Ereksi biasanya terjadi sebagai respons terhadap rangsangan fisik atau psikologis. Stimulasi ini menyebabkan pembuluh darah tertentu rileks dan meluas, meningkatkan aliran darah ke jaringan spons di penis. Akibatnya, penis terisi darah menjadi ereksi. Setelah rangsangan berakhir, darah mengalir keluar, dan penis kembali kondisi semula (nonrigid)
Priapism adalah ereksi berkepanjangan pada penis, yang tidak diinginkan, terus-menerus, tidak disebabkan oleh rangsangan seksual atau gairah, dan biasanya terasa menyakitkan.
Kondisi ini terjadi ketika beberapa bagian dari sistem ini, yaitu darah, pembuluh darah atau saraf, mengubah aliran darah normal. Selanjutnya, ereksi yang tidak diinginkan terjadi secara persisten.
Faktor-faktor yang dapat berkontribusi terhadap priapism antara lain sebagai berikut, seperti dikutip dari Mayo Clinic, Kamis (13/3/2014):
|
Ilustrasi/Thinkstock
|
1. Kelainan darah
|
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
Anemia sel sabit adalah penyebab paling umum dari priapism pada anak laki-laki. Anemia sel sabit merupakan kelainan bawaan yang ditandai dengan sel-sel darah merah berbentuk abnormal. Sel-sel berbentuk normal dapat memblokir aliran darah.
1. Kelainan darah
|
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
Anemia sel sabit adalah penyebab paling umum dari priapism pada anak laki-laki. Anemia sel sabit merupakan kelainan bawaan yang ditandai dengan sel-sel darah merah berbentuk abnormal. Sel-sel berbentuk normal dapat memblokir aliran darah.
2. Obat-obatan
|
Ilustrasi
|
- Obat oral yang digunakan untuk mengatasi disfungsi ereksi, seperti sildenafil (Viagra), tadalafil (Cialis) dan vardenafil (Levitra)
- Obat yang disuntikkan langsung ke dalam penis untuk mengobati disfungsi ereksi, seperti papaverine
- Antidepresan, seperti fluoxetine (Prozac) dan bupropion (Wellbutrin)
- Obat yang digunakan untuk mengobati gangguan psikotik, seperti risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa)
- Pengencer darah, seperti warfarin (Coumadin) dan heparin
2. Obat-obatan
|
Ilustrasi
|
- Obat oral yang digunakan untuk mengatasi disfungsi ereksi, seperti sildenafil (Viagra), tadalafil (Cialis) dan vardenafil (Levitra)
- Obat yang disuntikkan langsung ke dalam penis untuk mengobati disfungsi ereksi, seperti papaverine
- Antidepresan, seperti fluoxetine (Prozac) dan bupropion (Wellbutrin)
- Obat yang digunakan untuk mengobati gangguan psikotik, seperti risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa)
- Pengencer darah, seperti warfarin (Coumadin) dan heparin
3. Alkohol dan narkoba
|
Ilustrasi/Thinkstock
|
3. Alkohol dan narkoba
|
Ilustrasi/Thinkstock
|
4. Cedera
|
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
4. Cedera
|
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
5. Faktor lain
|
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
5. Faktor lain
|
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
Halaman 2 dari 12











































