Waspada, 4 Penyakit Anak-anak yang Masih Bisa Terjangkit di Usia Dewasa

Waspada, 4 Penyakit Anak-anak yang Masih Bisa Terjangkit di Usia Dewasa

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Kamis, 05 Apr 2018 11:41 WIB
Waspada, 4 Penyakit Anak-anak yang Masih Bisa Terjangkit di Usia Dewasa
Penyakit anak-anak yang menyerang orang dewasa. Foto: Thinkstock
Jakarta - Penyakit-penyakit rentan datang di usia kanak-kanak, tapi jangan salah mengartikan, meskipun kamu telah dewasa masih tetap ada kemungkinan terkena penyakit. Sekalipun untuk penyakit-penyakit yang identik menyerang anak-anak seperti berikut ini.

Dikutip dari Body+Soul, Kamis (5/4/2018), berikut ini adalah deretan penyakit yang sering menjangkiti anak namun bisa memberikan efek lebih buruk ketika terserang di usia dewasa. Apa saja? Simak selengkapnya di sini.



Campak

Foto: Thinkstock
Campak adalah virus menular yang menyebar melalui tetesan yang terinfeksi. Ketika seseorang dengan virus itu batuk atau bersin, tetesan dapat terhirup atau menempel pada permukaan kulit. Virus itu tetap hidup selama beberapa jam.

Ciri yang nampak seperti misalnya demam tinggi, umumnya merasa tidak enak badan, hidung meler, batuk, ruam kulit dan kemerahan. Tapi jangan dianggap sepele, menurut profesor Linda Selvey dari University of Queensland's School of Public Health justru orang dewasa yang mengalami ini bisa jadi lebih berbahaya.

"Mereka juga bisa mendapatkan infeksi sekunder seperti radang paru-paru," katanya.

Cara mencegahnya?

"Kebanyakan orang yang terkena campak adalah orang dewasa yang tidak cukup divaksinasi," ujar Selvey. Jadi kalau kamu orang dewasa yang lahir setelah tahun 1966 seharusnya sudah menjalani vaksin campak, gondong dan rubella (MMR).

Cacar air

Foto: ilustrasi/thinkstock
Cacar air, atau varicella, menyebar melalui tetesan yang terinfeksi atau kontak dengan cairan dalam lepuhan cacar.

"Kebanyakan orang dewasa divaksinasi, atau telah terpapar sebagai anak-anak," kata Selvey. Tapi ternyata itu bisa muncul kembali.

Orang dewasa dengan cacar beresiko pneumonia dan, jika dalam masa kehamilan, dapat mempengaruhi bayi yang belum lahir. Karena itu, jangan lupa imunisasi yuk.

Batuk rejan

Foto: Thinkstock
Batuk rejan, pertussis, atau batuk 100 hari adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis, bakteri ini dapat menular dari orang yang terinfeksi ke orang lain melalui udara atau dahak yang dikeluarkan oleh pasien.

"Bakteri ini bisa ada di lingkungan sekitar kita dan orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah sangat mudah terkena infeksi bakteri ini. Sekitar 60 persen penyakit ini diderita oleh anak-anak di bawah usia 10 tahun," ujar Dr Agus Dwi Susanto, SpP, beberapa waktu lalu..

Orang dewasa yang terkena penyakit ini memiliki risiko pneumonia, karena itu pengobatannya harus dianggap serius. Begitu juga ibu hamil, sebaiknya juga sudah menerima vaksin pertussis.

Rubella

Foto: Agung Pambudhy
Rubella, juga disebut campak Jerman atau campak tiga hari, adalah infeksi virus menular pada kulit. Rubella tidak sama dengan campak (rubeola), walaupun kedua penyakit melakukan berbagi beberapa karakteristik, termasuk ruam merah pada kulit.

Tanda-tanda dan gejala rubella, terutama pada anak-anak, sering begitu ringan sehingga sulit untuk dilihat. Jika tanda-tanda dan gejala yang terjadi, mereka biasanya muncul antara dua dan tiga minggu setelah terpapar virus. Rubella biasanya berlangsung sekitar dua sampai tiga hari dengan gejala ruam merah muda yang diawali pada wajah dengan cepat menyebar ke punggung dan kemudian lengan dan kaki, demam ringan, sakit kepala, atau hidung tersumbat.

Rubella pada kehamilan dapat memiliki dampak yang parah pada bayi yang belum lahir, seperti tuli, kebutaan, cacat jantung dan keguguran. Komplikasi di masa dewasa juga bisa termasuk peradangan telinga tengah dan radang otak.
Halaman 2 dari 5
Campak adalah virus menular yang menyebar melalui tetesan yang terinfeksi. Ketika seseorang dengan virus itu batuk atau bersin, tetesan dapat terhirup atau menempel pada permukaan kulit. Virus itu tetap hidup selama beberapa jam.

Ciri yang nampak seperti misalnya demam tinggi, umumnya merasa tidak enak badan, hidung meler, batuk, ruam kulit dan kemerahan. Tapi jangan dianggap sepele, menurut profesor Linda Selvey dari University of Queensland's School of Public Health justru orang dewasa yang mengalami ini bisa jadi lebih berbahaya.

"Mereka juga bisa mendapatkan infeksi sekunder seperti radang paru-paru," katanya.

Cara mencegahnya?

"Kebanyakan orang yang terkena campak adalah orang dewasa yang tidak cukup divaksinasi," ujar Selvey. Jadi kalau kamu orang dewasa yang lahir setelah tahun 1966 seharusnya sudah menjalani vaksin campak, gondong dan rubella (MMR).

Cacar air, atau varicella, menyebar melalui tetesan yang terinfeksi atau kontak dengan cairan dalam lepuhan cacar.

"Kebanyakan orang dewasa divaksinasi, atau telah terpapar sebagai anak-anak," kata Selvey. Tapi ternyata itu bisa muncul kembali.

Orang dewasa dengan cacar beresiko pneumonia dan, jika dalam masa kehamilan, dapat mempengaruhi bayi yang belum lahir. Karena itu, jangan lupa imunisasi yuk.

Batuk rejan, pertussis, atau batuk 100 hari adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis, bakteri ini dapat menular dari orang yang terinfeksi ke orang lain melalui udara atau dahak yang dikeluarkan oleh pasien.

"Bakteri ini bisa ada di lingkungan sekitar kita dan orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah sangat mudah terkena infeksi bakteri ini. Sekitar 60 persen penyakit ini diderita oleh anak-anak di bawah usia 10 tahun," ujar Dr Agus Dwi Susanto, SpP, beberapa waktu lalu..

Orang dewasa yang terkena penyakit ini memiliki risiko pneumonia, karena itu pengobatannya harus dianggap serius. Begitu juga ibu hamil, sebaiknya juga sudah menerima vaksin pertussis.

Rubella, juga disebut campak Jerman atau campak tiga hari, adalah infeksi virus menular pada kulit. Rubella tidak sama dengan campak (rubeola), walaupun kedua penyakit melakukan berbagi beberapa karakteristik, termasuk ruam merah pada kulit.

Tanda-tanda dan gejala rubella, terutama pada anak-anak, sering begitu ringan sehingga sulit untuk dilihat. Jika tanda-tanda dan gejala yang terjadi, mereka biasanya muncul antara dua dan tiga minggu setelah terpapar virus. Rubella biasanya berlangsung sekitar dua sampai tiga hari dengan gejala ruam merah muda yang diawali pada wajah dengan cepat menyebar ke punggung dan kemudian lengan dan kaki, demam ringan, sakit kepala, atau hidung tersumbat.

Rubella pada kehamilan dapat memiliki dampak yang parah pada bayi yang belum lahir, seperti tuli, kebutaan, cacat jantung dan keguguran. Komplikasi di masa dewasa juga bisa termasuk peradangan telinga tengah dan radang otak.

(ask/up)

Berita Terkait