Jakarta -
Sebagian pria masih khawatir jika sirkumsisi akan menurunkan kemampuan penis mereka saat berhubungan intim.
Padahal kalaupun terjadi penurunan performa atau sensitivitas pada kemaluan, ini tidak sebanding dengan besarnya manfaat yang didapat dari prosedur sirkumsisi itu sendiri.
Masih tidak yakin? Simak beberapa manfaat sunat bagi kehidupan seks Anda, seperti halnya dikutip dari Men's Health, Rabu (18/11/2015) berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Persiapan yang Mesti Dilakukan Jika Pria Dewasa Hendak Disunat
1. Ereksi lebih lama
Foto: thinkstock
|
Sebuah riset dari Turki mengungkap, sirkumsisi dapat memperlambat orgasme. Dari percobaan yang mereka lakukan, pria yang sudah disunat rata-rata bisa mempertahankan ereksinya 20 detik lebih lama ketimbang sebelum mendapatkan tindakan sirkumsisi.
Meskipun perbedaannya sedikit, peneliti menegaskan bahwa persoalannya bukan pada lama tidaknya ereksi didapatkan, tetapi lebih kepada manfaat sirkumsisi untuk mengatasi ejakulasi dini.
2. Mempermudah orgasme istri
Foto: thinkstock
|
Dalam sebuah riset yang dilakukan di Denmark dikatakan wanita yang menikahi pria yang sudah dikhitan lebih sering mengalami gangguan dalam hubungan intim, salah satunya sulitnya mencapai orgasme.
Kendati begitu, hal ini bukan berarti setiap wanita lebih memilih pria yang tidak dikhitan, karena kembali lagi itu berkaitan dengan preferensi pribadinya. Namun bagi sebagian wanita, kemaluan pria yang sudah disunat justru memberikan sensasi yang lebih tinggi sehingga mempermudah orgasme.
3. Risiko kanker kecil
Foto: thinkstock
|
Terlepas dari soal hubungan ranjang, sirkumsisi juga diketahui menurunkan risiko kanker penis dan prostat pada pria. Sebab foreskin atau kulup yang diangkat saat sunat rentan menjadi tempat berkumpulnya bibit penyakit seperti HPV, yang dapat memicu pertumbuhan kanker.
4. Aman dari serangan infeksi seksual
Foto: thinkstock
|
Di samping kanker, risiko serangan infeksi menular seksual seperti HIV juga berkurang setelah dikhitan. Kendati masih dalam tahap penelitian, sejumlah peneliti menduga ini karena kulup penis lebih rentan sobek saat bercinta.
"Jadi virus lebih mudah masuk ke dalam tubuh lewat bagian kulit itu. Kalau tidak karena lipatan pada kulup juga bisa menjadi tempat yang baik untuk tumbuhnya berbagai jenis bakteri dan virus," jelas peneliti.
5. Kondom tidak mudah lepas
Foto: uownow/YouTube
|
Pakar seks Debby Herbenick, PhD mengatakan, kondom yang dipakaikan pada penis yang tidak disunat memang berpotensi menimbulkan kebocoran. "Ketika dipasang, kulup tadi akan membuat kondom menjadi tidak pas. Dan saat digunakan, pergerakan penis justru membuat karet itu mudah lepas begitu saja," jelasnya.
Padahal seks tanpa pengaman tidak hanya akan memperbesar peluang kehamilan tetapi juga memudahkan penularan infeksi menular seksual.
Sebuah riset dari Turki mengungkap, sirkumsisi dapat memperlambat orgasme. Dari percobaan yang mereka lakukan, pria yang sudah disunat rata-rata bisa mempertahankan ereksinya 20 detik lebih lama ketimbang sebelum mendapatkan tindakan sirkumsisi.
Meskipun perbedaannya sedikit, peneliti menegaskan bahwa persoalannya bukan pada lama tidaknya ereksi didapatkan, tetapi lebih kepada manfaat sirkumsisi untuk mengatasi ejakulasi dini.
Dalam sebuah riset yang dilakukan di Denmark dikatakan wanita yang menikahi pria yang sudah dikhitan lebih sering mengalami gangguan dalam hubungan intim, salah satunya sulitnya mencapai orgasme.
Kendati begitu, hal ini bukan berarti setiap wanita lebih memilih pria yang tidak dikhitan, karena kembali lagi itu berkaitan dengan preferensi pribadinya. Namun bagi sebagian wanita, kemaluan pria yang sudah disunat justru memberikan sensasi yang lebih tinggi sehingga mempermudah orgasme.
Terlepas dari soal hubungan ranjang, sirkumsisi juga diketahui menurunkan risiko kanker penis dan prostat pada pria. Sebab foreskin atau kulup yang diangkat saat sunat rentan menjadi tempat berkumpulnya bibit penyakit seperti HPV, yang dapat memicu pertumbuhan kanker.
Di samping kanker, risiko serangan infeksi menular seksual seperti HIV juga berkurang setelah dikhitan. Kendati masih dalam tahap penelitian, sejumlah peneliti menduga ini karena kulup penis lebih rentan sobek saat bercinta.
"Jadi virus lebih mudah masuk ke dalam tubuh lewat bagian kulit itu. Kalau tidak karena lipatan pada kulup juga bisa menjadi tempat yang baik untuk tumbuhnya berbagai jenis bakteri dan virus," jelas peneliti.
Pakar seks Debby Herbenick, PhD mengatakan, kondom yang dipakaikan pada penis yang tidak disunat memang berpotensi menimbulkan kebocoran. "Ketika dipasang, kulup tadi akan membuat kondom menjadi tidak pas. Dan saat digunakan, pergerakan penis justru membuat karet itu mudah lepas begitu saja," jelasnya.
Padahal seks tanpa pengaman tidak hanya akan memperbesar peluang kehamilan tetapi juga memudahkan penularan infeksi menular seksual.
(lll/vit)