Sebelumnya, pegawai kantoran di Korea Selatan bisa kerja lembur hingga 68 jam per minggu, yang dirata-rata menjadi 13,6 jam per hari untuk 5 hari kerja. Namun peraturan baru ini memangkas jam kerja maksimal hanya menjadi 52 jam per minggu, atau 10,4 jam tiap harinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, rata-rata anak per kapita di Korea Selatan ada di angka 1,2. Menurut Ellen Kossek dari University Krannert School of Management, kebijakan ini baik untuk masa depan Korea Selatan.
"Ini adalah keputusan yang baik. Korea Selatan sedang menghadapi kekhawatiran soal rendahnya angka kelahiran anak, yang tentunya akan berdampak bagi sektor ekonomi. Isu lain yang dibahas tentunya adalah kesehatan fisik dan mental para pegawai," ujar Ellen, dikutip dari CNN.
Kebijakan Korea Selatan lainnya yang cukup didukung adalah mematikan listrik di hari Jumat malam. Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah karyawan mengambil lembur di akhir pekan.
Jeffrey Pfeffer, penulis buku Dying for a Paychech, mengatakan kerja lembur terus menerus sejatinya malah membuat karyawan dan perusahaan dalam posisi 'lose-lose situation'. Kesehatan pegawai menurun karena terlalu sering lembur, di sisi lain perusahaan kehilangan produktivitas karyawan karena sering sakit.
Menurunkan jam kerja memang bukan solusi sempurna. Tapi Pfeffer menambahkan bahwa kebijakan ini akan berdampak baik untuk masa depan dari sisi kestabilan sosial.
"Ketika Anda lelah, Anda menjadi tidak efisien. Anda juga lebih rentan melakukan kesalahan, tidak kreatif, dan tidak produktif," ujarnya lagi.











































