Saat sudah mencapai usia dewasa, penis pria yang mungil sudah tidak bisa lagi diperbesar dengan obat-obatan atau terapi pijat. Beberapa faktor bahkan bisa membuat penis tampak mengecil atau benar-benar menyusut.
Berikut beberapa faktor yang bisa bikin penis menyusut:
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
1. Kegemukan
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Berat badan sendiri tidak mengubah ukuran penis sebenarnya (secara fisik), yang menjadi lebih pendek atau lebih panjang. Tetapi pria yang gemuk akan memiliki kantong lemak di daerah panggul sekitar penis.
Dalam keadaan bagaimanapun, lemak ini akan terlihat menggantung. Tapi bila seorang pria memiliki tubuh gemuk, maka jumlah lemak di daerah sekitar penis pun akan semakin banyak, dengan kata lain penis akan terlihat memendek karena tertutup lemak.
Secara fisik penis memang tidak lebih pendek, tetapi menjadi lebih pendek secara fungsional, karena semakin banyak lemak yang menutupi daerah sekitar penis maka kemungkinan penis melakukan penetrasi lebih dalam akan semakin kecil.
1. Kegemukan
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Berat badan sendiri tidak mengubah ukuran penis sebenarnya (secara fisik), yang menjadi lebih pendek atau lebih panjang. Tetapi pria yang gemuk akan memiliki kantong lemak di daerah panggul sekitar penis.
Dalam keadaan bagaimanapun, lemak ini akan terlihat menggantung. Tapi bila seorang pria memiliki tubuh gemuk, maka jumlah lemak di daerah sekitar penis pun akan semakin banyak, dengan kata lain penis akan terlihat memendek karena tertutup lemak.
Secara fisik penis memang tidak lebih pendek, tetapi menjadi lebih pendek secara fungsional, karena semakin banyak lemak yang menutupi daerah sekitar penis maka kemungkinan penis melakukan penetrasi lebih dalam akan semakin kecil.
2. Usia
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Menurut dr Indra, kekurangan testosteron bisa membuat tonus otot pria mengecil, termasuk mengurangi tonus atau ketegangan di penis. Berkurangnya testosteron secara alamiah disebabkan oleh bertambahnya usia.
"Usia kan penurunan yang sifatnya grafiknya melandai. Efeknya libidonya menjadi kurang, tonus-tonus otot kaki mengecil, ototnya menjadi lebih kecil dibanding remaja. Penisnya juga ikut menyusut," tambah dr Indra.
2. Usia
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
Menurut dr Indra, kekurangan testosteron bisa membuat tonus otot pria mengecil, termasuk mengurangi tonus atau ketegangan di penis. Berkurangnya testosteron secara alamiah disebabkan oleh bertambahnya usia.
"Usia kan penurunan yang sifatnya grafiknya melandai. Efeknya libidonya menjadi kurang, tonus-tonus otot kaki mengecil, ototnya menjadi lebih kecil dibanding remaja. Penisnya juga ikut menyusut," tambah dr Indra.
3. Penyakit sistemik
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Biasanya karena penyakit yang sifatnya sistemik (mempengaruhi seluruh tubuh), seperti sakit ginjal, jantung, liver, diabetes," jelas dr Indra.
3. Penyakit sistemik
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Biasanya karena penyakit yang sifatnya sistemik (mempengaruhi seluruh tubuh), seperti sakit ginjal, jantung, liver, diabetes," jelas dr Indra.
4. Efek samping obat-obatan
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Di dalam tumbuh-tumbuhan atau obat herbal, entah yang diekstrak atau dihaluskan, ada zat yang belum termurnikan. Ada bahannya yang berkhasiat, tapi tidak dilihat lagi yang merugikan. Contohnya, obat pare. Ada zat yang bisa merusak sperma, makanya sekarang sedang kita teliti untuk dijadikan kontrasepsi pria. Mengkudu juga bisa menurunkan sperma. Maka tidak bagus diberikan untuk orang yang masih ingin punya anak," jelasnya.
dr Indra menjelaskan, beberapa tanaman herbal seperti mengkudu memiliki sifat menekan produksi sel aktif, yaitu sel yang diproduksi terus-menerus dan tidak didaur ulang. Khasiat ini dimanfaatkan untuk menekan sel kanker yang merupakan sel aktif. Tapi efek sampingnya bisa menurunkan sperma, yang juga merupakan sel aktif.
"Dia juga bisa menekan sel di kelenjar yang memproduksi hormon. Sel di kelenjar memang tidak aktif seperti sperma, tapi dia aktif mengeluarkan produknya," terang dr Indra.
4. Efek samping obat-obatan
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Di dalam tumbuh-tumbuhan atau obat herbal, entah yang diekstrak atau dihaluskan, ada zat yang belum termurnikan. Ada bahannya yang berkhasiat, tapi tidak dilihat lagi yang merugikan. Contohnya, obat pare. Ada zat yang bisa merusak sperma, makanya sekarang sedang kita teliti untuk dijadikan kontrasepsi pria. Mengkudu juga bisa menurunkan sperma. Maka tidak bagus diberikan untuk orang yang masih ingin punya anak," jelasnya.
dr Indra menjelaskan, beberapa tanaman herbal seperti mengkudu memiliki sifat menekan produksi sel aktif, yaitu sel yang diproduksi terus-menerus dan tidak didaur ulang. Khasiat ini dimanfaatkan untuk menekan sel kanker yang merupakan sel aktif. Tapi efek sampingnya bisa menurunkan sperma, yang juga merupakan sel aktif.
"Dia juga bisa menekan sel di kelenjar yang memproduksi hormon. Sel di kelenjar memang tidak aktif seperti sperma, tapi dia aktif mengeluarkan produknya," terang dr Indra.
5. Stres
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Biasanya istrinya yang mengingatkan. Suaminya stres di kantor, banyak kerjaan, jadi jarang ngajak berhubungan. Kurangnya testosteron membuat libidonya menurun, jarang berhubungan, penis juga bisa menyusut," jelas dr Indra.
5. Stres
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Biasanya istrinya yang mengingatkan. Suaminya stres di kantor, banyak kerjaan, jadi jarang ngajak berhubungan. Kurangnya testosteron membuat libidonya menurun, jarang berhubungan, penis juga bisa menyusut," jelas dr Indra.
6. Suhu dingin
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Suhu udara dingin membuat aliran darahnya lambat, tidak mengembang. (Penis) Menciut karena aliran darah berputar, tidak menumpuk," tutup dr Indra.
6. Suhu dingin
|
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
|
"Suhu udara dingin membuat aliran darahnya lambat, tidak mengembang. (Penis) Menciut karena aliran darah berputar, tidak menumpuk," tutup dr Indra.
Halaman 2 dari 14











































