan istri menggugat cerai suaminya.

"Dugaan sementara, sang suami tidak mau cerai, karena istrinya menggugat (cerai)," kata Andry Wibowo di lokasi kejadian, Jalan Dewi Sartika, Kramat Jati, Jaktim, seperti dikutip dari detikNews.

Kasus ini menambah deretan kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) di Indonesia, bahkan di dunia. KDRT sendiri memang bisa terjadi dalam setiap rumah tangga. Bukan hanya kekerasan fisik, kekerasan verbal pun juga termasuk KDRT.

Baca juga: Mungkinkah Percekcokan Rumah Tangga Bikin Seseorang Halusinasi?

detikHealth merangkum beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang KDRT.

1. Kebanyakan korban KDRT adalah perempuan

Wanita yang berusia 18-24 tahun yang paling sering diperlakukan kasar oleh suaminya. Tetapi, bukan berarti pria tidak bisa menjadi korban KDRT.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), satu dari tiga wanita bisa menjadi korban kekerasan fisik oleh pasangannya seumur hidup.

"Kekerasan dalam rumah tangga tidak mendiskriminasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, atau status sosial," kata Bryan Pacheco dari Organisasi Safe Horizon.

2. Pergi tidak selalu memecahkan masalah

Banyak sekali seseorang yang mendapatkan kekerasan dalam rumah tangganya memilih bercerai karena alasan sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan pasangannya.

"Seorang pelaku dapat bertindak dengan cara yang sangat keras untuk mengendalikan orang tersebut (pasangannya) dan mencegah mereka pergi," ujar Pacheco.

Dan bahkan jika korban berhasil meninggalkan hubungan mereka, bukan berarti pelaku akan berdiam diri. Ada yang selalu menguntit korban ke manapun ia pergi.

Sementara itu menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd yang juga pengasuh konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan detikHealth, lebih baik korban KDRT pergi ke tempat perlindungan kekerasan agar ditangani lebih serius.

3. Berada dalam hubungan kekerasan berdampak bagi kesehatan

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kekerasa yang dilakukan pasangan baik fisik maupun verbal akan berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan seksual seseorang.

Hal lainnya dapat menyebabkan kegelisahan, sulit tidur, trauma, depresi. Ini dapat menjerumuskan korban pada penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang. Jika anak ikut terlibat, ini pastinya sangat membahayakan kesehatan psikologis anak.

Baca juga: Jika Ada Gangguan Jiwa, Bagaimana Perawatan untuk Pelaku Penembak Istri?

(wdw/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit