Catat! Ragam Faktor yang Membuat Orang Gampang Dihipnotis

Catat! Ragam Faktor yang Membuat Orang Gampang Dihipnotis

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 20 Jul 2018 11:43 WIB
Catat! Ragam Faktor yang Membuat Orang Gampang Dihipnotis
Hipnotis sejatinya merupakan bagian dari pendekatan dalam ilmu psikologi. Sayangnya, hipnotis juga disalahgunakan untuk melakukan kejahatan. Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Jakarta - Dalam ilmu psikologi, hipnotis merupakan bagian dari pendekatan psikoanalisis yang digunakan psikolog untuk memahami sifat dan perilaku manusia. Sayangnya, hipnotis kini juga dilakukan pelaku kejahatan untuk mengambil harta dan benda seseorang.

Psikolog dari Personal Growth, Monica Sulistiawati, mengatakan sejatinya tidak mudah bagi seseorang untuk jatuh dalam keadaan hipnotis. Ada beragam faktor yang menurutnya membuat seseorang mudah atau sulit dihipnotis.



ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka yang mengalami kecemasan tinggi dan paranoid perlu diberikan relaksasi terlebih dahulu sebelum diarahkan untuk memasuki kondisi hipnosis," ujar Monica saat dihubungi detikHealth baru-baru ini.

Lalu, apa saja faktor yang membuat seseorang mudah dihipnotis? Berikut di antaranya.

Kondisi psikologis

Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, kondisi psikologis sangat memengaruhi keberhasilan hipnotis. Orang yang sedang dalam keadaan cemas atau paranoid lebih sulit dihipnotis.

Sebaliknya, orang yang sedang dalam kondisi fokus pada satu hal, sedang dalam masalah, marah atau sedih misalnya, akan lebih mudah dihipnotis.

"Umumnya kondisi-kondisi psikologis tertentu menunjukkan adanya keberpusatan (fokus) seseorang pada sesuatu hal. Misalnya saat sedang marah atau sedih, tentu orang akan berfokus pada permasalahan yang dialami. Inilah yang menyebabkan orang tersebut menjadi lebih mudah tersugesti," terang Monica.

Keinginan pribadi

Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Monica mengatakan hipnotis tidak akan bisa sukses jika korban tidak memiliki rasa percaya pada pelaku. Dalam artian, korban harus mau secara sadar mengikuti keinginan pelaku sebelum berhasil dihipnotis.

Rasa percaya dan keinginan pribadi membuat seseorang lebih mudah menerima saran dan ide, sekaligus lebih gampang mendapatkan sugesti.

"Jika ia mengikuti keinginan orang yang menghipnosis, hal ini dapat terjadi karena memang ada kehendak dari si orang yang dihipnosis untuk mengikutinya," tambahnya lagi.

Usia remaja

Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Remaja berusia di awah 19 tahun disebut Monica paling rentan menjadi horban hipnotis. Penyebabnya, remaja masih dalam tahap di mana mau menerima ide, saran, serta sugesti dari orang lain.

Lain halnya dengan orang dewasa yang sudah berusia di atas 30 tahun misalnya. Orang dewasa lebih sulit dihipnotis karena kemampuan untuk menerima sugesti sudah berkurang.

"Sedangkan anak-anak usia balita, oleh sebab belum memiliki kemampuan fokus yang lama, menjadi lebih sulit untuk dihipnosis dan membutuhkan pendekatan yang berbeda," ujarnya.

Tingkat imajinasi

Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Berbeda dengan kepercayaan awam, Monica menyebut seseorang dengan inteligensi tinggi justru lebih mudah dihipnotis. Hal ini dikarenakan orang dengan inteligensi tinggi memiliki tingkat imajinasi yang lebih baik.

"Semakin tinggi tingkat inteligensi seseorang, semestinya memiliki tingkat penerimaan sugesti yang lebih baik karena mereka mampu mengembangkan imajinasi, mempertahankan fokus lebih baik, dan lebih mudah memahami bimbingan atau instruksi dalam induksi hipnotis yang diberikan," ungkap Monica.

Sebaliknya, orang yang memiliki inteligensi di bawah rata-rata justru sulit dihipnotis karena sulit fokus, berimajinasi dan memahami instruksi yang diberikan.
Halaman 2 dari 5
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, kondisi psikologis sangat memengaruhi keberhasilan hipnotis. Orang yang sedang dalam keadaan cemas atau paranoid lebih sulit dihipnotis.

Sebaliknya, orang yang sedang dalam kondisi fokus pada satu hal, sedang dalam masalah, marah atau sedih misalnya, akan lebih mudah dihipnotis.

"Umumnya kondisi-kondisi psikologis tertentu menunjukkan adanya keberpusatan (fokus) seseorang pada sesuatu hal. Misalnya saat sedang marah atau sedih, tentu orang akan berfokus pada permasalahan yang dialami. Inilah yang menyebabkan orang tersebut menjadi lebih mudah tersugesti," terang Monica.

Monica mengatakan hipnotis tidak akan bisa sukses jika korban tidak memiliki rasa percaya pada pelaku. Dalam artian, korban harus mau secara sadar mengikuti keinginan pelaku sebelum berhasil dihipnotis.

Rasa percaya dan keinginan pribadi membuat seseorang lebih mudah menerima saran dan ide, sekaligus lebih gampang mendapatkan sugesti.

"Jika ia mengikuti keinginan orang yang menghipnosis, hal ini dapat terjadi karena memang ada kehendak dari si orang yang dihipnosis untuk mengikutinya," tambahnya lagi.

Remaja berusia di awah 19 tahun disebut Monica paling rentan menjadi horban hipnotis. Penyebabnya, remaja masih dalam tahap di mana mau menerima ide, saran, serta sugesti dari orang lain.

Lain halnya dengan orang dewasa yang sudah berusia di atas 30 tahun misalnya. Orang dewasa lebih sulit dihipnotis karena kemampuan untuk menerima sugesti sudah berkurang.

"Sedangkan anak-anak usia balita, oleh sebab belum memiliki kemampuan fokus yang lama, menjadi lebih sulit untuk dihipnosis dan membutuhkan pendekatan yang berbeda," ujarnya.

Berbeda dengan kepercayaan awam, Monica menyebut seseorang dengan inteligensi tinggi justru lebih mudah dihipnotis. Hal ini dikarenakan orang dengan inteligensi tinggi memiliki tingkat imajinasi yang lebih baik.

"Semakin tinggi tingkat inteligensi seseorang, semestinya memiliki tingkat penerimaan sugesti yang lebih baik karena mereka mampu mengembangkan imajinasi, mempertahankan fokus lebih baik, dan lebih mudah memahami bimbingan atau instruksi dalam induksi hipnotis yang diberikan," ungkap Monica.

Sebaliknya, orang yang memiliki inteligensi di bawah rata-rata justru sulit dihipnotis karena sulit fokus, berimajinasi dan memahami instruksi yang diberikan.

(mrs/up)

Berita Terkait