"Pengenalan reproduksi untuk anak SD bisa dimulai dengan membedakan laki-lali dan perempuan. Pengenalan melibatkan guru dan orangtua sehingga bisa tahu jika ada kondisi yang tidak baik. Naif sekali jika orangtua sampai tidak mengerti kondisi anak," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo.
Hasto menyebut pelibatan guru Pendidikan Jasmani dalam pengenalan reproduksi pada anak. Guru selanjutnya membing anak mengenal alat kelaminnya sendiri. Misal 2 testis pada pria, yang berbahaya jika hanya ada 1.
Guru yang mendapati kondisi testis anak yang tidak turun, bisa segera memberitahukannya pada orangtua. Testis yang tidak juga turun pada usia belasan berisiko mengakibatkan kanker. Pemeriksaan dan penanganan dini bisa menurunkam risiko kanker di masa mendatang.
Contoh lain yang diberikan Hasto adalah risiko penyakit gondongan pada anak. Penyakit Parotitis epidemica ini disebabkan virus, yang antigen dan antibodinya bisa merusak sel testis. Akibatnya terjadi gangguan produksi sperma ketika anak sudah dewasa.
Hasto mengatakan, kesehatan reproduksi sebetulnya wajib diketahui anak dan orangtua. Namun materi harus dikemas dengan baik supaya tidak punya image sexual intercourse seperti pada pendidikan seks. Materi dalam kesehatan reproduksi adalah menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin serta siklus pada tiap kelamin.
(up/up)