Kisah Pria Penderita Priapism, Ereksi Bukannya Nikmat Malah Menderita

Kisah Pria Penderita Priapism, Ereksi Bukannya Nikmat Malah Menderita

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Selasa, 01 Okt 2013 09:01 WIB
Kisah Pria Penderita Priapism, Ereksi Bukannya Nikmat Malah Menderita
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Bagi kebanyakan pria, ereksi yang kuat dan berlangsung lama bisa jadi kebanggaan tersendiri. Tapi bagi pria penderita priapism, ereksi yang berkepanjang justru membuatnya amat menderita.

Priapism adalah kondisi ereksi yang berlangsung selama lebih dari 4 jam tanpa adanya rangsangan seksual dan biasanya bersifat menyakitkan. Kondisi ini terjadi jika darah di penis terjebak dan tidak mampu mengalir, yang dapat terjadi pada semua kelompok umur termasuk bayi yang baru lahir. Jika tidak segera diobati maka bisa menyebabkan jaringan parut dan disfungsi ereksi permanen.

Nama penyakit ini diambil dari nama dewa kesuburan dalam mitologi Yunani, Priapus. Sesuai penggambaran Priapus yang punya kemaluan besar dan selalu dalam kondisi ereksi, penderita priapism juga memiliki penis yang selalu tegang pada saat-saat yang tak terduga sekalipun tidak ada hasrat dan rangsangan seksual.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini sering dipicu oleh overdosis obat-obat perangsang seperti viagra (sildenafril). Bisa juga dipicu oleh cedera sumsum tulang belakang, lalu menyebabkan aliran darah terkonsentrasi di suatu organ salah satunya alat kelamin yang secara anatomis letaknya cukup rendah untuk dialiri darah.

Berikut kisah pria-pria penderita priapism yang menderita karena ereksi, seperti dirangkum detikHealth, Selasa (1/10/2013):

1. Pria Iran Ereksi Selama 7 Hari

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Seorang pria Iran berusia 21 tahun yang tidak disebutkan identitasnya memutuskan untuk menato organ kelaminnya dengan huruf 'M', yang merupakan inisial dari nama belakang kekasihnya.

Tak disangka seminggu setelah menato penis, pria tersebut mengalami ereksi priapism 24 jam selama 7 hari. Tato penis bisa merusak organ kelamin pria bila dilakukan secara tradisional. Alasannya terdapat pada jarum yang digunakan dan tidak adanya kontrol dari kedalaman jarum.

Tentu saja tindakan tersebut dapat menyakitkan bagi organ kelamin pria, termasuk yang dirasakan pria Iran tersebut. Setelah beberapa hari, rasa sakit yang dirasakannya memang mereda. Tapi segera setelah itu, pria tersebut menyadari bahwa penisnya mulai mengalami ereksi malam yang berlangsung cukup lama. Seminggu kemudian, ia mengalami ereksi priapism 24 jam selama 7 hari.

2. David Miller

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
David Miller yang berasal dari New York mengalami kondisi yang tidak biasa. Dia menderita Priapism sejak kecil, yaitu kondisi ereksi yang berlangsung selama lebih dari 4 jam tanpa adanya rangsangan seksual dan biasanya bersifat menyakitkan.

David telah menderita kelainan ereksi yang menyakitkan tersebut selama bertahun-tahun. Untuk mengurangi rasa sakit yang menyiksa, ia mengonsumsi obat oksikodon yakni obat analgesik (penghilang rasa sakit) yang diresepkan untuk meredakan rasa nyeri sedang hingga berat. Karena rasa sakit yang dideritanya sangat menyiksa, David menjadi kecanduan obat penghilang rasa sakit.

Karena tak memiliki uang dan harus menanggung rasa sakit yang menyiksa, David rela melakukan apa saja demi membeli obat penghilang rasa sakit. Bahkan ia ditangkap karena diduga berusaha mencuri uang dari ayahnya sendiri untuk membeli obat yang bisa menghilangkan rasa sakit di penisnya.

3. Pria India Ereksi Selama 3 Minggu

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Ahli bedah di sebuah rumah sakit di Kolkata, India terpaksa melakukan operasi darurat terhadap seorang pengusaha berusia 55 tahun karena mengalami ereksi yang tak kunjung henti hingga 21 hari.

Pembedahan ini dilakukan untuk membantu pengusaha tersebut keluar dari kesengsaran yang hampir membunuhnya. Meskipun operasi yang berlangsung selama 1 jam ini berhasil, tapi laki-laki tersebut kini terpaksa harus mengalami impotensi.

Dokter mengungkapkan bahwa ayah dari dua anak ini tidak menggunakan obat Viagra untuk meningkatkan hasrat seksualnya. Tapi dokter meyakini bahwa laki-laki tersebut mengalami suatu kondisi yang disebut dengan priapism yang dipicu oleh gangguan sistem saraf.

4. Daren Scott

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Seorang sopir bus bernama Daren Scott dari Brockton Amerika, tiba-tiba mengalami kondisi penis berdiri hingga 4 jam. Ia datang ke rumas sakit tapi tenaga medis tak langsung menolongnya hingga kemaluannya berdiri selama 5 jam.

Karena merasa diacuhkan saat mengalami penis berdiri yang menyakitkan, pria asal Massachusetts menggugat Yale-New Haven Hospital. Dengan alasan staf perawatan kesehatan di rumah sakit tersebut terlalu asik menonton televisi tanpa mempedulikan pasien.

Menurut The Associated Press, Scott menderita kondisi yang dikenal sebagai priapism, sakit langka yang menyebabkan penis tetap tegak selama lebih dari 4 jam pada suatu waktu, tanpa adanya rangsangan psikologis atau fisik.

Scott dilaporkan sedang mengemudikan busnya dari Boston ke New York pada April 2009 ketika dirinya mengalami ereksi menyakitkan. Setelah mengantarkan penumpang bus, Scott memeriksakan kondisinya ke Yale-New Haven Hospital.

5. Gentil Ramirez Polania

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Gara-gara ingin memuaskan pasangan, Gentil Ramirez Polania, pria Colombia yang sudah berumur mengonsumsi obat kuat Viagra. Sayangnya karena terlalu banyak, ia mengalami overdosis yang membuat penisnya tak berhenti ereksi lalu harus diamputasi.

Laki-laki 66 tahun asal Gigante, Colombia ini mengalami ereksi selama beberapa hari hingga harus dilarikan ke dokter. Dalam istilah medis, ereksi yang berkepanjangan disebut dengan priapism. Tidak hanya ereksi sampai sakit, kelamin milik laki-laki tersebut juga mengalami gangrene atau kematian jaringan.

Dokter di Gigante merujuknya ke sebuah fasilitas kesehatan di Neiva. Tim dokter di tempat itu akhirnya mendiagnosis bahwa kelamin milik si laki-laki mengalami radang, bengkak, dan fraktur alias patah. Para dokter mengatakan tidak ada pilihan lain bagi si laki-laki. Penisnya harus diamputasi agar gangrene tidak meluas ke bagian tubuh yang lain.

6. Henry Wolf

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Seorang lelaki di California, Henry Wolf, sejak Mei 2010 mengalami ereksi permanen yang menyakitkan setelah melakukan touring berjam-jam dengan mengendarai sepeda motor.

Laki-laki tersebut, pada Mei 2012 tengah mengajukan gugatan pada BMW, perusahaan yang memproduksi sepeda motor miliknya. Selain itu ia juga menggugat Corbin-Pasific, perusahaan pembuat jok khusus sepeda motor yang dipakainya selama touring karena dianggapnya tidak nyaman.

Henry meyakini, touring yang dilakukannya dengan motor BMW keluaran 1993 pada 1 Mei 2010, telah membuatnya menderita sampai sekarang. Kemaluannya mengalami ereksi permanen, sampai terasa sangat sakit karena posisinya selalu berdiri.
Halaman 2 dari 7
Seorang pria Iran berusia 21 tahun yang tidak disebutkan identitasnya memutuskan untuk menato organ kelaminnya dengan huruf 'M', yang merupakan inisial dari nama belakang kekasihnya.

Tak disangka seminggu setelah menato penis, pria tersebut mengalami ereksi priapism 24 jam selama 7 hari. Tato penis bisa merusak organ kelamin pria bila dilakukan secara tradisional. Alasannya terdapat pada jarum yang digunakan dan tidak adanya kontrol dari kedalaman jarum.

Tentu saja tindakan tersebut dapat menyakitkan bagi organ kelamin pria, termasuk yang dirasakan pria Iran tersebut. Setelah beberapa hari, rasa sakit yang dirasakannya memang mereda. Tapi segera setelah itu, pria tersebut menyadari bahwa penisnya mulai mengalami ereksi malam yang berlangsung cukup lama. Seminggu kemudian, ia mengalami ereksi priapism 24 jam selama 7 hari.

David Miller yang berasal dari New York mengalami kondisi yang tidak biasa. Dia menderita Priapism sejak kecil, yaitu kondisi ereksi yang berlangsung selama lebih dari 4 jam tanpa adanya rangsangan seksual dan biasanya bersifat menyakitkan.

David telah menderita kelainan ereksi yang menyakitkan tersebut selama bertahun-tahun. Untuk mengurangi rasa sakit yang menyiksa, ia mengonsumsi obat oksikodon yakni obat analgesik (penghilang rasa sakit) yang diresepkan untuk meredakan rasa nyeri sedang hingga berat. Karena rasa sakit yang dideritanya sangat menyiksa, David menjadi kecanduan obat penghilang rasa sakit.

Karena tak memiliki uang dan harus menanggung rasa sakit yang menyiksa, David rela melakukan apa saja demi membeli obat penghilang rasa sakit. Bahkan ia ditangkap karena diduga berusaha mencuri uang dari ayahnya sendiri untuk membeli obat yang bisa menghilangkan rasa sakit di penisnya.

Ahli bedah di sebuah rumah sakit di Kolkata, India terpaksa melakukan operasi darurat terhadap seorang pengusaha berusia 55 tahun karena mengalami ereksi yang tak kunjung henti hingga 21 hari.

Pembedahan ini dilakukan untuk membantu pengusaha tersebut keluar dari kesengsaran yang hampir membunuhnya. Meskipun operasi yang berlangsung selama 1 jam ini berhasil, tapi laki-laki tersebut kini terpaksa harus mengalami impotensi.

Dokter mengungkapkan bahwa ayah dari dua anak ini tidak menggunakan obat Viagra untuk meningkatkan hasrat seksualnya. Tapi dokter meyakini bahwa laki-laki tersebut mengalami suatu kondisi yang disebut dengan priapism yang dipicu oleh gangguan sistem saraf.

Seorang sopir bus bernama Daren Scott dari Brockton Amerika, tiba-tiba mengalami kondisi penis berdiri hingga 4 jam. Ia datang ke rumas sakit tapi tenaga medis tak langsung menolongnya hingga kemaluannya berdiri selama 5 jam.

Karena merasa diacuhkan saat mengalami penis berdiri yang menyakitkan, pria asal Massachusetts menggugat Yale-New Haven Hospital. Dengan alasan staf perawatan kesehatan di rumah sakit tersebut terlalu asik menonton televisi tanpa mempedulikan pasien.

Menurut The Associated Press, Scott menderita kondisi yang dikenal sebagai priapism, sakit langka yang menyebabkan penis tetap tegak selama lebih dari 4 jam pada suatu waktu, tanpa adanya rangsangan psikologis atau fisik.

Scott dilaporkan sedang mengemudikan busnya dari Boston ke New York pada April 2009 ketika dirinya mengalami ereksi menyakitkan. Setelah mengantarkan penumpang bus, Scott memeriksakan kondisinya ke Yale-New Haven Hospital.

Gara-gara ingin memuaskan pasangan, Gentil Ramirez Polania, pria Colombia yang sudah berumur mengonsumsi obat kuat Viagra. Sayangnya karena terlalu banyak, ia mengalami overdosis yang membuat penisnya tak berhenti ereksi lalu harus diamputasi.

Laki-laki 66 tahun asal Gigante, Colombia ini mengalami ereksi selama beberapa hari hingga harus dilarikan ke dokter. Dalam istilah medis, ereksi yang berkepanjangan disebut dengan priapism. Tidak hanya ereksi sampai sakit, kelamin milik laki-laki tersebut juga mengalami gangrene atau kematian jaringan.

Dokter di Gigante merujuknya ke sebuah fasilitas kesehatan di Neiva. Tim dokter di tempat itu akhirnya mendiagnosis bahwa kelamin milik si laki-laki mengalami radang, bengkak, dan fraktur alias patah. Para dokter mengatakan tidak ada pilihan lain bagi si laki-laki. Penisnya harus diamputasi agar gangrene tidak meluas ke bagian tubuh yang lain.

Seorang lelaki di California, Henry Wolf, sejak Mei 2010 mengalami ereksi permanen yang menyakitkan setelah melakukan touring berjam-jam dengan mengendarai sepeda motor.

Laki-laki tersebut, pada Mei 2012 tengah mengajukan gugatan pada BMW, perusahaan yang memproduksi sepeda motor miliknya. Selain itu ia juga menggugat Corbin-Pasific, perusahaan pembuat jok khusus sepeda motor yang dipakainya selama touring karena dianggapnya tidak nyaman.

Henry meyakini, touring yang dilakukannya dengan motor BMW keluaran 1993 pada 1 Mei 2010, telah membuatnya menderita sampai sekarang. Kemaluannya mengalami ereksi permanen, sampai terasa sangat sakit karena posisinya selalu berdiri.

(mer/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads