Jakarta -
Aktivitas seks bisa membawa manfaat untuk kesehatan fisik dan mental namun karena kesibukan kerja, perselisihan, atau alasan lainnya bukan tidak mungkin kehidupan seksual seseorang alami 'kemacetan'. Bila sudah demikian maka akan ada beberapa dampak negatif yang bisa muncul terutama untuk pria.
Apa saja contohnya? Dikutip dari berbagai sumber berikut 5 hal yang bisa terjadi ketika pria berhenti bercinta:
Baca juga: 5 Manfaat Sehat Rutin Bercinta: Atasi Sakit Kepala hingga Cegah Pilek
1. Gangguan kesehatan mental
Foto: thinkstock
|
Ketika seseorang bercinta maka ada hormon-hormon pelawan stres yang dilepaskan oleh tubuh. Oleh karena itu bercinta sering disebut obat mujarab untuk stres.
Bila seseorang berhenti melakukannya, maka bukan tidak mungkin stres jadi lebih mudah untuk menumpuk membuat gangguan kesehatan mental.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Skotlandia menemukan bahwa individu yang berpuasa seks akan lebih kesulitan untuk menghadapi situasi yang membuat stres. Hal tersebut tidak terjadi pada individu yang melakukan seks minimal seminggu dua kali.
2. Risiko kanker prostat
Foto: thinkstock
|
Kaitan antara masturbasi dan frekuensi seks seorang pria terhadap risiko kanker prostat masih jadi perdebatan. Beberapa studi seperti yang dipublikasi di American Urological Association menemukan kaitan bahwa pria yang rutin bercinta memiliki penurunan risiko kanker prostat hingga 20 persen.
Peneliti menduga kemungkinan ejakulasi yang teratur bisa mengeluarkan kandungan berbahaya pada prostat.
3. Mudah sakit
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Salah satu manfaat dari seks yang rutin adalah meningkatkan imunitas tubuh. Oleh sebab itu apabila seks macet maka seseorang akan kehilangan aspek manfaat tersebut.
Studi oleh para peneliti dari Wilkes-Barre University menunjukkan mereka yang rutin berhubungan seks minimal satu-dua kali dalam seminggu bisa memiliki immunoglobulin A (IgA) 30 persen lebih besar dari mereka yang tidak rutin berhubungan seks.
4. Tidak nyaman dalam hubungan
Foto: thinkstock
|
"Sama sekali tidak berhubungan seks dalam sebuah pernikahan dapat berdampak buruk untuk kepercayaan diri, memicu rasa bersalah, menurunkan kadar oksitosin dan hormon ikatan lainnya," kata psikolog dan penulis buku Les Parrott.
Seks wajar dilakukan oleh pasangan, sehingga bila terhenti maka bisa ada prasangka atau pikiran negatif yang timbul.
5. Risiko disfungsi ereksi
Foto: thinkstock
|
Bila penis jarang 'digunakan' maka menurut studi di American Journal of Medicine risiko untuk terjadinya disfungsi ereksi akan semakin meningkat. Alasannya karena penis adalah otot sehingga tanpa stimulasi maka perlahan bisa menyusut dan mengalami pelemahan.
Ketika seseorang bercinta maka ada hormon-hormon pelawan stres yang dilepaskan oleh tubuh. Oleh karena itu bercinta sering disebut obat mujarab untuk stres.
Bila seseorang berhenti melakukannya, maka bukan tidak mungkin stres jadi lebih mudah untuk menumpuk membuat gangguan kesehatan mental.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Skotlandia menemukan bahwa individu yang berpuasa seks akan lebih kesulitan untuk menghadapi situasi yang membuat stres. Hal tersebut tidak terjadi pada individu yang melakukan seks minimal seminggu dua kali.
Kaitan antara masturbasi dan frekuensi seks seorang pria terhadap risiko kanker prostat masih jadi perdebatan. Beberapa studi seperti yang dipublikasi di American Urological Association menemukan kaitan bahwa pria yang rutin bercinta memiliki penurunan risiko kanker prostat hingga 20 persen.
Peneliti menduga kemungkinan ejakulasi yang teratur bisa mengeluarkan kandungan berbahaya pada prostat.
Salah satu manfaat dari seks yang rutin adalah meningkatkan imunitas tubuh. Oleh sebab itu apabila seks macet maka seseorang akan kehilangan aspek manfaat tersebut.
Studi oleh para peneliti dari Wilkes-Barre University menunjukkan mereka yang rutin berhubungan seks minimal satu-dua kali dalam seminggu bisa memiliki immunoglobulin A (IgA) 30 persen lebih besar dari mereka yang tidak rutin berhubungan seks.
"Sama sekali tidak berhubungan seks dalam sebuah pernikahan dapat berdampak buruk untuk kepercayaan diri, memicu rasa bersalah, menurunkan kadar oksitosin dan hormon ikatan lainnya," kata psikolog dan penulis buku Les Parrott.
Seks wajar dilakukan oleh pasangan, sehingga bila terhenti maka bisa ada prasangka atau pikiran negatif yang timbul.
Bila penis jarang 'digunakan' maka menurut studi di American Journal of Medicine risiko untuk terjadinya disfungsi ereksi akan semakin meningkat. Alasannya karena penis adalah otot sehingga tanpa stimulasi maka perlahan bisa menyusut dan mengalami pelemahan.
(fds/vit)