Ilmuwan Ungkap Gejala Leukemia Akut pada Korban Gigitan Vampir

Ilmuwan Ungkap Gejala Leukemia Akut pada Korban Gigitan Vampir

Nurul Khotimah - detikHealth
Jumat, 22 Nov 2019 08:42 WIB
Ilustrasi korban gigitan vampir zaman dulu oleh ahli disebut memiliki ciri-ciri pasien leukemia. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Vampir atau drakula adalah salah satu cerita legenda yang berkembang di negara bagian barat. Meski diangkap legenda dan kerap dianggap mitos, terdapat beberapa fakta medis yang menunjukan adanya makhluk tersebut. Salah satunya dengan ditemukannya analisis mengenai korban vampir.

Dikutip dari Live Science, sebuah buku berjudul 'The Vampire' dari abad ke-19, menunjukan korban gigitan vampir memiliki gejala-gejala yang sama dengan leukemia akut atau kanker darah. Menurut sebuah penelitian baru, pada saat itu, leukemia belum diidentifikasi sebagai penyakit di kalangan komunitas medis. Mungkin inilah sebabnya mengapa serangkaian gejala, penyebab yang kemudian tidak diketahui, mengilhami penulis untuk memberikan penjelasan supernatural.

Korban serangan vampir dalam novel abad ke-19 digambarkan tidak hanya menjadi pucat, pingsan, dan terbuang; mereka menunjukkan berbagai gejala yang mengisyaratkan serangan mematikan oleh pemangsa bertaring darah. Sementara dalam buku berjudul "Carmilla" para ilmuan melaporkan, semua korban perempuan; mereka menunjukkan gejala kelelahan yang terus-menerus, demam, pucat, sesak nafas, dan nyeri dada, serta tanda merah pada kulit dada mereka.


Salah satu korban yang diceritakan dalam buku tersebut adalah salah - Lucy Westenra - akhirnya meninggal (dan kemudian dihidupkan kembali sebagai vampir). Menurut penelitian masing-masing korban menderita rasa tidak enak badan, pucat, kelelahan, anoreksia, dyspnoea, dan penurunan berat badan, disertai dengan keadaan trance, mengigau.

Diagnosis lain yang ditemukan pada abad ke-19 yang mungkin untuk korban vampir adalah anemia, kekurangan sel darah merah yang dapat menyebabkan kelelahan dan pucat yang tidak biasa. Faktanya, Westenra dalam "Dracula" digambarkan sebagai "tanpa darah, tetapi bukan anemia," dan gejala-gejalanya secara keseluruhan menunjukan tentang seorang pasien yang menderita leukemia akut.

"Tidak ada penyakit lain yang dianggap cocok selain dengan leukemia akut. Karena itu, kami menyimpulkan bahwa pasien leukemia akut kehidupan nyata sangat mungkin menjadi inspirasi bagi gejala-gejala korban dalam literatur vampir Gothic," kata penulis penelitian.

Dengan begitu bisa jadi penyakit seperti leukemia akut sebenarnya telah ada sejak abad 19-an. Hanya saja penelitian lebih lanjut baru berkembang pada abad berikutnya. Keterbatasan alat dan teknologi mungkin yang menjadi hambatannya. Cerita vampir ini dianggap mengadopsi penyakit langka pada saat itu agar pembaca lebih percaya.




(up/up)