Namun informasi jangan sampai digunakan untuk memeriksa atau mengobati diri sendiri. Dikutip dari Psychology Today, mendiagnosa diri sendiri sebetulnya sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Psikiater dari Harvard Medical School Srini Pillay mengatakan, diagnosa diri sendiri biasanya hanya berdasar dugaan bukan bukti medis yang bisa dipertanggungjawabkan. Sekadar dugaan berisiko menurunkan manfaat terapi karena salah diagnosa.
Pillay mencontohkan mood swing yang kerap diduga sebagai gejala awal gangguan manik depresif atau bipolar disorder. Pada kenyataannya, mood swing juga ditemukan dalam gangguan kepribadian dan depresi. Contoh lainnya adalah munculnya rasa cemas yang kerap diidentifikasi sebagai gangguan kecemasan. Faktanya, gangguan kecemasan sering kali menutupi gangguan yang lebih besar misal depresi. Sekitar 2/3 pasien depresi yang datang berobat umumnya juga mengalami gangguan kecemasan.Gangguan penyerta atay komordibitas inilah yang tidak terdeteksi bila mendiagnosa diri sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Self diagnosis menjadi tanda awal penolakan terhadap gangguan yang sesungguhnya terjadi. Dalam hal ini, Pillay mencontohkan keluhan badan yang terasa sakit hingga membuat mood berantakan. Dokter mungkin meminta pemeriksaan Electro Kardiograph (EKG) untuk mengetahui nyeri dada, yang menjadi penanda gangguan arteri koroner. Nyeri dada digeneralisir menjadi sakit badan, untuk meminimalkan atau menghindari kemungkinan gangguan jantung. Hal serupa terjadi pada gangguan delusi yang tidak melaporkan adanya gejala psikotis karena tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Dengan risiko ini, Pillay menyarankan tidak ragu berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gangguan. Tenaga kesehatan telah dibekali cukup ilmu dan keterampilan untuk mengetahui penanganan suatu penyakit. Rasa takut, malu, dan tidak percaya harus dikikis untuk mengetahui kondisi tubuh serta pengobatan terbaik.










































