Jakarta -
Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, mengungkap fakta tentang kebiasaan tidur kliennya. Menurutnya, Novanto mendengkur alias ngorok saat tidur.
"Dia itu tidur melulu, kagak pernah bisa bangun. Saya nggak tahu kenapa. Iya, terus tidur terus, ngorok terus, gitu aja," kata Fredrich di RSCM Kencana, baru-baru ini.
Baca juga: Pengacara: Setya Novanto Ngorok Terus, Tak Ada yang Berani Bangunin
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ngorok terjadi karena saluran napas menyempit saat tidur, baik karena faktor anatomi maupun gravitasi. Yang pasti, kondisi ini membuat pernapasan tidak lancar sehingga kualitas tidur ikut terpengaruh.
Dalam banyak kasus, ngorok juga berhubungan dengan kondisi yang disebut sleep apnea. Pada kondisi ini, seseorang mengalami henti napas tanpa disadari selama tertidur. Dalam semalam, bisa terjadi hingga ratusan kali.
Apa saja yang bisa menyebabkan seseorang tidur ngorok? Simak rangkumannya berikut ini.
1. Posisi tidur
Foto: Thinkstock
|
Ngorok paling sering terjadi saat seseorang tidur dalam posisi telentang. Pada posisi ini, gravitasi akan menarik dinding tenggorokan sehingga rongga napas menyempit. Terlebih, jika penyangga leher tidak ideal, misalnya bantal yang terlalu tinggi.Risiko ngorok bisa dikurangi dengan mengubah posisi tidur. Miring atau tengkurap termasuk posisi tidur yang lebih aman dari risiko ngorok.
2. Konsumsi alkohol
Foto: thinkstock
|
Salah satu sifat alkohol adalah membuat otot rileks. Jika terjadi pada otot pernapasan, maka dampaknya adalah tidak mampu melawan efek gravitasi. Penyempitan saluran napas lebih rentan terjadi karenanya.Di sisi lain, konsumsi alkohol juga berhubungan dengan risiko kegemukan. Jaringan lemak yang tebal di area leher juga meningkatkan risiko penyempitan saluran napas.
3. Anatomi mulut
Foto: Thinkstock
|
Beberapa orang terlahir dengan jaringan yang tebal di sekitar saluran napas. Ini juga dialami oleh orang-orang dengan obesitas, yang memiliki lemak tebal di area leher. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ngorok saat tidur.
4. Obstructive sleep apnea
Sungkup yang dipakai Setya Novanto mirip sungkup CPAP untuk sleep apnea (Foto: istimewa)
|
Henti napas saat tidur atau obstructive sleep apnea (OSA) sering disertai dengan gejala ngorok, karena penyebabnya sama yakni penyempitan saluran napas. Pada kondisi ini, dampaknya bisa fatal karena ketika pernapasan terhenti berarti suplai oksigen juga berhenti. Beberapa orang dengan OSA membutuhkan alat khusus yang disebut Continuous positive airway pressure (CPAP).Beberapa penelitian juga mengaitkan OSA dengan risiko kondisi berbahaya lainnya seperti obesitas, sindrom metabolik, dan bahkan penyakit jantung.
5. Kegemukan
Foto: Thinkstock
|
Obesitas menyebabkan leher dipenuhi oleh tumpukan lemak yang menekan saluran napas. Tidak heran jika ngorok paling sering ditemukan pada orang-orang yang 'tidak punya leher' saking tebalnya lemak di area tersebut. Mengatasi kegemukan dipercaya bisa mengurangi risiko ngorok, di samping juga mengurangi risiko kesehatan lainnya. Memperbaiki pola makan dan rajin olahraga adalah dua kunci utama untuk menurunkan berat badan.
Ngorok paling sering terjadi saat seseorang tidur dalam posisi telentang. Pada posisi ini, gravitasi akan menarik dinding tenggorokan sehingga rongga napas menyempit. Terlebih, jika penyangga leher tidak ideal, misalnya bantal yang terlalu tinggi.
Risiko ngorok bisa dikurangi dengan mengubah posisi tidur. Miring atau tengkurap termasuk posisi tidur yang lebih aman dari risiko ngorok.
Salah satu sifat alkohol adalah membuat otot rileks. Jika terjadi pada otot pernapasan, maka dampaknya adalah tidak mampu melawan efek gravitasi. Penyempitan saluran napas lebih rentan terjadi karenanya.
Di sisi lain, konsumsi alkohol juga berhubungan dengan risiko kegemukan. Jaringan lemak yang tebal di area leher juga meningkatkan risiko penyempitan saluran napas.
Beberapa orang terlahir dengan jaringan yang tebal di sekitar saluran napas. Ini juga dialami oleh orang-orang dengan obesitas, yang memiliki lemak tebal di area leher. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ngorok saat tidur.
Henti napas saat tidur atau obstructive sleep apnea (OSA) sering disertai dengan gejala ngorok, karena penyebabnya sama yakni penyempitan saluran napas. Pada kondisi ini, dampaknya bisa fatal karena ketika pernapasan terhenti berarti suplai oksigen juga berhenti. Beberapa orang dengan OSA membutuhkan alat khusus yang disebut Continuous positive airway pressure (CPAP).
Beberapa penelitian juga mengaitkan OSA dengan risiko kondisi berbahaya lainnya seperti obesitas, sindrom metabolik, dan bahkan penyakit jantung.
Obesitas menyebabkan leher dipenuhi oleh tumpukan lemak yang menekan saluran napas. Tidak heran jika ngorok paling sering ditemukan pada orang-orang yang 'tidak punya leher' saking tebalnya lemak di area tersebut. Mengatasi kegemukan dipercaya bisa mengurangi risiko ngorok, di samping juga mengurangi risiko kesehatan lainnya. Memperbaiki pola makan dan rajin olahraga adalah dua kunci utama untuk menurunkan berat badan.
(up/up)