Bagian vital wanita satu ini memang menjadi perhatian terutama jika sudah berkaitan dengan seks. Kebanyakan dari mitos muncul didasari oleh hubungan percintaan. Dikutip dari berbagai sumber berikut mitos kesehatan seputar vagina seperti ditulis detikHealth, Selasa (12/8/2014).
1. Hindari Timun dan Nanas
|
Illustrasi: Thinkstock
|
Dua pernyataan di atas menurut dr Hari Nugroho, SpOG dari Divisi Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr Soetomo Surabaya hanya mitos belaka. Ia mengatakan mengonsumsi buah nanas maupun ketimun takkan memberi pengaruh apapun pada kondisi vagina, apalagi sampai menyebabkan 'becek' dan keputihan.
Cairan lubrikasi pada vagina lebih dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental. Keputihan di lain sisi disebabkan faktor kebersihan dari vagina itu sendiri.
2. Jamu Bikin Rapat
|
Illustrasi: Thinkstock
|
dr Prima Progestian, SpOG dari RS Brawija mengatakan minum jamu tidak dapat membuat vagina rapat dan kencang. Lebih lanjut ia mengatakan vagina hanya dapat kembali kencang dengan operasi otot atau gelombang laser.
Berkaitan dengan hal tersebut, Dr. dr. I Putu Gede Kayika, SpOG dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan jamu memiliki khasiat mengurangi cairan di dalam vagina. Menurutnya dengan berkurang cairan pada vagina penetrasi penis dapat dirasa menjadi lebih 'seret' dan sangat berbahaya bagi wanita.
"Kalau seret karena kurangnya cairan bisa membuat vagina luka, lecet, atau infeksi," tutup dokter Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM itu.
3. Puasa Bercinta Kembalikan Kerapatan
|
Illustrasi: Thinkstock
|
Berlandaskan dari situ ada mitos yang mengatakan jika lama tidak bercinta maka ukuran vagina bisa kembali rapat, benarkah?
Menurut penulis dari Psychology Today, Michael Castleman, elastisitas vagina hanya dapat dipengaruhi oleh kehamilan. Bercinta memang dapat membuat vagina mengembang dan berkontraksi tapi begitu sesi bercinta selesai vagina akan kembali seperti semula. Berhenti bercinta tidak memiliki dampak apa-apa terhadap elastisitas vagina.
Berbeda saat melahirkan di mana elastis vagina diuji secara maksimal. Setelah melahirkan vagina dapat kehilangan elastisitasnya. "Jika Anda meregangkan sesuatu yang elastis dengan sangat kuat, dari waktu ke waktu sesuatu tersebut akan 'lelah' dan tidak lagi kembali sepenuhnya" kata Castleman.
4. Cuci Vagina Dapat Cegah Kehamilan
|
Illustrasi: Thinkstock
|
Douching atau tindakan menyemprotkan cairan ke dalam vagina dipercaya dapat membersihkan vagina dari sperma yang ditinggalkan saat ejakulasi. Menanggapi hal tersebut Dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) mengatakan hal tersebut hanyalah mitos.
"Tidak benar, itu mitos. Ada banyak mitos yang beredar di masyarakat karena kurangnya pemahaman, termasuk menyemprot vagina setelah bercinta bisa mencegah kehamilan itu juga tidak benar," kata dokter kandungan yang berpraktik di RSCM.
Dr. Andri Wanananda MS, seksolog dari pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta, juga menjelaskan bahwa kecepatan sperma saat ejakulasi sangat cepat.
"Menyemprotkan cairan kimia atau cuka (ke vagina), akan kalah cepat dengan melesatnya sel jantan (spermatozoa) ke dalam rahim untuk bersatu dengan ovum (sel betina) pada saluran tuba," papar Dr Andri.
5. Tidak Ada Darah Saat Seks Pertanda Tidak Perawan
|
Illustrasi: Thinkstock
|
Kondisi selaput dara tidak dapat dinilai secara kasat mata apakah terkoyak karena hubungan seks, pasalnya selapu dara juga bisa terkoyak karena cedera akibat aktivitas seperti naik sepeda atau berkuda.
Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, setelah melakukan hubungan seksual, pada selaput dara bisa terjadi robekan, bisa juga tetap utuh. Hal ini bergantung pada kekenyalan jaringan selaput dara atau hymen tersebut.
Halaman 2 dari 6











































