Sebuah penelitian yang dimuat di American Journal of Epidemology menunjukkan bahwa risiko mengalami disfungsi ereksi bisa dilihat dari kaki. Makin tinggi risiko susah ereksi, makin besar pula kemungkinan mengalami restless leg syndrome atau sindrome kaki gelisah.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan dari Harvard Medical School membagikan kuesioner kepada 10.394 laki-laki untuk menanyakan riwayat restless leg syndrome yang mungkin pernah dialami. Hasil pengisian kuesioner dibandingkan dengan pengamatan 6 tahun kemudian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ereksi.
Kemungkinan penyebabnya adalah defisiensi atau kekurangan hormon dopamin, yang dialami oleh sebagian besar penderita restless leg syndrome. Bagi seorang laki-laki sehat, dopamin itu sendiri berfungsi sebagai neurotransmitter utama untuk bisa ereksi.
"Saat kadarnya sedikit, kekurangan dopamin bisa memicu disfungsi ereksi," kata Xiang Gao, MD yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari MensHealth, Senin (13/5/2013).
Restless leg syndrome atau sindrom kaki gelisah itu sendiri adalah sejenis gangguan sistem saraf yang membuat kaki tidak bisa diam. Saat duduk, bisa menyebabkan kaki naik turun seperti sedang menjahit dengan mesin jahit manual sedangkan saat tidur bisa bikin kaki menendang-nendang sepanjang malam.
(up/)











































