Jakarta -
Banyak pasangan muda saat menikah tidak mampu menjaga hubungan tersebut hingga akhir tua. Bagi yang pernikahannya bermasalah, menghabiskan waktu bersama pasangan rasanya seperti berjalan di atas ladang ranjau yang berpotensi menghancurkan hubungan.
Bahkan dalam pernikahan yang terlihat bahagia, survei online yang dilakukan oleh Media Woman's Day and AOL Living pada tahun 2009 mengatakan 72% wanita pernah berpikir untuk cerai pada satu waktu dalam pernikahan mereka. Namun meski banyak rintangan dalam hubungan mereka, 71% wanita percaya akan tetap bersama suami hingga akhir hayat.
Setiap fase dalam pernikahan memiliki masalah masing-masing, lalu bagaimana cara untuk tetap menjaga hubungan saat menghadapi masalah tersebut. Berikut cara yang dapat dilakukan dikutip dari CNN, Senin (7/7/2014).
1. Perhatikan Ukurang Pinggang
illustrasi (thinkstock)
|
Pasangan yang bercerai cenderung memiliki ukurang pinggang yang lebih besar. Hal tersebut berkaitan dengan daya tarik seksual dan kesehatan umumnya.
Sebuah studi pada tahun 2007 yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menemukan bahwa peluang untuk menjadi gemuk meningkat sebesar 37% jika pasangan juga gemuk. Penting untuk menjaga pola makan sehat karena ada kecenderungan porsi makan lebih besar 33% saat makan bersama.
Untuk menghindari perangkap lemak tersebut, habiskan waktu bersama untuk mencari bahan makanan sehat di pasar lokal pada akhir pekan. Selain itu bisa juga dengan menjadwalkan olahraga bersama.
2. Miliki Rencana Keuangan
illustrasi (thinkstock)
|
Hampir 40% pasangan menikah berbohong soal penghabisan uang belanja mereka kepada satu sama lain menurut survei pada tahun 2004. Uang adalah alasan utama mengapa pasangan sering berkelahi, dan hubungan cenderung lebih banyak konflik saat kondisi ekonomi sedang sulit.
Diskusikan aturan finansial bersama pasangan. Ken Robbins, profesor psikiatri dari University of Wisconsin mengatakan tidak sehat bagi pasangan memiliki filosofi yang sama mengenai uang.
"Namun sebaiknya isu keuangan diselesaikan secepatnya. Anda ingin memutuskan siapa yang akan membayar tagihan, berapa banyak pengeluaran yang wajar, dan bagaimana Anda akan mencatat semua pengeluaran itu." ujar Robbins.
3. Tentukan Aturan Keluarga
illustrasi (thinkstock)
|
Seringnya pasangan menghabiskan 5 hingga 10 tahun pertama pernikahan saling mendorong pandangan tentang bagaimana seharusnya keluarga mereka berjalan.
"Orang sering tidak menyadari bahwa mereka menikah dengan ide gambaran keluarga seperti bagaimana gambaran keluarga mereka dengan orang tua," kata Robbins.
Membawa pandangan yang demikian dalam pernikahan dapat menimbulkan konflik dari hal kecil sekalipun. Terlebih saat anak hadir dalam keluarga. Pasangan mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana anak harus dirawat dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Anda perlu mengetahui bagaimana Anda dapat hidup bahagia bersama sambil tetap mempertahankan pribadi masing-masing," kata Robbins.
4. Buat Seks Prioritas, Bukan Tugas
illustrasi (thinkstock)
|
Jadikan seks sebagai prioritas namun tidak perlu ditulis dalam nota rencana. Dokter kandungan dan ginekolog di Johns Hopkins School of Medicine, Andrew Goldstein mengatakan jika seks terjadwal, hal tersebut menjadi suatu kewajiban sama seperti membuang sampah.
Rata-rata pasangan menikah berhubungan seks sekitar 58 kali setiap tahun, atau lebih dari sekali dalam seminggu. Berkaitan dengan hal tersebut studi terbaru mengatakan 90% pasangan merasakan kepuasan yang menurun setelah kelahiran anak pertama mereka.
Goldstein mengatakan namun tidak masalah seberapa sering pasangan berhubungan seks selama kedua pasangan merasa bahagia. Aktivitas apapun yang meningkatkan intimasi mulai dari berpegangan tangan hingga berhubungan seks dapat menurunkan tingkat stress.
5. Fleksibel
illustrasi (thinkstock)
|
Rencana apapun yang dibuat mulai dari finansial sampai pada tugas rumah kemungkinan akan berubah sesuai berjalannya waktu. Misalnya saat pasangan yang bekerja kehilangan pekerjaannya atau sebaliknya, hal tersebut dapat berdampak pada peraturan yang telah dibuat sebelumnya.
Memiliki diskusi terbuka tentang bagaimana tugas-tugas rumah tangga berubah dapat membantu pasangan menghadapi masa transisi sulit.
"Setiap orang memiliki peran dalam hubungan dan selama ada tujuan kebaikan yang lebih besar, hal tersebut bukan tentang apakah itu uang Anda atau uangnya," ucap Goldstein.
Pasangan yang bercerai cenderung memiliki ukurang pinggang yang lebih besar. Hal tersebut berkaitan dengan daya tarik seksual dan kesehatan umumnya.
Sebuah studi pada tahun 2007 yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menemukan bahwa peluang untuk menjadi gemuk meningkat sebesar 37% jika pasangan juga gemuk. Penting untuk menjaga pola makan sehat karena ada kecenderungan porsi makan lebih besar 33% saat makan bersama.
Untuk menghindari perangkap lemak tersebut, habiskan waktu bersama untuk mencari bahan makanan sehat di pasar lokal pada akhir pekan. Selain itu bisa juga dengan menjadwalkan olahraga bersama.
Hampir 40% pasangan menikah berbohong soal penghabisan uang belanja mereka kepada satu sama lain menurut survei pada tahun 2004. Uang adalah alasan utama mengapa pasangan sering berkelahi, dan hubungan cenderung lebih banyak konflik saat kondisi ekonomi sedang sulit.
Diskusikan aturan finansial bersama pasangan. Ken Robbins, profesor psikiatri dari University of Wisconsin mengatakan tidak sehat bagi pasangan memiliki filosofi yang sama mengenai uang.
"Namun sebaiknya isu keuangan diselesaikan secepatnya. Anda ingin memutuskan siapa yang akan membayar tagihan, berapa banyak pengeluaran yang wajar, dan bagaimana Anda akan mencatat semua pengeluaran itu." ujar Robbins.
Seringnya pasangan menghabiskan 5 hingga 10 tahun pertama pernikahan saling mendorong pandangan tentang bagaimana seharusnya keluarga mereka berjalan.
"Orang sering tidak menyadari bahwa mereka menikah dengan ide gambaran keluarga seperti bagaimana gambaran keluarga mereka dengan orang tua," kata Robbins.
Membawa pandangan yang demikian dalam pernikahan dapat menimbulkan konflik dari hal kecil sekalipun. Terlebih saat anak hadir dalam keluarga. Pasangan mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana anak harus dirawat dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Anda perlu mengetahui bagaimana Anda dapat hidup bahagia bersama sambil tetap mempertahankan pribadi masing-masing," kata Robbins.
Jadikan seks sebagai prioritas namun tidak perlu ditulis dalam nota rencana. Dokter kandungan dan ginekolog di Johns Hopkins School of Medicine, Andrew Goldstein mengatakan jika seks terjadwal, hal tersebut menjadi suatu kewajiban sama seperti membuang sampah.
Rata-rata pasangan menikah berhubungan seks sekitar 58 kali setiap tahun, atau lebih dari sekali dalam seminggu. Berkaitan dengan hal tersebut studi terbaru mengatakan 90% pasangan merasakan kepuasan yang menurun setelah kelahiran anak pertama mereka.
Goldstein mengatakan namun tidak masalah seberapa sering pasangan berhubungan seks selama kedua pasangan merasa bahagia. Aktivitas apapun yang meningkatkan intimasi mulai dari berpegangan tangan hingga berhubungan seks dapat menurunkan tingkat stress.
Rencana apapun yang dibuat mulai dari finansial sampai pada tugas rumah kemungkinan akan berubah sesuai berjalannya waktu. Misalnya saat pasangan yang bekerja kehilangan pekerjaannya atau sebaliknya, hal tersebut dapat berdampak pada peraturan yang telah dibuat sebelumnya.
Memiliki diskusi terbuka tentang bagaimana tugas-tugas rumah tangga berubah dapat membantu pasangan menghadapi masa transisi sulit.
"Setiap orang memiliki peran dalam hubungan dan selama ada tujuan kebaikan yang lebih besar, hal tersebut bukan tentang apakah itu uang Anda atau uangnya," ucap Goldstein.
(up/up)