1. Penyakit jantung
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Perlu diketahui, untuk dapat ereksi dengan sempurna, penis membutuhkan elastisitas pembuluh darah dan ritme jantung yang stabil untuk memompa darah ke bagian tersebut. Pengerasan arteri dan penyumbatan oleh plak dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Orang dengan penyakit jantung juga memiliki kondisi jantung yang abnormal, yang tidak memungkinkan darah terpompa secara baik ke bagian kelamin.
2. Diabetes
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Kadar gula yang tidak terkontrol, secara langsung maupun tidak langsung bisa menyebabkan penis tidak bisa berdiri. Impotensi terjadi karena pasien diabetes mengalami gangguan pada saraf. Gangguan ini menyebabkan sensitivitas penis berkurang, selain juga mengalami gangguan pembuluh darah yang membuat aliran darah ke organ ini terhambat. Untuk ereksi, tentunya dibutuhkan aliran darah yang cukup.
Namun demikian, tidak semua pasien diabetes mengalami impotensi karena diabetesnya secara langsung. Sebagian lagi karena mengalami depresi akibat penyakit tersebut dan secara psikologis mempengaruhi gairah seksual maupun kepercayaan dirinya.
3. Hipertensi dan obesitas
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Laki-laki dengan hipertensi dan obesitas berisiko 2 kali lebih tinggi memiliki kadar hormon testosteron yang rendah. Kadar hormon testosteron yang normal diperlukan untuk mempertahankan tingkat energi, menimbulkan mood, serta dorongan seksual yang baik. Seseorang dengan hipertensi memiliki risiko 52 persen lebih tinggi mengidap disfungsi ereksi.
4. Penyakit peripheral vascular
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Penyakit peripheral vascular secara bertahap menyebabkan impotensi. Pada penyakit ini pembuluh darah perifer, dinding arteri dan vena yang mengarah ke daerah genital terganggu sehingga aliran darah ke penis tersumbat. Gangguan jantung, gagal ginjal, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan diabetes bisa membuat dinding kontraktil di pembuluh darah mengeras atau sempit.
5. Kerusakan penis
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Segala bentuk kerusakan struktur pada penis bisa menyebabkan disfungsi ereksi, salah satu penyebab utamanya adalah herpes genital yang diikuti oleh sebab lain seperti tumor dan kista di penis, serta pencabutan kulup. Selain itu penis yang melengkung tidak normal atau penyakit peyronie juga bisa menyebabkan impotensi.
6. Masalah psikologis
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Penyebab psikologis ini berkisar pada trauma depresi, stres dan kecemasan. Jika akibat depresi maka perlu ditangani dengan hati-hati, karena frustasi dengan kondisi ini bisa menyebabkan depresi lebih lanjut sehingga membentuk lingkaran setan. Kadang gugup atau takut pasangan merasa tidak terpuaskan bisa menyebabkan impotensi. Seseorang yang depresi memiliki risiko 90 persen untuk mengalami disfungsi ereksi.
Perlu diketahui, untuk dapat ereksi dengan sempurna, penis membutuhkan elastisitas pembuluh darah dan ritme jantung yang stabil untuk memompa darah ke bagian tersebut. Pengerasan arteri dan penyumbatan oleh plak dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Orang dengan penyakit jantung juga memiliki kondisi jantung yang abnormal, yang tidak memungkinkan darah terpompa secara baik ke bagian kelamin.
Kadar gula yang tidak terkontrol, secara langsung maupun tidak langsung bisa menyebabkan penis tidak bisa berdiri. Impotensi terjadi karena pasien diabetes mengalami gangguan pada saraf. Gangguan ini menyebabkan sensitivitas penis berkurang, selain juga mengalami gangguan pembuluh darah yang membuat aliran darah ke organ ini terhambat. Untuk ereksi, tentunya dibutuhkan aliran darah yang cukup.
Namun demikian, tidak semua pasien diabetes mengalami impotensi karena diabetesnya secara langsung. Sebagian lagi karena mengalami depresi akibat penyakit tersebut dan secara psikologis mempengaruhi gairah seksual maupun kepercayaan dirinya.
Laki-laki dengan hipertensi dan obesitas berisiko 2 kali lebih tinggi memiliki kadar hormon testosteron yang rendah. Kadar hormon testosteron yang normal diperlukan untuk mempertahankan tingkat energi, menimbulkan mood, serta dorongan seksual yang baik. Seseorang dengan hipertensi memiliki risiko 52 persen lebih tinggi mengidap disfungsi ereksi.
Penyakit peripheral vascular secara bertahap menyebabkan impotensi. Pada penyakit ini pembuluh darah perifer, dinding arteri dan vena yang mengarah ke daerah genital terganggu sehingga aliran darah ke penis tersumbat. Gangguan jantung, gagal ginjal, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan diabetes bisa membuat dinding kontraktil di pembuluh darah mengeras atau sempit.
Segala bentuk kerusakan struktur pada penis bisa menyebabkan disfungsi ereksi, salah satu penyebab utamanya adalah herpes genital yang diikuti oleh sebab lain seperti tumor dan kista di penis, serta pencabutan kulup. Selain itu penis yang melengkung tidak normal atau penyakit peyronie juga bisa menyebabkan impotensi.
Penyebab psikologis ini berkisar pada trauma depresi, stres dan kecemasan. Jika akibat depresi maka perlu ditangani dengan hati-hati, karena frustasi dengan kondisi ini bisa menyebabkan depresi lebih lanjut sehingga membentuk lingkaran setan. Kadang gugup atau takut pasangan merasa tidak terpuaskan bisa menyebabkan impotensi. Seseorang yang depresi memiliki risiko 90 persen untuk mengalami disfungsi ereksi.
(mer/vta)