"Masalah besar lainnya adalah kebanyakan orang tak tahu-menahu bila mereka mengidap penyakit ini. Dan pada 80 persen kasus, baik pada pria maupun wanita, tak terlihat adanya gejala apapun. Jadi seringkali penderita chlamydia tak diperiksa atau diobati lalu menularkannya, apalagi bila mereka tidak pakai kondom," tutur Dr Marcus Chen dari Melbourne School of Population Health, University of Melbourne.
Siapakah yang paling berisiko? Menurut Dr Chen, siapapun yang berusia di bawah 25 tahun berisiko terkena chlamydia. Ini juga berlaku untuk orang-orang dengan pasangan lebih dari satu, terlepas gejalanya muncul atau tidak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk calon pasien pria, dokter tinggal meminta sampel urinnya. Sedangkan untuk pasien wanita, tes dapat dilakukan menggunakan sampel urin atau mengambil sampel jaringan dari vaginanya. Tak perlu lagi mengambil sampel dari serviks yang tentu saja menyusahkan si pasien.
Akan tetapi Dr Chen mengingatkan beberapa infeksi menular seksual biasanya terjadi dalam waktu bersamaan. Jadi kadang bila ada seseorang yang dites chlamydia, bisa jadi juga berisiko terkena lainnya seperti gonorrhea, sifilis, bahkan hepatitis B dan HIV.
"Bahkan bagi mereka yang sudah ketahuan kena chlamydia dan diobati, mereka tetap disarankan untuk dites ulang tiga bulan setelah dinyatakan sembuh, karena peluang terinfeksi kembalinya masih tinggi," tegas Dr Chen seperti dikutip dari ABC Australia, Rabu (7/5/2014).











































