Sabtu, 14 Mar 2015 15:04 WIB

Dokter Sarankan Pria di Atas Usia 40 Tahun Cek Kanker Prostat

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Getty Images) Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Laju prevalensi kanker prostat di Indonesia berdasarkan data Globocan 2012 ternyata cukup tinggi, yaitu 11,5 per 100 ribu penduduk dengan kasus baru mencapai 5.074 setiap tahunnya. Dokter mengatakan seiring bertambahnya usia maka kemungkinan pria terkena kanker prostat juga akan bertambah.

Dijelaskan oleh dr Yudi Amiarno, SpU, kemungkinan ini muncul dikarenakan ketika pria menginjak usia 40 tahun, kelenjar prostatnya akan membesar secara bertahap. Pembesaran prostat ini sendiri sebetulnya bukan kanker, namun pada beberapa pria pembesaran bisa diikuti oleh kemungkinan tumbuhnya kanker.

"Prostat setiap saat mendapatkan makanan dari hormon testosteron yang diproduksinya di buah zakar. Begitu sudah 40 tahun prostat yang mendapat hormon itu jadi sensitif, dia jadi membesar sampai bisa menekan kantung kemih," ujar dr Yudi dalam acara seminar awam kanker prostat di Gubuk Makan Mang Engking, Serpong, Tangerang, Sabtu (14/3/2015).

Oleh karena itu, pada usia tersebut dr Yudi menyarankan agar pria memeriksakan diri ke spesialis urolog. Hampir bisa dipastikan seorang pria pada usia senja akan mengalami gangguan pada saluran kencing dan dokter akan memeriksa apakah gangguan tersebut dikarenakan kanker atau yang lain.

Baca juga: Khawatir Kena Prostat? Rajin-rajin Olahraga dari Sekarang

Pemeriksaan menjadi semakin penting untuk dilakukan karena apapun penyebab gangguannya, apakah itu karena pembesaran atau kanker, gejalanya pun hampir sama. Contohnya, selalu mengejan untuk buang air kecil, aliran urine tidak lancar, dan sering terbangun untuk buang air kecil.

"Prostat menjadi masalah karena antara infeksi, membesar biasa, dan kanker itu gejalanya sama jadi jangan terkecoh," ungkap dr Yudi yang juga wakil direktur RS Tarakan tersebut.

Selain faktor usia, pria dengan riwayat keluarga yang mengidap kanker serupa, dan/atau memiliki pola makan diet berlemak disarankan untuk melakukan skrining rutin tiap enam bulan sekali. Untuk setiap pemeriksaan, dokter akan melakukan wawancara, tes protein, hingga tes dubur bila diperlukan.

"Dokter akan wawancara terus ada pemeriksaan pancaran kencing. Bapak diminta untuk kencing ke dalam alat yang nanti akan digrafikkan. Terus tidak kalah penting lagi adalah colok dubur karena bisa menentukan juga ada hemorrhoid (wasir) atau tidak," tutup dr Yudi.

Baca juga: Hindari Kanker Prostat dengan Konsumsi Tomat

(fds/up)
News Feed