Jumat, 19 Feb 2016 19:35 WIB

Tipe-tipe Cedera yang Bisa Terjadi Ketika Bercinta

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: ts Foto: ts
Jakarta - Seks adalah aktivitas yang bagi sebagian orang bisa dianggap menyenangkan, menarik, atau malah berbahaya. Berbahaya karena beberapa individu bisa mengalami cedera hingga perlu dilarikan ke rumah sakit seperti yang tercatat dalam data dari National Electronic Injury Surveillance System (NEISS), Amerika Serikat.

Menurut NEISS dari tahun 2009 sampai 2014 di Amerika Serikat tercatat ada 450 cedera seks yang terjadi melibatkan objek asing. Tentu ada bentuk cedera lainnya namun memang mayoritas kejadian terjadi karena objek asing yang 'tersangkut'.

Objek yang dimaksud contohnya mulai dari mainan seks vibrator, obeng, penyedot wc, sampai pensil. Dari data yang dikumpulkan oleh Flowingdata diketahui tiga per empat pasien yang mengunjungi rumah sakit dengan objek asing ini adalah pria.

Baca juga: Tak Melulu Menyenangkan, Kegiatan di Hari Valentine Bisa Berujung di RS

"Kami melihat banyak kasus seperti ini. Pasien suka sengaja datang terlambat dan kadang bahkan ada yang tak datang meski sudah berhari-hari. Semakin lama Anda menunggu, Anda bisa terkena sepsis (infeksi fatal -red)," kata dr Robert Glatter dari Lenox Hill Hospital seperti dikutip dari MedicalDaily, Jumat (19/2/2016).

Menyusul cedera karena benda asing aktivitas bercinta juga diketahui kerap menyebabkan luka abrasi (lecet), luka laserasi, keseleo, sampai patah tulang. Hal ini biasanya diakibatkan karena aktivitas bercinta yang terlalu agresif.

"Cedera-cedera seks seperti ini bukan sesuatu yang jarang terjadi. Tapi memang tak ditemui juga setiap hari," kata dr Glatter.

dr Glatter mengatakan kebanyakan dari cedera karena bercinta umumnya mudah ditangani dan tak membahayakan nyawa. Namun perlu jarang ada pasien yang langsung mencari bantuan medis karena merasa malu sehingga memperburuk keadaan.

"Kami selalu menjaga kehormatan, privasi, dan tak menghakimi pasien. Kami hanya ingin Anda baik-baik saja. Saya pikir ini juga yang berkontribusi terhadap keterlambatan, bahwa pasien takut staf RS bereaksi negatif," tutup dr Glatter.

Baca juga: Tak Hati-hati, Sex Toys Bisa Nyangkut Lho (fds/vit)
News Feed