Menurut Seksolog Dr dr Andri Wanananda MS, seseorang belum tentu mengidap hiperseks hanya karena melakukan kegiatan seks dengan intens.
dr Andri mengatakan frekuensi aktivitas seksual seperti bercinta dan masturbasi sangat beragam bagi tiap orang. Faktor seperti usia dan kebugaran seksual berpengaruh pada aktivitas tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seseorang dengan hiperseks sama sekali tidak dapat mengendalikan dorongan seksnya sehingga seringkali kelainannya tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh kasus hiperseks, seorang wanita yang telah menikah di Inggris bernama Heather pada tahun 2005 mengalami perdarahan di otak dan mengalami koma. Sepulihnya dari koma ia terbangun namun mengalami perubahan pada psikisnya.
Heather mengatakan dirinya selalu menginginkan seks setelah terbangun dari koma. Ia bahkan mengaku pernah menyeret seorang pria muda asing ke toilet untuk bercinta.
Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) mengatakan istilah hiperseks semakin jarang digunakan karena kasusnya langka dan mungkin salah dimengerti.
Menurut dr Wimpie, ciri-ciri seseorang dengan hiperseks adalah tidak pernah merasa puas walaupun telah mengalami orgasme, tuntutan seks tidak bisa ditunda, tidak bisa mengontrol keinginan seks, dan sangat tergila-gila dengan hal yang berhubungan seks.
(ajg/ajg)











































