Menurut peneliti, pria yang telah dikhitan sejak kecil atau ketika beranjak dewasa dilaporkan kurang dapat merasakan kenikmatan seksual dan orgasme.
"Namun kami tak tidak mengatakan adanya penurunan aktivitas seksual maupun kepuasannya, hanya sensitivitas penisnya saja yang berkurang," kata peneliti Dr. Piet Hoebeke dari Ghent University Hospital, Belgia seperti dikutip dari nydailynews, Minggu (17/2/2013).
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal BJU International ini didasarkan pada pengamatan terhadap 1.369 pria berusia di atas 18 tahun yang diminta mengisi leaflet berisi kuesioner yang dibagikan di berbagai stasiun di penjuru Belgia.
Kuesioner tersebut berisi sejumlah pertanyaan seperti apakah partisipan melakukan khitan atau tidak, seberapa sensitif penis partisipan, seberapa intens orgasme yang dimiliki partisipan ketika berhubungan seksual dan apakah partisipan pernah mengalami nyeri atau mati rasa saat terangsang.
Tingkat sensitivitas penis partisipan pun dinilai menggunakan skala 0-5 dengan angka tertinggi menunjukkan tingkat sensitivitas penis paling tinggi.
Dari situ diketahui bahwa 310 responden dikhitan dan 1.059 responden lainnya tidak melakukan prosedur tersebut. Tapi pria yang tidak disunat dilaporkan memiliki tingkat sensitivitas penis dan kenikmatan seksual antara 0,2 hingga 0,4 lebih tinggi ketika kepala penisnya (glans) dibelai, dibandingkan dengan pria yang disunat. Selain itu, pria yang tidak disunat dilaporkan memiliki orgasme yang lebih intens.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hoebeke dan rekan-rekannya, perbedaan sensitivitas ini terjadi karena bagian kulit yang diambil (foreskin) saat khitan itu sebenarnya melindungi kepala penis ketika bergesekan dengan celana dalam dan pakaian. Jadi karena bagian kulit tersebut dihilangkan maka kepala penis pria yang dikhitan menjadi lebih tebal, lebih kering sekaligus menjadi kurang sensitif.
Kendati begitu pakar lain, Dr. Aaron Tobian dari Hopkins University, Baltimore, AS justru melihat manfaatb besar dari khitan.
"Temuan ini tampaknya mengabaikan berbagai bukti medis yang menyatakan besarnya manfaat kesehatan prosedur ini. Di luar sana tak ada vaksin yang bisa mengurangi risiko HIV hingga 60 persen, herpes 30 persen dan kanker penis yang menyebabkan HPV sebesar 35 persen seperti halnya khitan," tutup Tobian.
(/)










































