Kondisi ini berlaku utamanya bagi wanita paruh baya yang biasanya sudah malas bercinta. Temuan ini sendiri didasarkan pada pengamatan terhadap 602 wanita berusia 40-65 tahun yang diminta mengungkapkan seberapa aktif kehidupan seksual mereka dan seberapa penting seks bagi mereka.
Tiap partisipan juga mengerjakan sebuah tes yang khusus dirancang untuk mengukur fungsi seksual dan kesehatan mereka secara umum melalui serangkaian pertanyaan, seperti apakah mereka mengalami nyeri atau masalah lubrikasi saat bercinta atau tidak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya seberapa penting seks bagi mereka, hanya 10 persen partisipan menjawab sangat penting, sedangkan 50 persen lainnya mengatakan cukup penting dan 20 persen yang mengaku kurang begitu penting. Sisanya tidak menjawab.
Namun peneliti menemukan aktif tidaknya kehidupan seksual seorang wanita ternyata bukan semata dipengaruhi oleh kualitas fungsi seksual mereka.
"Faktanya meski mereka mungkin mengalami disfungsi seksual setelah diukur, bukan berarti mereka berhenti berhubungan intim sama sekali. Dan ini tak hanya berlaku untuk seks vaginal, mereka juga mementingkan bentuk seks lainnya seperti berciuman, sentuhan intim dan seks oral," imbuhnya.
Seperti dikutip dari Livescience, Selasa (18/2/2014), peneliti juga menemukan faktor lain yang bisa memprediksi seberapa lama aktivitas seksual mereka akan bertahan. Lagi-lagi tak ada kaitannya dengan usia, karena faktor lain seperti ras/etnis, tingkat pendidikan dan status pernikahan justru lebih berpengaruh.
(lll/)











































