Kasus Corona RI Naik 3 Kali Lipat dalam 7 Hari, Deteksi Dinilai Lemah

Kasus Corona RI Naik 3 Kali Lipat dalam 7 Hari, Deteksi Dinilai Lemah

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Selasa, 17 Mar 2020 14:15 WIB
Demi mencegah menyebarnya virus corona, petugas melakukan disinfeksi menyeluruh di dalam ratangga MRT Jakarta di Lebak Bulus, Jakarta.
Petugas melakukan disinfeksi virus corona COVID-19 (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Sejak awal Maret 2020, masyarakat dihebohkan dengan adanya dua kasus positif virus corona COVID-19 di Indonesia. Kepanikan menyebar luas di tengah publik lantaran sebelumnya pemerintah kerap mengumumkan bahwa Indonesia masih bebas virus corona di saat negara lain sudah kena.

Setelah pengumuman dua kasus positif, angka penularan COVID-19 cenderung meningkat setiap harinya. Nurul Nadia, konsultan kesehatan masyarakat dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), menyebut infeksi virus corona yang meningkat drastis di Indonesia diperkirakan karena deteksi dan intervensi dini yang lambat.

"Keadaan di Indonesia saat ini, kalau kita lihat, Januari-Februari belum ada kasus COVID-19. Lalu tiba-tiba di Maret ada kasus dan peningkataknnya drastis," katanya dalam diskusi yang digelar Society of Indonesian Science Journalists (SISJ) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peningkatan kasus yang relatif drastiss ini kemungkinan akibat kumulatif kasus yang sudah ada di masyakarat. Bahkan Nadia membandingkan angka penularkan kasus di Indonesia cenderung lebih tinggi daripada di China.

"Kalau kita bandingkan dengan China, di sana kasus menngkat 3 kali lipat dalam waktu 14 hari sedangkan di indonesia dalam 7-8 hari kasusnya meningkat 3 kali lipat," ucap Nadia.

ADVERTISEMENT

Nadia memperkirakan kasus virus corona sebenarnya sudah ada di masyarakat dan pola penyebarannya melalui community transmission. Community transmission dimaknakan sebagai ppenyebaran virus bisa dari mana saja meski tidak ada riwayat ke luar negeri atau kontak dengan pasien positif.

Selain itu disebutkan juga penemuan kasus di Indonesia cenderung masih rendah jika dibandingkan dengan jumlah populasi. Bisa saja yang diumumkan adalah kasus berat yang ke rumah sakit sementara yang ringan dan gejalanya kurang jelas telah menyebar di masyarakat dan sudah cukup meluas.

"Bisa saja di keluarga tidak ada yg infeksi COVID-19 tapi batuk pilek yang kita alami adalah infeksi covid," sebutnya.

Oleh karena itu, kebijakan social distant atau karantina rumah dianggap bisa menahan laju penyebaran dan penularan. Sebab negara lain seperti Singapura dan Korea Selatan berhasil menekan angka kematian dengan melakukan pembatasan dini, skrining masif dan karantina ketat dalam waktu cepat.




(kna/up)