Sebab, kebanyakan dari mereka berselfie dengan memperlihatkan raut muka sedang tersenyum. Tentunya ini menjadi kegiatan yang kurang pantas dilakukan oleh para pengunjung maupun relawan yang datang ke lokasi bencana. Bisa saja terdapat efek menyakitkan bagi kondisi psikis para korban.
"Bisa saja ada korban atau keluarga korban yang melihat secara langsung orang yang melakukan selfie di tempat bencana merasa sedih atau merasa bencana ini dijadikan 'tempat wisata'," tuturnya saat dihubungi detikHealth, Kamis (27/12/2018).
Dampak lain yang bisa terjadi adalah reaksi tidak langsung dari korban atau keluarga korban ketika melihat foto tersebut terpampang di media sosial. Bisa saja terjadi trauma yang berlebihan bahkan depresi.
Perilaku selfie di lokasi bencana tsunami Banten-Lampung baru-baru ini jadi sorotan media asing. The Guardian melaporkan, kepala serikat petani lokal yang turut menjadi korban tsunami di Banten, Bahrudin, mengaku tidak terkesan dengan perilaku para pengunjung yang menjadikan lokasi bencana sebagai tempat wisata. Pria 40 tahun ini berkali-kali mengungkapkan rasa kecewa atas apa yang dilakukan pengunjung.
Tak apa jika masih belum bisa membantu, sebab masing-masing orang memiliki kapasitas masing-masing. Baiknya, hindari perilaku yang bisa memicu trauma bagi para korban.