Penis Pria Bisa Menyusut, Ini Dia Penyebabnya

Penis Pria Bisa Menyusut, Ini Dia Penyebabnya

- detikHealth
Rabu, 19 Mar 2014 15:34 WIB
Penis Pria Bisa Menyusut, Ini Dia Penyebabnya
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Karena merasa kurang percaya diri, tidak sedikit pria mencoba berbagai cara untuk membuat ukuran kelaminnya lebih besar. Tapi tanpa disadari, berbagai faktor justru bisa membuat penis semakin menyusut. Apa penyebabnya?

Saat sudah mencapai usia dewasa, penis pria yang mungil sudah tidak bisa lagi diperbesar dengan obat-obatan atau terapi pijat. Beberapa faktor bahkan bisa membuat penis tampak mengecil atau benar-benar menyusut.

Berikut beberapa faktor yang bisa bikin penis menyusut:


Ilustrasi (Foto: thinkstock)

1. Kegemukan

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
"Kegemukan bisa membuat penis tampak mengecil. Kegemukan bisa tidak merata di tubuh, ada yang di perut saja atau dada saja. Tapi pada orang obesitas, di pubis lemaknya bisa lebih tebal, sehingga penis jadi nggak kelihatan," jelas DR dr Indra G Mansur, DHES, SpAnd dari RSIA Sayyidah, saat berbincang dengan detikHealth, Rabu (19/3/2014).

Berat badan sendiri tidak mengubah ukuran penis sebenarnya (secara fisik), yang menjadi lebih pendek atau lebih panjang. Tetapi pria yang gemuk akan memiliki kantong lemak di daerah panggul sekitar penis.

Dalam keadaan bagaimanapun, lemak ini akan terlihat menggantung. Tapi bila seorang pria memiliki tubuh gemuk, maka jumlah lemak di daerah sekitar penis pun akan semakin banyak, dengan kata lain penis akan terlihat memendek karena tertutup lemak.

Secara fisik penis memang tidak lebih pendek, tetapi menjadi lebih pendek secara fungsional, karena semakin banyak lemak yang menutupi daerah sekitar penis maka kemungkinan penis melakukan penetrasi lebih dalam akan semakin kecil.

1. Kegemukan

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
"Kegemukan bisa membuat penis tampak mengecil. Kegemukan bisa tidak merata di tubuh, ada yang di perut saja atau dada saja. Tapi pada orang obesitas, di pubis lemaknya bisa lebih tebal, sehingga penis jadi nggak kelihatan," jelas DR dr Indra G Mansur, DHES, SpAnd dari RSIA Sayyidah, saat berbincang dengan detikHealth, Rabu (19/3/2014).

Berat badan sendiri tidak mengubah ukuran penis sebenarnya (secara fisik), yang menjadi lebih pendek atau lebih panjang. Tetapi pria yang gemuk akan memiliki kantong lemak di daerah panggul sekitar penis.

Dalam keadaan bagaimanapun, lemak ini akan terlihat menggantung. Tapi bila seorang pria memiliki tubuh gemuk, maka jumlah lemak di daerah sekitar penis pun akan semakin banyak, dengan kata lain penis akan terlihat memendek karena tertutup lemak.

Secara fisik penis memang tidak lebih pendek, tetapi menjadi lebih pendek secara fungsional, karena semakin banyak lemak yang menutupi daerah sekitar penis maka kemungkinan penis melakukan penetrasi lebih dalam akan semakin kecil.

2. Usia

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
"Penis juga bisa menyusut karena ketidakseimbangan hormon, termasuk hormon seks atau testosteron," tutur dokter yang juga praktik di RSIA Budhijaya, Jakarta.

Menurut dr Indra, kekurangan testosteron bisa membuat tonus otot pria mengecil, termasuk mengurangi tonus atau ketegangan di penis. Berkurangnya testosteron secara alamiah disebabkan oleh bertambahnya usia.

"Usia kan penurunan yang sifatnya grafiknya melandai. Efeknya libidonya menjadi kurang, tonus-tonus otot kaki mengecil, ototnya menjadi lebih kecil dibanding remaja. Penisnya juga ikut menyusut," tambah dr Indra.

2. Usia

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
"Penis juga bisa menyusut karena ketidakseimbangan hormon, termasuk hormon seks atau testosteron," tutur dokter yang juga praktik di RSIA Budhijaya, Jakarta.

Menurut dr Indra, kekurangan testosteron bisa membuat tonus otot pria mengecil, termasuk mengurangi tonus atau ketegangan di penis. Berkurangnya testosteron secara alamiah disebabkan oleh bertambahnya usia.

"Usia kan penurunan yang sifatnya grafiknya melandai. Efeknya libidonya menjadi kurang, tonus-tonus otot kaki mengecil, ototnya menjadi lebih kecil dibanding remaja. Penisnya juga ikut menyusut," tambah dr Indra.

3. Penyakit sistemik

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Pada orang-orang tertentu, bisa terjadi percepatan penurunan testosteron. Artinya, penurunan testosteron terjadi lebih cepat dari normal. Misal, seharusnya penurunan testosteron terjadi pada usia 70 tahun, tapi karena faktor tertentu bisa dipercepat hingga terjadi di usia 45 tahun.

"Biasanya karena penyakit yang sifatnya sistemik (mempengaruhi seluruh tubuh), seperti sakit ginjal, jantung, liver, diabetes," jelas dr Indra.

3. Penyakit sistemik

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Pada orang-orang tertentu, bisa terjadi percepatan penurunan testosteron. Artinya, penurunan testosteron terjadi lebih cepat dari normal. Misal, seharusnya penurunan testosteron terjadi pada usia 70 tahun, tapi karena faktor tertentu bisa dipercepat hingga terjadi di usia 45 tahun.

"Biasanya karena penyakit yang sifatnya sistemik (mempengaruhi seluruh tubuh), seperti sakit ginjal, jantung, liver, diabetes," jelas dr Indra.

4. Efek samping obat-obatan

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Menurut dr Indra, obat-obatan tertentu juga memiliki efek samping mengecilkan kelamin pria, terutama obat-obatan herbal yang belum teruji secara medis.

"Di dalam tumbuh-tumbuhan atau obat herbal, entah yang diekstrak atau dihaluskan, ada zat yang belum termurnikan. Ada bahannya yang berkhasiat, tapi tidak dilihat lagi yang merugikan. Contohnya, obat pare. Ada zat yang bisa merusak sperma, makanya sekarang sedang kita teliti untuk dijadikan kontrasepsi pria. Mengkudu juga bisa menurunkan sperma. Maka tidak bagus diberikan untuk orang yang masih ingin punya anak," jelasnya.

dr Indra menjelaskan, beberapa tanaman herbal seperti mengkudu memiliki sifat menekan produksi sel aktif, yaitu sel yang diproduksi terus-menerus dan tidak didaur ulang. Khasiat ini dimanfaatkan untuk menekan sel kanker yang merupakan sel aktif. Tapi efek sampingnya bisa menurunkan sperma, yang juga merupakan sel aktif.

"Dia juga bisa menekan sel di kelenjar yang memproduksi hormon. Sel di kelenjar memang tidak aktif seperti sperma, tapi dia aktif mengeluarkan produknya," terang dr Indra.

4. Efek samping obat-obatan

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Menurut dr Indra, obat-obatan tertentu juga memiliki efek samping mengecilkan kelamin pria, terutama obat-obatan herbal yang belum teruji secara medis.

"Di dalam tumbuh-tumbuhan atau obat herbal, entah yang diekstrak atau dihaluskan, ada zat yang belum termurnikan. Ada bahannya yang berkhasiat, tapi tidak dilihat lagi yang merugikan. Contohnya, obat pare. Ada zat yang bisa merusak sperma, makanya sekarang sedang kita teliti untuk dijadikan kontrasepsi pria. Mengkudu juga bisa menurunkan sperma. Maka tidak bagus diberikan untuk orang yang masih ingin punya anak," jelasnya.

dr Indra menjelaskan, beberapa tanaman herbal seperti mengkudu memiliki sifat menekan produksi sel aktif, yaitu sel yang diproduksi terus-menerus dan tidak didaur ulang. Khasiat ini dimanfaatkan untuk menekan sel kanker yang merupakan sel aktif. Tapi efek sampingnya bisa menurunkan sperma, yang juga merupakan sel aktif.

"Dia juga bisa menekan sel di kelenjar yang memproduksi hormon. Sel di kelenjar memang tidak aktif seperti sperma, tapi dia aktif mengeluarkan produknya," terang dr Indra.

5. Stres

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Tanpa disadari stres juga menjadi salah satu penyebab penis menyusut, karena secara langsung kondisi ini menghambat produksi hormon seks testosteron.

"Biasanya istrinya yang mengingatkan. Suaminya stres di kantor, banyak kerjaan, jadi jarang ngajak berhubungan. Kurangnya testosteron membuat libidonya menurun, jarang berhubungan, penis juga bisa menyusut," jelas dr Indra.

5. Stres

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Tanpa disadari stres juga menjadi salah satu penyebab penis menyusut, karena secara langsung kondisi ini menghambat produksi hormon seks testosteron.

"Biasanya istrinya yang mengingatkan. Suaminya stres di kantor, banyak kerjaan, jadi jarang ngajak berhubungan. Kurangnya testosteron membuat libidonya menurun, jarang berhubungan, penis juga bisa menyusut," jelas dr Indra.

6. Suhu dingin

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Suhu dingin secara langsung dapat membuat penis pria tampak menyusut. Hal ini disebabkan karena aliran darah yang melambat dan tidak mengembang karena udara dingin.

"Suhu udara dingin membuat aliran darahnya lambat, tidak mengembang. (Penis) Menciut karena aliran darah berputar, tidak menumpuk," tutup dr Indra.

6. Suhu dingin

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Suhu dingin secara langsung dapat membuat penis pria tampak menyusut. Hal ini disebabkan karena aliran darah yang melambat dan tidak mengembang karena udara dingin.

"Suhu udara dingin membuat aliran darahnya lambat, tidak mengembang. (Penis) Menciut karena aliran darah berputar, tidak menumpuk," tutup dr Indra.
Halaman 2 dari 14
"Kegemukan bisa membuat penis tampak mengecil. Kegemukan bisa tidak merata di tubuh, ada yang di perut saja atau dada saja. Tapi pada orang obesitas, di pubis lemaknya bisa lebih tebal, sehingga penis jadi nggak kelihatan," jelas DR dr Indra G Mansur, DHES, SpAnd dari RSIA Sayyidah, saat berbincang dengan detikHealth, Rabu (19/3/2014).

Berat badan sendiri tidak mengubah ukuran penis sebenarnya (secara fisik), yang menjadi lebih pendek atau lebih panjang. Tetapi pria yang gemuk akan memiliki kantong lemak di daerah panggul sekitar penis.

Dalam keadaan bagaimanapun, lemak ini akan terlihat menggantung. Tapi bila seorang pria memiliki tubuh gemuk, maka jumlah lemak di daerah sekitar penis pun akan semakin banyak, dengan kata lain penis akan terlihat memendek karena tertutup lemak.

Secara fisik penis memang tidak lebih pendek, tetapi menjadi lebih pendek secara fungsional, karena semakin banyak lemak yang menutupi daerah sekitar penis maka kemungkinan penis melakukan penetrasi lebih dalam akan semakin kecil.

"Kegemukan bisa membuat penis tampak mengecil. Kegemukan bisa tidak merata di tubuh, ada yang di perut saja atau dada saja. Tapi pada orang obesitas, di pubis lemaknya bisa lebih tebal, sehingga penis jadi nggak kelihatan," jelas DR dr Indra G Mansur, DHES, SpAnd dari RSIA Sayyidah, saat berbincang dengan detikHealth, Rabu (19/3/2014).

Berat badan sendiri tidak mengubah ukuran penis sebenarnya (secara fisik), yang menjadi lebih pendek atau lebih panjang. Tetapi pria yang gemuk akan memiliki kantong lemak di daerah panggul sekitar penis.

Dalam keadaan bagaimanapun, lemak ini akan terlihat menggantung. Tapi bila seorang pria memiliki tubuh gemuk, maka jumlah lemak di daerah sekitar penis pun akan semakin banyak, dengan kata lain penis akan terlihat memendek karena tertutup lemak.

Secara fisik penis memang tidak lebih pendek, tetapi menjadi lebih pendek secara fungsional, karena semakin banyak lemak yang menutupi daerah sekitar penis maka kemungkinan penis melakukan penetrasi lebih dalam akan semakin kecil.

"Penis juga bisa menyusut karena ketidakseimbangan hormon, termasuk hormon seks atau testosteron," tutur dokter yang juga praktik di RSIA Budhijaya, Jakarta.

Menurut dr Indra, kekurangan testosteron bisa membuat tonus otot pria mengecil, termasuk mengurangi tonus atau ketegangan di penis. Berkurangnya testosteron secara alamiah disebabkan oleh bertambahnya usia.

"Usia kan penurunan yang sifatnya grafiknya melandai. Efeknya libidonya menjadi kurang, tonus-tonus otot kaki mengecil, ototnya menjadi lebih kecil dibanding remaja. Penisnya juga ikut menyusut," tambah dr Indra.

"Penis juga bisa menyusut karena ketidakseimbangan hormon, termasuk hormon seks atau testosteron," tutur dokter yang juga praktik di RSIA Budhijaya, Jakarta.

Menurut dr Indra, kekurangan testosteron bisa membuat tonus otot pria mengecil, termasuk mengurangi tonus atau ketegangan di penis. Berkurangnya testosteron secara alamiah disebabkan oleh bertambahnya usia.

"Usia kan penurunan yang sifatnya grafiknya melandai. Efeknya libidonya menjadi kurang, tonus-tonus otot kaki mengecil, ototnya menjadi lebih kecil dibanding remaja. Penisnya juga ikut menyusut," tambah dr Indra.

Pada orang-orang tertentu, bisa terjadi percepatan penurunan testosteron. Artinya, penurunan testosteron terjadi lebih cepat dari normal. Misal, seharusnya penurunan testosteron terjadi pada usia 70 tahun, tapi karena faktor tertentu bisa dipercepat hingga terjadi di usia 45 tahun.

"Biasanya karena penyakit yang sifatnya sistemik (mempengaruhi seluruh tubuh), seperti sakit ginjal, jantung, liver, diabetes," jelas dr Indra.

Pada orang-orang tertentu, bisa terjadi percepatan penurunan testosteron. Artinya, penurunan testosteron terjadi lebih cepat dari normal. Misal, seharusnya penurunan testosteron terjadi pada usia 70 tahun, tapi karena faktor tertentu bisa dipercepat hingga terjadi di usia 45 tahun.

"Biasanya karena penyakit yang sifatnya sistemik (mempengaruhi seluruh tubuh), seperti sakit ginjal, jantung, liver, diabetes," jelas dr Indra.

Menurut dr Indra, obat-obatan tertentu juga memiliki efek samping mengecilkan kelamin pria, terutama obat-obatan herbal yang belum teruji secara medis.

"Di dalam tumbuh-tumbuhan atau obat herbal, entah yang diekstrak atau dihaluskan, ada zat yang belum termurnikan. Ada bahannya yang berkhasiat, tapi tidak dilihat lagi yang merugikan. Contohnya, obat pare. Ada zat yang bisa merusak sperma, makanya sekarang sedang kita teliti untuk dijadikan kontrasepsi pria. Mengkudu juga bisa menurunkan sperma. Maka tidak bagus diberikan untuk orang yang masih ingin punya anak," jelasnya.

dr Indra menjelaskan, beberapa tanaman herbal seperti mengkudu memiliki sifat menekan produksi sel aktif, yaitu sel yang diproduksi terus-menerus dan tidak didaur ulang. Khasiat ini dimanfaatkan untuk menekan sel kanker yang merupakan sel aktif. Tapi efek sampingnya bisa menurunkan sperma, yang juga merupakan sel aktif.

"Dia juga bisa menekan sel di kelenjar yang memproduksi hormon. Sel di kelenjar memang tidak aktif seperti sperma, tapi dia aktif mengeluarkan produknya," terang dr Indra.

Menurut dr Indra, obat-obatan tertentu juga memiliki efek samping mengecilkan kelamin pria, terutama obat-obatan herbal yang belum teruji secara medis.

"Di dalam tumbuh-tumbuhan atau obat herbal, entah yang diekstrak atau dihaluskan, ada zat yang belum termurnikan. Ada bahannya yang berkhasiat, tapi tidak dilihat lagi yang merugikan. Contohnya, obat pare. Ada zat yang bisa merusak sperma, makanya sekarang sedang kita teliti untuk dijadikan kontrasepsi pria. Mengkudu juga bisa menurunkan sperma. Maka tidak bagus diberikan untuk orang yang masih ingin punya anak," jelasnya.

dr Indra menjelaskan, beberapa tanaman herbal seperti mengkudu memiliki sifat menekan produksi sel aktif, yaitu sel yang diproduksi terus-menerus dan tidak didaur ulang. Khasiat ini dimanfaatkan untuk menekan sel kanker yang merupakan sel aktif. Tapi efek sampingnya bisa menurunkan sperma, yang juga merupakan sel aktif.

"Dia juga bisa menekan sel di kelenjar yang memproduksi hormon. Sel di kelenjar memang tidak aktif seperti sperma, tapi dia aktif mengeluarkan produknya," terang dr Indra.

Tanpa disadari stres juga menjadi salah satu penyebab penis menyusut, karena secara langsung kondisi ini menghambat produksi hormon seks testosteron.

"Biasanya istrinya yang mengingatkan. Suaminya stres di kantor, banyak kerjaan, jadi jarang ngajak berhubungan. Kurangnya testosteron membuat libidonya menurun, jarang berhubungan, penis juga bisa menyusut," jelas dr Indra.

Tanpa disadari stres juga menjadi salah satu penyebab penis menyusut, karena secara langsung kondisi ini menghambat produksi hormon seks testosteron.

"Biasanya istrinya yang mengingatkan. Suaminya stres di kantor, banyak kerjaan, jadi jarang ngajak berhubungan. Kurangnya testosteron membuat libidonya menurun, jarang berhubungan, penis juga bisa menyusut," jelas dr Indra.

Suhu dingin secara langsung dapat membuat penis pria tampak menyusut. Hal ini disebabkan karena aliran darah yang melambat dan tidak mengembang karena udara dingin.

"Suhu udara dingin membuat aliran darahnya lambat, tidak mengembang. (Penis) Menciut karena aliran darah berputar, tidak menumpuk," tutup dr Indra.

Suhu dingin secara langsung dapat membuat penis pria tampak menyusut. Hal ini disebabkan karena aliran darah yang melambat dan tidak mengembang karena udara dingin.

"Suhu udara dingin membuat aliran darahnya lambat, tidak mengembang. (Penis) Menciut karena aliran darah berputar, tidak menumpuk," tutup dr Indra.

(mer/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads