"Hipogonadisme adalah kondisi di mana pria-pria mengalami kumpulan keluhan karena testis tidak bisa memproduksi testosteron cukup dan bisa menyebabkan masalah pada spermatozoa," tutur dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd.
Diungkapkan dr Nugroho, testosteron diproduksi di testis sebanyak 95 persen. Sedangkan pada ginjal, testosteron hanya diproduksi sebanyak 5 persen. Hal tersebut disampaikan dr Nugroho di sela-sela Bayer Media Edukasi 'Bahaya Hipogonadisme bagi Kesehatan Pria' di Doubletree Hotel, Cikini, Jakarta, Kamis (19/11/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenis hipogonadisme yakni primer dan sekunder. Seperti diketahui, pada tubuh normalnya kelenjar hipotalamus memerintahkan testis untuk memproduksi testosteron. Namun, pada hipogonadisme primer, yang terjadi yakni testis atau 'pabrik' testostosteron tidak bisa memproduksi testosteron, meskipun sudah ada perintah dari hipotalamus.
Untuk mengatasinya, maka diperlukan pemberian testosteron dari luar karena memang 'pabrik'nya rusak. Nah, penyebab testis yang rusak bisa karena genetik alias kelainan bawaan atau pernah terjadi trauma pada testisnya seperti infeksi. Sedangan, hipogonadisme sekunder terjadi karena tidak ada perintah dari hipotalamus.
"Penyebabnya karena gaya hidup. Misalnya gaya hidupnya nggak bagus, sering stres, atau over training. Untuk mengatasinya ya dibetulkan penyebabnya apa, diperbaiki karena kalau tidak akan selalu turun kadar testosteronnya," lanjut dr Nugroho.
Berdasarkan Hypogonasidm in Males (HIM) study terhadap 2.165 pria, prevalensi hipogonadisme paling tinggi terjadi pada pria usia 85 tahun ke atas. Untuk mencegah hipogonadisme sekunder yang dipengaruhi gaya hidup, dr Nugroho menyarankan hindari stres berlebih, atur pola makan, serta olahraga teratur sesuai dengan umur.
Baca juga: Stres Vs Libido Rendah
(rdn/vit)











































