Rabu, 24 Jul 2013 09:27 WIB

Studi: Kecanduan Seks Itu Tidak Ada, Hanya Libido yang Sedang Tinggi

- detikHealth
ilustrasi (Foto: ThinkStock)
Jakarta - Beberapa orang ada yang sulit mengatur dorongan seks. Mereka lantas diberi label kecanduan seks atau hiperseks. Problematika ini disalahkan atas rusaknya hubungan dan karir seseorang. Namun penelitian menemukan bahwa kecanduan ini hanyalah peningkatan gairah seksual biasa.

Sebuah penelitian terhadap otak orang-orang yang mengalami hiperseks menunjukkan bahwa mereka ini sebenarnya hanya memiliki dorongan seks yang tinggi serta keinginan yang lebih besar akan seks. Namun bukan berarti orang-orang ini mengalami cacat mental atau sampai kecanduan.

"Mungkin ini adalah temuan penting. Ini adalah pertama kalinya para ilmuwan mempelajari respon otak khusus pada orang-orang yang menganggap dirinya memiliki masalah hiperseksual," kata peneliti, Nicole Prause, Ph.D, seperti dilansir Medical Daily, Rabu (24/7/2013).

Penelitian ini melibatkan 52 orang relawan yang terdiri dari 39 pria dan 13 wanita berusia 18 - 39 tahun. Kesemuanya mengaku sulit mengendalikan keinginannya untuk tidak melihat foto seksual. Mereka diminta mengisi kuesioner tentang berbagai topik, termasuk perilaku seksual, hasrat seksual, dorongan seksual, dan dampak negatif dari perilakunya.

Hasilnya, para peserta memiliki perilaku yang sama seperti individu yang didiagnosis gangguan mental hiperseks. Padahal diagnosis hiperseks atau kecanduan seks identik dengan orang yang tak bisa mengontrol dorongan seks, banyak melakukan perilaku seksual dan mengalami perceraian atau kehancuran ekonomi akibatnya.

Untuk menguji apakah peserta mengalami kecanduan seks atau hanya sekadar memiliki keinginan seksual, peneliti menunjukkan peserta sekelompok foto yang dapat membangkitkan perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan, lalu dicatat responsnya.

"Foto-foto tersebut termasuk foto orang menyiapkan makanan, bermain ski, dan tentu saja, seks Beberapa foto seksual ada yang memuat hal yang romantis, sementara yang lain menunjukkan hubungan eksplisit antara seorang pria dan seorang wanita," kata Prause

Para peserta dimonitor menggunakan electroencephalography untuk mengukur gelombang otak atau aktivitas listrik yang dihasilkan sel saraf ketika berkomunikasi. Para peneliti mengira peserta yang hiperseks tidak akan menanggapi foto seksual atau setidaknya menghasilkan respon yang sama dengan foto non-seksual.

Namun respon yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tidak ada perubahan gelombang otak terkait gangguan hiperseks yang dialami peserta. Jadi walau ada banyak spekulasi tentang efek dari kecanduan seksual atau hiperseks di otak, peneliti tidak menemukan adanya bukti yang mendukung.

"Bahkan hasrat seksual yang tinggi juga bisa berkaitan dengan masalah keuangan, hubungan, dan perilaku seksual yang dihadapi para peserta. Respon otak hanya berkaitan dengan ukuran hasrat seksual. Dengan kata lain, hiperseks tampaknya tidak jauh berbeda dengan respon otak saat melihat foto seksual saat memiliki gairah seksual yang tinggi," kata Prause.

(pah/vit)