Kenali, Ini Ragam Cairan yang Bisa Keluar dari Miss V Anda

Kenali, Ini Ragam Cairan yang Bisa Keluar dari Miss V Anda

- detikHealth
Minggu, 28 Des 2014 15:08 WIB
Kenali, Ini Ragam Cairan yang Bisa Keluar dari Miss V Anda
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Kebanyakan wanita hanya tahu ada tiga jenis cairan yang bisa keluar dari kemaluannya, yakni urine, darah haid dan cairan ketuban. Namun bagaimana jadinya bila yang keluar cairan dengan warna tak biasa atau berbau aneh?

dr Hari Nugroho, SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan, cairan vagina yang normal dan sehat adalah yang berwarna jernih atau agak keputihan, tidak berbau, tidak menimbulkan gatal, tidak berwarna putih, dan tidak memiliki konsistensi seperti 'susu pecah'.

Jadi bila cairan yang keluar dari Ms V Anda memiliki ciri-ciri yang tidak sesuai dengan deskripsi tersebut, berarti Anda harus waspada. Tapi sebelum itu setidaknya Anda harus tahu dulu cairan seperti apa saja yang bisa keluar dari Ms V dan apa artinya. Berikut paparannya seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Minggu (28/12/2014).

1. Bening, berwarna putih, basah dan elastis

Ini tandanya Anda sedang berovulasi. Cairan licin ini biasanya muncul di masa subur, untuk memudahkan masuknya sperma ke dalam tubuh wanita dan melakukan pembuahan.

"Pada sejumlah wanita, cairan yang keluar saat ovulasi sangat banyak. Ini membuat sebagian pasien saya kebingungan dan mengira ada masalah, padahal ini normal," terang Alyssa Dweck, MD, dokter ahli kandungan dari New York.

2. Putih, agak tebal seperti keju cair dan sangat gatal

Cairan ini bisa menandakan Anda mengalami infeksi jamur, yang diakibatkan oleh pertumbuhan jamur yang tak normal dalam vagina. "Meskipun tak ada baunya, biasanya disertai dengan rasa gatal yang luar biasa di bagian luar inner labia," timpal Dweck.

Dweck menambahkan penyebabnya bisa beragam, mulai dari antibiotik yang dikonsumsi hingga berada di tempat yang hangat namun lembab dalam waktu lama, karena jamur suka hidup di lingkungan yang hangat dan lembab seperti itu.

3. Hijau-kekuningan dan sedikit bau

Dweck memperingatkan ini merupakan salah satu gejala dari chlamydia atau gonorrhea (kencing nanah). Gejala lainnya adalah nyeri panggul dan munculnya sensasi seperti terbakar saat buang air kecil. Namun yang paling mengkhawatirkan, kedua penyakit menular seksual ini biasanya tidak memperlihatkan gejala tertentu.

4. Keabu-abuan, tipis, dan amis

Bisa jadi ini adalah bacterial vaginosis (BV). "Aromanya adalah gejala penentu, seperti amis tapi sangat kuat," ungkap Dweck. Namun Dweck menekankan bahwa BV sangat umum terjadi pada wanita, terutama pada usia 15-44 tahun. Sayang hingga kini belum diketahui penyebab pasti infeksi ini.

5. Seperti busa, berbau tak sedap dan abu-abu atau hijau

Cairan semacam ini merupakan penanda trichomoniasis. Meskipun tergolong sebagai penyakit menular seksual, namun infeksi ini tidak mesti didapatkan dari hubungan intim.

"Karena organisme penyebabnya bisa tinggal di handuk, vibrator dan benda lain yang dipakai bersama," terang Dweck. Yang perlu diperhatikan adalah infeksi ini tidak menunjukkan gejala tertentu, baik pada pria maupun wanita.

Padahal bila tidak segera ditangani, penderita trichomoniasis, terutama wanita mudah terserang HIV dan ini bisa mempengaruhi kesehatan bayinya bila ia tengah berbadan dua.

6. Berdarah

Berbeda dengan darah haid, pendarahan yang dimaksud di sini adalah yang kerap terjadi di bulan-bulan awal setelah seorang wanita mengonsumsi pil KB, sebagai penanda tubuhnya tengah beradaptasi dengan hormon baru.

Bila warnanya merah gelap atau kecoklatan, ini hanyalah sisa dari darah menstruasi yang keluar belakangan. Akan tetapi Dweck memperingatkan, cairan darah yang keluar dari vagina juga bisa berarti munculnya lesi prakanker dari serviks, walaupun ini jarang terjadi.
Halaman 2 dari 7
Ini tandanya Anda sedang berovulasi. Cairan licin ini biasanya muncul di masa subur, untuk memudahkan masuknya sperma ke dalam tubuh wanita dan melakukan pembuahan.

"Pada sejumlah wanita, cairan yang keluar saat ovulasi sangat banyak. Ini membuat sebagian pasien saya kebingungan dan mengira ada masalah, padahal ini normal," terang Alyssa Dweck, MD, dokter ahli kandungan dari New York.

Cairan ini bisa menandakan Anda mengalami infeksi jamur, yang diakibatkan oleh pertumbuhan jamur yang tak normal dalam vagina. "Meskipun tak ada baunya, biasanya disertai dengan rasa gatal yang luar biasa di bagian luar inner labia," timpal Dweck.

Dweck menambahkan penyebabnya bisa beragam, mulai dari antibiotik yang dikonsumsi hingga berada di tempat yang hangat namun lembab dalam waktu lama, karena jamur suka hidup di lingkungan yang hangat dan lembab seperti itu.

Dweck memperingatkan ini merupakan salah satu gejala dari chlamydia atau gonorrhea (kencing nanah). Gejala lainnya adalah nyeri panggul dan munculnya sensasi seperti terbakar saat buang air kecil. Namun yang paling mengkhawatirkan, kedua penyakit menular seksual ini biasanya tidak memperlihatkan gejala tertentu.

Bisa jadi ini adalah bacterial vaginosis (BV). "Aromanya adalah gejala penentu, seperti amis tapi sangat kuat," ungkap Dweck. Namun Dweck menekankan bahwa BV sangat umum terjadi pada wanita, terutama pada usia 15-44 tahun. Sayang hingga kini belum diketahui penyebab pasti infeksi ini.

Cairan semacam ini merupakan penanda trichomoniasis. Meskipun tergolong sebagai penyakit menular seksual, namun infeksi ini tidak mesti didapatkan dari hubungan intim.

"Karena organisme penyebabnya bisa tinggal di handuk, vibrator dan benda lain yang dipakai bersama," terang Dweck. Yang perlu diperhatikan adalah infeksi ini tidak menunjukkan gejala tertentu, baik pada pria maupun wanita.

Padahal bila tidak segera ditangani, penderita trichomoniasis, terutama wanita mudah terserang HIV dan ini bisa mempengaruhi kesehatan bayinya bila ia tengah berbadan dua.

Berbeda dengan darah haid, pendarahan yang dimaksud di sini adalah yang kerap terjadi di bulan-bulan awal setelah seorang wanita mengonsumsi pil KB, sebagai penanda tubuhnya tengah beradaptasi dengan hormon baru.

Bila warnanya merah gelap atau kecoklatan, ini hanyalah sisa dari darah menstruasi yang keluar belakangan. Akan tetapi Dweck memperingatkan, cairan darah yang keluar dari vagina juga bisa berarti munculnya lesi prakanker dari serviks, walaupun ini jarang terjadi.

(lil/ajg)

Berita Terkait