Menurut Dr Gary Glasser dari Atlanta Gynecology and Obstetrics, Decatur, Georgia, pendarahan ketika atau setelah berhubungan intim (post-coital bleeding) merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Konon lebih dari 10 persen wanita mengalami hal ini.
Penyebabnya pun beragam, tapi kebanyakan bukanlah masalah serius atau berbahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab pendarahan pasca seks yang pertama adalah luka kecil pada vagina akibat berhubungan seksual. Kendati kondisi ini lumrah ditemui pada wanita usia berapapun, namun Dr Glasser mengatakan pendarahan ini kebanyakan dialami wanita yang telah memasuki masa menopause karena hilangnya elastisitas atau kekeringan vagina yang dialaminya.
Kedua, serviks atau leher rahim bisa saja mengalami kondisi tertentu di mana terdapat sel-sel yang biasanya ditemukan di dalam saluran leher rahim namun tiba-tiba berada di luar serviks. Padahal sel-sel ini sensitif terhadap sentuhan, misal ketika bercinta atau menjalani prosedur Pap smear sehingga menimbulkan pendarahan.
Ketiga, infeksi. Infeksi akibat chlamydia yang mengenai leher rahim juga bisa menyebabkan pendarahan. Atau polip serviks jinak, yang sebenarnya dapat dihilangkan dengan operasi kecil dan tidak menyakitkan.
"Namun jika salah satu dari keempat kemungkinan benar-benar terjadi, sebaiknya segera ke dokter dan lakukan Pap smear. Selain itu bila ada lesi pada serviks atau vagina perlu diadakan biopsi agar dapat diketahui apakah itu pra-kanker atau kanker pada serviks," saran Dr Glasser.
"Apalagi jika pendarahannya berlangsung secara terus-menerus atau mungkin terjadi pendarahan meski tidak selepas bercinta, maka dokter obgyn harus memeriksa saluran leher rahim atau rahim wanita yang bersangkutan," lanjutnya.











































