Jakarta -
Kepercayaan itu mahal harganya. Setelah berbuat kesalahan, seperti berbohong misalnya, tentu tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan kembali. Seperti yang baru-baru ini terjadi pada Ratna Sarumpaet, Sandiaga Uno mengaku kecewa dengan kebohongan yang terlanjur dilontarkan oleh Ratna.
"Saya kenali beliau sebagai sosok yang memiliki integritas yang tidak perlu kita ragukan lagi, tapi kemarin itu pupus kepercayaan saya," katanya seperti dikutip dari detikNews.
Butuh tekad yang kuat dan juga keberanian untuk mengakui kesalahan. Karena itu memulihkan kepercayaan juga butuh proses. Dilansir dari website milik Dr Suzanne Gelb, ini dia berbagai tips yang bisa kamu terapkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana cara menunjukkan kalau kamu memang sudah berubah?
Foto: Ilustrasi/thinkstock
|
Satu-satunya cara untuk membuktikan kamu telah berubah adalah dengan menunjukkan perilaku bisa dipercaya secara terus menerus. Tak cukup dengan berkata 'maaf, aku benar menyesal deh suer!', soalnya ternyata banyak orang merasa mengucapkannya tidak sesulit itu.
"Tapi dengan benar-benar merubah perilaku -- memperbaiki ucapanmu, secara konsisten -- di situ tantangannya. Untuk melakukannya, kamu harus menggali jauh di dalam diri untuk melakukan perubahan yang diperlukan guna membawa 'kamu' yang lebih kuat dalam suatu hubungan," tulis Dr Gelb.
Berapa lama bisa mendapatkan kepercayaannya kembali?
Foto: thinkstock
|
Tidak ada waktu yang pasti. Ini tergantung dari hubunganmu sendiri, apa yang kamu telah lakukan, dan bagaimana perilakumu mempengaruhi orang lain. Secara general, kalau memang dari kedua belah sisi ingin memperbaiki hubungan dan kepercayaan yang raib, ini bisa jadi pertanda baik.
"Selama kamu secara konsisten menahan diri dari perilaku yang terlarang - dan selama orang yang kamu sakiti rela melepaskan, memaafkan, dan melanjutkan, maka hubunganmu memiliki peluang bagus untuk bangkit kembali, dan bertumbuh bahkan lebih kuat. Pada akhirnya, kalian berdua akan lebih tangguh karena tantangan ini."
Bagaimana kalau kamu tidak bisa memaafkan dirimu sendiri?
Foto: thinkstock
|
"Menghukum diri sendiri bukan jawaban," ungkap Dr Gelb.
Jika Anda membiarkan perasaan malu dan membenci diri terus berkembang, kamu pada akhirnya akan menyerang orang lain yang kamu cintai seperti melampiaskan amarah dengan cara yang tidak sehat, yang menyebabkan lebih banyak rasa sakit dan penyesalan.
Ambil langkah-langkah yang perlu kamu lakukan untuk melepaskan perasaan duka dan rasa malu. Setelah bisa memaafkan diri sendiri, kamu akan bisa mencintai dirimu sendiri dan secara alami kamu jadi ingin memperlakukan diri sendiri (serta tentunya orang lain) dengan perhatian dan rasa hormat yang pantas mereka terima.
Lalu seandainya mereka tidak mau menerima dirimu lagi, harus bagaimana?
Foto: Thinkstock
|
"Ini adalah situasi yang menyakitkan, tetapi penting untuk menerima pilihan orang lain dan tidak mencoba untuk membicarakannya, atau memanipulasinya untuk mengubah pikiran mereka," sarannya.
"Mungkin penolakan mereka berarti mereka sakit hati. Itu bisa dimengerti. Hal terbaik untuk dilakukan (walau kedengarannya sulit) adalah untuk menghormati perasaan dan keinginan mereka -- memberi mereka ruang dengan harapan bahwa suatu hari, mereka mungkin bisa merubah hati mereka."
Satu-satunya cara untuk membuktikan kamu telah berubah adalah dengan menunjukkan perilaku bisa dipercaya secara terus menerus. Tak cukup dengan berkata 'maaf, aku benar menyesal deh suer!', soalnya ternyata banyak orang merasa mengucapkannya tidak sesulit itu.
"Tapi dengan benar-benar merubah perilaku -- memperbaiki ucapanmu, secara konsisten -- di situ tantangannya. Untuk melakukannya, kamu harus menggali jauh di dalam diri untuk melakukan perubahan yang diperlukan guna membawa 'kamu' yang lebih kuat dalam suatu hubungan," tulis Dr Gelb.
Tidak ada waktu yang pasti. Ini tergantung dari hubunganmu sendiri, apa yang kamu telah lakukan, dan bagaimana perilakumu mempengaruhi orang lain. Secara general, kalau memang dari kedua belah sisi ingin memperbaiki hubungan dan kepercayaan yang raib, ini bisa jadi pertanda baik.
"Selama kamu secara konsisten menahan diri dari perilaku yang terlarang - dan selama orang yang kamu sakiti rela melepaskan, memaafkan, dan melanjutkan, maka hubunganmu memiliki peluang bagus untuk bangkit kembali, dan bertumbuh bahkan lebih kuat. Pada akhirnya, kalian berdua akan lebih tangguh karena tantangan ini."
"Menghukum diri sendiri bukan jawaban," ungkap Dr Gelb.
Jika Anda membiarkan perasaan malu dan membenci diri terus berkembang, kamu pada akhirnya akan menyerang orang lain yang kamu cintai seperti melampiaskan amarah dengan cara yang tidak sehat, yang menyebabkan lebih banyak rasa sakit dan penyesalan.
Ambil langkah-langkah yang perlu kamu lakukan untuk melepaskan perasaan duka dan rasa malu. Setelah bisa memaafkan diri sendiri, kamu akan bisa mencintai dirimu sendiri dan secara alami kamu jadi ingin memperlakukan diri sendiri (serta tentunya orang lain) dengan perhatian dan rasa hormat yang pantas mereka terima.
"Ini adalah situasi yang menyakitkan, tetapi penting untuk menerima pilihan orang lain dan tidak mencoba untuk membicarakannya, atau memanipulasinya untuk mengubah pikiran mereka," sarannya.
"Mungkin penolakan mereka berarti mereka sakit hati. Itu bisa dimengerti. Hal terbaik untuk dilakukan (walau kedengarannya sulit) adalah untuk menghormati perasaan dan keinginan mereka -- memberi mereka ruang dengan harapan bahwa suatu hari, mereka mungkin bisa merubah hati mereka."
(ask/up)