"Kalau pemakaian obat kuat yang sembarangan, efeknya macam-macam, bisa hipertensi bahkan sampai kematian. Carilah dokter yang akan memberikan obat itu, jadi kalau ada apa-apa yang bertanggung jawab adalah dokternya dan jangan beli sendiri," tutur dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd kepada detikHealth saat ditemui di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (7/10/2013).
Apalagi obat-obat yang dijual di pinggir jalan menurut dr Nugroho banyak yang palsu. Oleh karena itu, sangat diperlukan edukasi kepada masyarakat jika ingin membeli obat kuat guna menambah performanya saat bercinta, maka orang tersebut harus ke dokter. Setelah berkonsultasi dengan dokter, sebaiknya belilah obat itu di apotek yang jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pria kelahiran Yogya 57 tahun lalu ini , pada dasarnya, obat seks terdiri dari tiga macam yakni obat untuk meningkatkan gairah seperti suplemen hormon testosteron, obat seks untuk meningkatkan ereksi seperti viagra, dan fitofarmaka atau terkenal afrodisiak.
Fitofarmaka adalah bahan yang berasal dari hewan atau tumbuh-tumbuhan yang diyakini ada pengaruhnya terhadap fungsi seksual. Sayangnya, di Indonesia, saat ini banyak obat-obatan yang diakui sebagai obat herbal tapi ternyata memiliki respons yang cepat.
"Misalnya dulu itu blue moon itu disebut isinya herbal, tapi dalam waktu sebentar ereksi. Itu hampir pasti dia menipu, dia bukan herbal murni pasti dicampuri obat kimia yang tidak disebutkan apa namanya dan komposisinya berapa," kata dr Nugroho.
Maka dari itu, ia menghimbau masyarakat untuk bertindak cermat sebab obat yang murni herbal tidak akan berpengaruh secepat itu. Ia juga mencontohkan afrodisiak yang sering diginakan pada zaman dulu seperti akar bahar, gingseng korea, atau tongkat ali, tidak memiliki respons yang cepat.
Biasanya reaksi baru dirasakan setelah dikonsumsi tujuh hingga sepuluh hari. Khusus untuk gingseng korea, dr Nugroho pun menegaskan bahwa tidak bisa disamakan efek antara gingseng Korea yang ditanam di daerah asalnya dengan yang ditanam di Indonesia.
"Jelas beda efeknya karena unsur hara tanah tempat dia ditanam beda, sehingga tidak bisa disamakan efeknya," kata dr Nugroho.
Terkait pemakaian obat guna meningkatkan hormon testosteron, menurut dr Nugroho sifatnya hanya sebatas pengobatan karena obat itu diberikan selama hormon testosteron seseorang masih kurang. Sebaliknya, jika hormonnya sudah cukup tapi obat itu tetap diberikan, maka spermatogenesis yang dihasilkan tubuh bisa terlalu sedikit karena sudah mendapat asupan dari luar.
(/)










































