Bagi yang masih lajang dan belum pernah aktif secara seksual, kondisi seperti ini mungkin sudah sering dialami dan tidak terlalu sulit untuk diatasi. Namun bagi pengantin baru yang sedang panas-panasnya misalnya, maka seks sering dianggap sebagai kebutuhan pokok yang harus selalu dipenuhi.
Tidak terpenuhinya kebutuhan pokok bisa memicu berbagai reaksi biologis maupun psikologis, meski dalam banyak hal keduanya tidak bisa saling dipisahkan. Dampak psikologis dari puasa seks sering memicu respons biologis, sebaliknya gangguan secara biologis bisa mempengaruhi mood atau suasana hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Gugup yang berlebihan
2. Gelisah dan migrain yang lama dan tidak diketahui penyebabnya
3. Stres yang tidak berkesudahan
4. Nafsu makan berkurang
5. Perasaan yang terbolak-balik, yang biasanya suka jadi benci dan sebaliknya
6. Fantasi seks yang kerap muncul, terutama di malam hari.
Dalam kasus yang lebih ekstrem, kebutuhan untuk segera melampiaskan hasrat seksual bisa memicu gejala fisik yang lebih parah seperti gatal-gatal di permukaan kulit, bahkan sampai iritasi. Emosi juga seringkali tidak stabil, misalnya jadi mudah marah.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi intensitas gejala maupun seberapa lama seseorang bisa menahan puasa bercinta, misalnya usia, gaya hidup, kondisi fisik, kehamilan, menopause dan kehidupan seksualnya itu sendiri. Tidak ada standar yang pasti, hanya saja kalau sangat susah menahan maka sering dikategorikan hiperseks.
Selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, gejala-gejala tersebut umumnya bisa reda dengan sendirinya asalkan bisa mengalihkan pikiran ke hal lain. Juga dengan memahami gejala-gejala tersebut, orang akan lebih mudah untuk berusaha memikirkan hal lain.
Jika sudah punya pasangan tentu lebih mudah, masing-masing bisa saling menguatkan bahwa semua itu akan segera berlalu begitu mendapat waktu dan tempat untuk menyalurkan hasrat seksual. Sedangkan bagi yang tidak punya pasangan, pilihannya mungkin tidak banyak yakni antara bersabar atau segera cari pasangan.
(up/ir)











































