dr Hari Nugroho SpOG menuturkan kondom yang banyak didapatkan di lapangan berasal dari lateks, selain itu banyak juga pada kondom tersebut diberi bahan yang dapat memicu kematian sperma yang disebut dengan spermicides (spermisida).
"Kedua bahan tersebut dapat memicu terjadinya alergi. Sebagian besar pemakai kondom yang mengalami alergi akibat lateks, walaupun beberapa juga alergi dengan bahan spermicides," kata dokter yang praktik di RSUD Dr Soetomo Surabaya ini saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika mengalami alergi kondom, gejala alergi yang muncul sama seperli alergi lainnya. Bisa timbul gejala ringan seperti muncul bentol-bentol pada bagian tubuh yang terpapar, gatal, batuk, mata berair, bersin, dan hidung berair. Hingga reaksi alergi hebat seperti sesak, tekanan darah menurun, dan mual muntah.
Untuk mengatasi alergi tersebut, apabila gejalanya ringan, dapat diatasi denhgan konsumsi obat-obatan anti-alergi. Sebaliknya, jika gejala yang timbul berat menurut dr Hari sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit.
Menurut dr Hari, alternatif bagi yang alergi dapat menggunakan kontrasepsi metode lain atau menggunakan kondom yang tidak terbuat dari lateks. Lantas, kapan mereka bisa berhubungan intim lagi setelah istri mengalami alergi kondom?
"Apabila gejala dan keluhan sudah tidak didapatkan," kata dr Hari.
Baca juga: Pengaruh Film Porno Turunkan Minat Pria Pakai Kondom (rdn/up)











































