5 Bantahan Terkait Mitos-mitos Kesehatan Miss V

5 Bantahan Terkait Mitos-mitos Kesehatan Miss V

- detikHealth
Selasa, 12 Agu 2014 16:07 WIB
5 Bantahan Terkait Mitos-mitos Kesehatan Miss V
Illustrasi: Thinkstock
Jakarta - Sama seperti dengan alat kelamin pria, mitos dan informasi yang salah terkait vagina masih banyak beredar di masyarakat. Kurangnya pemahaman adalah salah satu faktor mitos tersebut ada hingga kini.

Bagian vital wanita satu ini memang menjadi perhatian terutama jika sudah berkaitan dengan seks. Kebanyakan dari mitos muncul didasari oleh hubungan percintaan. Dikutip dari berbagai sumber berikut mitos kesehatan seputar vagina seperti ditulis detikHealth, Selasa (12/8/2014).

1. Hindari Timun dan Nanas

Illustrasi: Thinkstock
Di masyarakat beredar mitos yang mengatakan mengonsumsi timun dapat menyebabkan vagina 'becek'. Selain itu ada juga yang mengatakan mengonsumsi nanas dapat menyebabkan keputihan.

Dua pernyataan di atas menurut dr Hari Nugroho, SpOG dari Divisi Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr Soetomo Surabaya hanya mitos belaka. Ia mengatakan mengonsumsi buah nanas maupun ketimun takkan memberi pengaruh apapun pada kondisi vagina, apalagi sampai menyebabkan 'becek' dan keputihan.

Cairan lubrikasi pada vagina lebih dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental. Keputihan di lain sisi disebabkan faktor kebersihan dari vagina itu sendiri.

2. Jamu Bikin Rapat

Illustrasi: Thinkstock
Jamu 'rapet' sering terlihat dijajakan di toko jamu atau pinggir jalan. Dengan bentuknya yang bermacam-macam, sebagian orang percaya dengan meminum jamu vagina akan menjadi lebih rapat dan kencang.

dr Prima Progestian, SpOG dari RS Brawija mengatakan minum jamu tidak dapat membuat vagina rapat dan kencang. Lebih lanjut ia mengatakan vagina hanya dapat kembali kencang dengan operasi otot atau gelombang laser.

Berkaitan dengan hal tersebut, Dr. dr. I Putu Gede Kayika, SpOG dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan jamu memiliki khasiat mengurangi cairan di dalam vagina. Menurutnya dengan berkurang cairan pada vagina penetrasi penis dapat dirasa menjadi lebih 'seret' dan sangat berbahaya bagi wanita.

"Kalau seret karena kurangnya cairan bisa membuat vagina luka, lecet, atau infeksi," tutup dokter Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM itu.

3. Puasa Bercinta Kembalikan Kerapatan

Illustrasi: Thinkstock
Organ intim vagina dikatakan oleh Dr Gunawan Dwi Prayitno, SpOG(K) dari RSPAD Gatot Soebroto, bersifat elastis. Elastisitas tersebut merupakan kemampuan vagina untuk menyesuaikan penetrasi dari penis dan juga saat melahirkan.

Berlandaskan dari situ ada mitos yang mengatakan jika lama tidak bercinta maka ukuran vagina bisa kembali rapat, benarkah?

Menurut penulis dari Psychology Today, Michael Castleman, elastisitas vagina hanya dapat dipengaruhi oleh kehamilan. Bercinta memang dapat membuat vagina mengembang dan berkontraksi tapi begitu sesi bercinta selesai vagina akan kembali seperti semula. Berhenti bercinta tidak memiliki dampak apa-apa terhadap elastisitas vagina.

Berbeda saat melahirkan di mana elastis vagina diuji secara maksimal. Setelah melahirkan vagina dapat kehilangan elastisitasnya. "Jika Anda meregangkan sesuatu yang elastis dengan sangat kuat, dari waktu ke waktu sesuatu tersebut akan 'lelah' dan tidak lagi kembali sepenuhnya" kata Castleman.

4. Cuci Vagina Dapat Cegah Kehamilan

Illustrasi: Thinkstock
Saat selesai berhubungan seks, ada kepercayaan di kalangan masyarakat yang mengatakan kehamilan dapat dicegah dengan mencuci vagina dengan cairan tertentu.

Douching atau tindakan menyemprotkan cairan ke dalam vagina dipercaya dapat membersihkan vagina dari sperma yang ditinggalkan saat ejakulasi. Menanggapi hal tersebut Dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) mengatakan hal tersebut hanyalah mitos.

"Tidak benar, itu mitos. Ada banyak mitos yang beredar di masyarakat karena kurangnya pemahaman, termasuk menyemprot vagina setelah bercinta bisa mencegah kehamilan itu juga tidak benar," kata dokter kandungan yang berpraktik di RSCM.

Dr. Andri Wanananda MS, seksolog dari pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta, juga menjelaskan bahwa kecepatan sperma saat ejakulasi sangat cepat.

"Menyemprotkan cairan kimia atau cuka (ke vagina), akan kalah cepat dengan melesatnya sel jantan (spermatozoa) ke dalam rahim untuk bersatu dengan ovum (sel betina) pada saluran tuba," papar Dr Andri.

5. Tidak Ada Darah Saat Seks Pertanda Tidak Perawan

Illustrasi: Thinkstock
Keluarnya darah dan rasa sakit saat berhubungan seks pertama kali tidak selalu dapat menjadi pertanda perawan wanita. Dr Prima Progestian, SpOG, seorang seksolog dari Brawijaya Women's Hospital, Jakarta Selatan, mengatakan rasa sakit dan pendarahan bisa terjadi karena kurangnya rangsangan dan lubrikasi.

Kondisi selaput dara tidak dapat dinilai secara kasat mata apakah terkoyak karena hubungan seks, pasalnya selapu dara juga bisa terkoyak karena cedera akibat aktivitas seperti naik sepeda atau berkuda.

Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, setelah melakukan hubungan seksual, pada selaput dara bisa terjadi robekan, bisa juga tetap utuh. Hal ini bergantung pada kekenyalan jaringan selaput dara atau hymen tersebut.
Halaman 2 dari 6
Di masyarakat beredar mitos yang mengatakan mengonsumsi timun dapat menyebabkan vagina 'becek'. Selain itu ada juga yang mengatakan mengonsumsi nanas dapat menyebabkan keputihan.

Dua pernyataan di atas menurut dr Hari Nugroho, SpOG dari Divisi Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr Soetomo Surabaya hanya mitos belaka. Ia mengatakan mengonsumsi buah nanas maupun ketimun takkan memberi pengaruh apapun pada kondisi vagina, apalagi sampai menyebabkan 'becek' dan keputihan.

Cairan lubrikasi pada vagina lebih dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental. Keputihan di lain sisi disebabkan faktor kebersihan dari vagina itu sendiri.

Jamu 'rapet' sering terlihat dijajakan di toko jamu atau pinggir jalan. Dengan bentuknya yang bermacam-macam, sebagian orang percaya dengan meminum jamu vagina akan menjadi lebih rapat dan kencang.

dr Prima Progestian, SpOG dari RS Brawija mengatakan minum jamu tidak dapat membuat vagina rapat dan kencang. Lebih lanjut ia mengatakan vagina hanya dapat kembali kencang dengan operasi otot atau gelombang laser.

Berkaitan dengan hal tersebut, Dr. dr. I Putu Gede Kayika, SpOG dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan jamu memiliki khasiat mengurangi cairan di dalam vagina. Menurutnya dengan berkurang cairan pada vagina penetrasi penis dapat dirasa menjadi lebih 'seret' dan sangat berbahaya bagi wanita.

"Kalau seret karena kurangnya cairan bisa membuat vagina luka, lecet, atau infeksi," tutup dokter Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM itu.

Organ intim vagina dikatakan oleh Dr Gunawan Dwi Prayitno, SpOG(K) dari RSPAD Gatot Soebroto, bersifat elastis. Elastisitas tersebut merupakan kemampuan vagina untuk menyesuaikan penetrasi dari penis dan juga saat melahirkan.

Berlandaskan dari situ ada mitos yang mengatakan jika lama tidak bercinta maka ukuran vagina bisa kembali rapat, benarkah?

Menurut penulis dari Psychology Today, Michael Castleman, elastisitas vagina hanya dapat dipengaruhi oleh kehamilan. Bercinta memang dapat membuat vagina mengembang dan berkontraksi tapi begitu sesi bercinta selesai vagina akan kembali seperti semula. Berhenti bercinta tidak memiliki dampak apa-apa terhadap elastisitas vagina.

Berbeda saat melahirkan di mana elastis vagina diuji secara maksimal. Setelah melahirkan vagina dapat kehilangan elastisitasnya. "Jika Anda meregangkan sesuatu yang elastis dengan sangat kuat, dari waktu ke waktu sesuatu tersebut akan 'lelah' dan tidak lagi kembali sepenuhnya" kata Castleman.

Saat selesai berhubungan seks, ada kepercayaan di kalangan masyarakat yang mengatakan kehamilan dapat dicegah dengan mencuci vagina dengan cairan tertentu.

Douching atau tindakan menyemprotkan cairan ke dalam vagina dipercaya dapat membersihkan vagina dari sperma yang ditinggalkan saat ejakulasi. Menanggapi hal tersebut Dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) mengatakan hal tersebut hanyalah mitos.

"Tidak benar, itu mitos. Ada banyak mitos yang beredar di masyarakat karena kurangnya pemahaman, termasuk menyemprot vagina setelah bercinta bisa mencegah kehamilan itu juga tidak benar," kata dokter kandungan yang berpraktik di RSCM.

Dr. Andri Wanananda MS, seksolog dari pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta, juga menjelaskan bahwa kecepatan sperma saat ejakulasi sangat cepat.

"Menyemprotkan cairan kimia atau cuka (ke vagina), akan kalah cepat dengan melesatnya sel jantan (spermatozoa) ke dalam rahim untuk bersatu dengan ovum (sel betina) pada saluran tuba," papar Dr Andri.

Keluarnya darah dan rasa sakit saat berhubungan seks pertama kali tidak selalu dapat menjadi pertanda perawan wanita. Dr Prima Progestian, SpOG, seorang seksolog dari Brawijaya Women's Hospital, Jakarta Selatan, mengatakan rasa sakit dan pendarahan bisa terjadi karena kurangnya rangsangan dan lubrikasi.

Kondisi selaput dara tidak dapat dinilai secara kasat mata apakah terkoyak karena hubungan seks, pasalnya selapu dara juga bisa terkoyak karena cedera akibat aktivitas seperti naik sepeda atau berkuda.

Menurut seksolog dr Andri Wanananda MS, setelah melakukan hubungan seksual, pada selaput dara bisa terjadi robekan, bisa juga tetap utuh. Hal ini bergantung pada kekenyalan jaringan selaput dara atau hymen tersebut.

(up/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads