Singkong atau ubi kayu merupakan salah satu sumber pangan yang juga dijadikan makanan pokok di beberapa daerah di belahan dunia. Di Indonesia, seringkali singkong yang kaya akan beta karoten ini dianggap 'makanan desa' dan tidak menarik.
"Nggak semua orang kalau disuguhin singkong rebus langsung mau. Padahal kalau datang ke resto lalu pesen singkong Thailand, harganya bisa mahal sekali, itu kan cuma singkong rebus dikasih santan aja. Nah kuncinya kita butuh inovasi supaya sampai ke masyarakat," kata Ahmad Fathoni, peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pada acara Media Briefing '
Singkong dipertimbangkan oleh Fathoni dan tim karena bisa ditanam di manapun di Indonesia dan bahkan mampu bertahan saat kekeringan. Singkong kaya akan beta karoten namun rendah protein, karena itu Fathoni berusaha 'merakit' singkong kaya nutrisi dan berhasil memproduksi bibit unggul yang bisa memenuhi 4 mikronutrien yang kurang pada anak-anak stunting, yakni vitamin, zat besi, zinc dan protein.
Ia mencoba inovasi dengan menjadikan singkong sebagai tepung termodifikasi atau mocaf. Mocaf akan menjadi beberapa bahan baku makanan seperti mie atau kue. Fathoni sendiri sudah melakukan edukasi soal singkong ini sembari mengadakan makan bareng mie ayam, di mana mie yang dipakai adalah yang terbuat dari mocaf.
"Kalau kita kasih brownies, orang nggak ngeh kalo dia makan singkong padahal tepungnya pakai tepung singkong. Kita bikin mie ayam, soalnya siapa sih sekarang yang nggak makan mie? Artinya pasar mie ini luar biasa, cuma mie yang di luar itu terbuat dari terigu yang glutennya tinggi. Kita juga campur dengan sayuran supaya anak-anak yang nggak suka sayur bisa tetap mendapat nutrisinya," lanjut Fathoni.
Simak juga video 'Menjajal Masakan Priangan Timur dengan Nuansa Klasik':