"Lidah kan tidak bertulang ya. Orang-orang akan tetap ngomong dengan sangat luwesnya si pelaku body shaming. Tapi tergantung lagi sama pribadi individunya," katanya saat dihubungi oleh tim detikHealth, Kamis (22/11/2018).
Menurut Bona, ungkapan tersebut bisa dialihkan dengan mengubah topik pembicaraan atau menganggap komentar itu sebagai angin lalu.
"Kalau misal pribadinya cukup jago humor, jago ngeles, silahkanlah melakuan humor itu sebagai bahan 'balasan komunikasi' untuk orang yang melakukan body shaming," tambahnya.
Bisa juga dengan cara lain seperti membalasnya dengan cara sopan tapi tetap mengarahkan kepada pembicaraan yang jauh lebih sehat. Karena kadang-kadang orang mungkin belum tahu kalau nggak boleh body shaming walau sebatas basa-basi.
"Orang Indonesia kan susah ya bercandaannya fisik jadi menurut saya dengan adanya undang-undang ini semoga kita bisa tambah nge-rem deh mulutnya supaya kalau ketemu, basa-basinya cari yang lain lah," tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, psikolog klinis dari Personal Growth, Laurentius Sandi Witarso, MPsi, menyebutkan untuk fokus saja pada inner quality baik yang dimiliki pada diri
"Syukuri tubuhmu! Ingat bahwa tubuh telah membantumu untuk bisa hidup hingga saat ini. Tubuh juga telah membantumu untuk tetap produktif dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya.