Jakarta -
Sperma sehat dengan jumlah yang cukup dibutuhkan untuk dapat membuahi sel telur dan menghasilkan keturunan. Namun beberapa kondisi tubuh dan penyakit pada pria dapat menurunkan jumlah sperma dan merusak kualitasnya.
Produksi sperma adalah proses yang kompleks dan memerlukan fungsi normal dari buah zakar atau testis, serta hipotalamus dan kelenjar hipofisis, yaitu organ dalam otak yang memproduksi hormon yang memicu produksi sperma.
Setelah sperma diproduksi di testis, tabung halus mengangkutnya sampai bercampur dengan air mani dan ejakulasi dari penis. Masalah dengan sistem ini dapat mempengaruhi produksi sperma. Juga, ada masalah bentuk sperma yang abnormal (morfologi) atau gerakan (motilitas).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi jumlah sperma sedikit saat ejakulasi disebut juga dengan oligospermia atau oligozoospermia. Oligospermia terjadi bila jumlah sperma pria kurang dari 20 juta/ml dan kondisi ini bisa menjadi faktor risiko utama infertilitas atau kemandulan.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan oligospermia, salah satunya penyakit-penyakit yang bisa membahayakan buah zakar sebagai 'pabrik' sperma.
Berikut daftar penyakit yang bisa merusak dan menurunkan jumlah sperma, seperti dilansir Mayoclinic, Kamis (21/11/2013):
1. Varikokel
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Varikokel merupakan gangguan varises pembuluh darah balik pada bagian kepala buah zakar. Ini adalah penyebab umum dari ketidaksuburan pria. Kondisi ini dapat mencegah proses pendinginan normal testis, yang mengarah pada pengurangan jumlah sperma dan lebih sedikit sperma yang bergerak.
2. Infeksi
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Beberapa infeksi dapat mengganggu produksi sperma dan kesehatan sperma atau dapat menyebabkan jaringan parut yang menghalangi lewatnya sperma.
Contoh infeksi yang dapat membahayakan sperma antara lain infeksi menular seksual, seperti klamidia dan gonore (kencing nanah), radang prostat (prostatitis), testis meradang karena gondongan (mumps orchitis), dan infeksi lain dari saluran kemih atau organ reproduksi.
3. Retrograde ejaculation
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Retrograde ejaculation terjadi ketika air mani memasuki kandung kemih selama orgasme, bukan muncul dari ujung penis. Berbagai kondisi kesehatan dapat menyebabkan retrograde ejaculation, seperti diabetes, cedera tulang belakang, operasi kandung kemih, prostat atau uretra. Obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan retrograde ejaculation, seperti obat tekanan darah yang dikenal sebagai alpha blocker.
Beberapa pria dengan cedera tulang belakang atau penyakit tertentu tidak dapat mengejakulasikan air mani sama sekali, meskipun mereka masih bisa memproduksi sperma.
4. Antibodi yang menyerang sperma
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Antibodi anti-sperma adalah sel sistem kekebalan tubuh yang keliru mengidentifikasi sperma sebagai penyerbu berbahaya dan mencoba untuk menghancurkannya. Kondisi ini terutama sering terjadi pada pria yang pernah menjalani vasektomi.
5. Tumor
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Kanker dan tumor nonmalignant dapat mempengaruhi organ reproduksi laki-laki secara langsung, atau dapat mempengaruhi kelenjar yang melepaskan hormon yang berhubungan dengan reproduksi (seperti kelenjar hipofisis). Pembedahan, radiasi atau kemoterapi untuk mengobati tumor juga dapat mempengaruhi kesuburan pria.
Varikokel merupakan gangguan varises pembuluh darah balik pada bagian kepala buah zakar. Ini adalah penyebab umum dari ketidaksuburan pria. Kondisi ini dapat mencegah proses pendinginan normal testis, yang mengarah pada pengurangan jumlah sperma dan lebih sedikit sperma yang bergerak.
Beberapa infeksi dapat mengganggu produksi sperma dan kesehatan sperma atau dapat menyebabkan jaringan parut yang menghalangi lewatnya sperma.
Contoh infeksi yang dapat membahayakan sperma antara lain infeksi menular seksual, seperti klamidia dan gonore (kencing nanah), radang prostat (prostatitis), testis meradang karena gondongan (mumps orchitis), dan infeksi lain dari saluran kemih atau organ reproduksi.
Retrograde ejaculation terjadi ketika air mani memasuki kandung kemih selama orgasme, bukan muncul dari ujung penis. Berbagai kondisi kesehatan dapat menyebabkan retrograde ejaculation, seperti diabetes, cedera tulang belakang, operasi kandung kemih, prostat atau uretra. Obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan retrograde ejaculation, seperti obat tekanan darah yang dikenal sebagai alpha blocker.
Beberapa pria dengan cedera tulang belakang atau penyakit tertentu tidak dapat mengejakulasikan air mani sama sekali, meskipun mereka masih bisa memproduksi sperma.
Antibodi anti-sperma adalah sel sistem kekebalan tubuh yang keliru mengidentifikasi sperma sebagai penyerbu berbahaya dan mencoba untuk menghancurkannya. Kondisi ini terutama sering terjadi pada pria yang pernah menjalani vasektomi.
Kanker dan tumor nonmalignant dapat mempengaruhi organ reproduksi laki-laki secara langsung, atau dapat mempengaruhi kelenjar yang melepaskan hormon yang berhubungan dengan reproduksi (seperti kelenjar hipofisis). Pembedahan, radiasi atau kemoterapi untuk mengobati tumor juga dapat mempengaruhi kesuburan pria.
(mer/vit)