Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian di Barat mengungkap bahwa terlalu banyak duduk dikaitkan dengan tingginya risiko kanker payudara pada wanita. Kali ini pria pun tak luput dari dampak buruk kebiasaan tersebut, terutama dengan alat 'perkembangbiakan' mereka.
Penelitian yang dilakukan di Amerika ini menemukan bahwa makin sedikit kegiatan fisik yang dilakukan seorang pria, makin besar risikonya untuk terserang kanker prostat.
Baca juga: Risiko Kanker Payudara Lebih Tinggi pada Perempuan yang Terlalu Banyak Duduk
Fakta ini terungkap setelah peneliti mengamati tinggi-rendahnya aktivitas fisik yang dilakukan sejumlah partisipan. Hasilnya, pria yang lebih banyak menghabiskan harinya untuk duduk berisiko mengalami kenaikan kadar PSA atau prostate-specific antigen sebesar 16 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan bahwa kebanyakan duduk akan menumpuk lemak yang pada akhirnya mengakibatkan tingginya kadar hormon testosterone dalam tubuh. Padahal bila hormon ini meninggi, jaringan organ tubuh akan meradang dan menambah resistensi terhadap insulin. Dan kondisi inilah yang dapat memicu munculnya kanker prostat.
Perlu diketahui bahwa PSA merupakan protein yang terbentuk oleh sel-sel di kelenjar prostat. Dari penelitian sebelumnya terungkap bahwa peningkatan kadar PSA dalam darah dipercaya sebagai peringatan adanya risiko kanker pada prostat. "Bahkan dulunya kalau PSA pasien ketahuan tinggi, dokter langsung menyarankan pasien untuk biopsi. Padahal ini prosedur invasif dan bikin pasien ketakutan," terang Dr Kohli.
Untungnya mayoritas dokter dewasa ini menyadari bahwa kadar PSA yang tinggi saja tidak cukup jadi indikator adanya risiko kanker. Sebab kanker bisa dipicu oleh beberapa faktor sekaligus, seperti peradangan, infeksi, atau pembesaran prostat.
Solusinya, saran Dr Kohli, perbanyak aktivitas fisik dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan tes PSA. "Mintalah dokter untuk mempertimbangkan faktor lain seperti obat-obatan yang pernah dikonsumsi, riwayat keluarga dan hasil pemeriksaan prostat," paparnya.
dr Yudi Amiarno, SpU dari RS Tarakan Jakarta pernah menjelaskan bahwa pembesaran kelenjar prostat merupakan hal yang normal, terutama pada pria-pria berusia 40 tahun ke atas. "Jadi prostat secara alami setelah 40 tahun akan membesar. Bukan karena makanan atau hubungan kelamin. Nah setelah umur 60 tahun setengah populasi pria itu akan mengeluh gangguan prostat," ujarnya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.
Namun kondisi ini memang memicu sejumlah gangguan seperti sulit kencing, selalu terbangun malam untuk kencing, dan kencing yang sulit tuntas. Nah untuk memastikan apakah pembesaran prostat yang dialami seseorang itu normal atau tidak, pemeriksaan rutin perlu dilakukan tiap enam bulan atau satu tahun sekali.
Baca juga: Dokter Sarankan Pria di Atas Usia 40 Tahun Cek Kanker Prostat
(lll/up)











































