Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine ini mengungkapkan baik sang ibu maupun sang ayah baru sebenarnya sama-sama merasakan naik-turunnya gairah seksual di bulan-bulan awal pasca kelahiran putra/putri mereka.
Kendati studi-studi sebelumnya lebih banyak mengamati tentang kehidupan seksual para ibu baru pasca persalinan, tim peneliti dari University of Michigan, AS justru ingin melihat bagaimana tingkat gairah seksual pasangannya setelah hadirnya si buah hati. Untuk itu, peneliti merekrut 114 pria yang pasangannya baru saja melahirkan dalam kurun tujuh tahun belakangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, hampir 70 persen partisipan yang pernah melakukan seks oral sebelum kelahiran anaknya mengaku mulai melakukannya lagi dalam kurun waktu yang sama yaitu tiga bulan pasca persalinan. Tapi yang paling menonjol adalah para suami yang kehilangan ketertarikan untuk bercinta pasca kehadiran si buah hati memiliki alasan yang sama dengan para ibu, yaitu akibat stres, kelelahan dan kurangnya waktu luang.
Untuk menanggulangi hal ini, banyak dokter yang merekomendasikan agar pasutri menunggu sampai 4-6 minggu pasca persalinan sebelum berhubungan seksual lagi. Hal ini akan memberi tubuh waktu yang memadai untuk memulihkan diri dari proses persalinan.
Bahkan beberapa wanita membutuhkan waktu lebih lama agar bisa diajak bercinta lagi oleh suaminya. Sebab kondisi pasca persalinan seperti kelelahan dan kegelisahan dapat menyebabkan gangguan libido, termasuk mempengaruhi gairah pasangan.
Beruntung studi yang sama memastikan hal-hal seperti luka jahitan pada vagina, cedera vagina lain yang didapat pasca persalinan atau kebijakan para ibu untuk menyusui bayinya tidaklah mempengaruhi hasrat seksual partisipan.
Faktanya peneliti mengungkapkan jika tingginya ketertarikan atau gairah seksual para suami justru dapat memompa libido para ibu baru.
(vit/)










































