Gatal, Bengkak dan Sesak Napas Usai Bercinta? Awas Alergi Sperma

Gatal, Bengkak dan Sesak Napas Usai Bercinta? Awas Alergi Sperma

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Minggu, 14 Apr 2013 16:16 WIB
Gatal, Bengkak dan Sesak Napas Usai Bercinta? Awas Alergi Sperma
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Normalnya, berhubungan seks adalah aktivitas yang menyenangkan. Namun tidak demikian bagi penderita alergi sperma, yang ternyata tidak sejarang yang diduga. Gatal-gatal, bengkak dan sesak napas bisa muncul tiba-tiba usai bercinta.

Di Amerika Serikat, diperkirakan 20.000 hingga 40.000 perempuan hidup dengan alergi sperma. Sumber lain memperkirakan, kurang dari 2 persen pasangan subur dan 5 hingga 25 persen pasangan tidak subur juga memiliki masalah dengan alergi sperma.

Pada umumnya, sel sperma bukan penyebab reaksi alergi yang selama ini dikenal sebagai alergi sperma. Plasma atau cairan pengangkut sperma lebih sering terbukti sebagai penyebab alergi, sehingga lebih tepat disebut dengan istilah Seminal Plasma Hypersensitivity.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala seperti gatal-gatal dan bengkak pada bibir vagina sering ditemukan pada penderita alergi yang baru pertama kali berhubungan seks. Meski jarang, ada juga yang baru mengalaminya setelah beberapa kali berhubungan seks dengan orang yang sama.

Abstinence atau puasa berhubungan seks selama beberapa waktu juga sering menjadi pemicu alergi, misalnya setelah hamil dan melahirkan. Saat mulai berhubungan seks lagi, alergi bisa muncul begitu saja meski sebelumnya tidak ada riwayat alergi.

Tingkat keparahan gejala bervariasi pada setiap individu, mulai dari bengkak dan gatal-gatal hingga yang paling parah sesak napas. Durasinya juga berbeda-beda, ada yang cuma 20 menit tetapi sering pula dijumpai hingga lebih dari sehari seperti dikutip dari Daily Mail, Minggu (14/4/2013).

Meski sering tidak terdiagnosis, pengatasannya sebenarnya sangat mudah. Dokter akan memisahkan berbagai komponen penyusun plasma sperma lalu melakukan tes untuk menentukan komponen mana yang memicu reaksi alergi. Begitu ditemukan, dokter akan melakukan desensitisasi pada pasien.

Cara lain yang lebih mudah adalah dengan menghindari kontak langsung dengan cairan semen yang membawa sperma, yakni dengan menggunakan kondom. Hanya saja, jika ingin merencakan punya anak maka harus melalui pembuahan berbantu agar tidak alergi saat kondom dilepas.

(up/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads